Tuesday, December 12, 2017

Review buku: Menuju Jama'atul Muslimin


Herlyanti (Lya)



Menuju Jama’atul Muslimin
Telaah Sistem Jamaah dalam Gerakan Islam

Judul asli buku: ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin
Penulis: Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir
Judul buku terjemahan: Menuju Jama’atul Muslimin: Telaah Sistem Jamaah dalam Gerakan Islam. 
Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc. 
Tebal buku: xix; 429 halaman; 23,5cm 
Penerbit: Robbani Press 
Harga: berkisar antara Rp 55.000,- hingga Rp 73.000,- 


Buku ini ditulis oleh Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, M.A. (almarhum), sebagai disertasi dalam rangka mencapai tingkatan magister di Madinah. Tulisan ini dirampungkan ketika masih studi di Qism al-hadist (fakultas hadist), al-Jami’ah al Islamiyah, di Mira. Penulis berhasil meraih gelar  M.A. dengan predikat imtiyaz (excellent). Oleh karena itu, buku ini tidak perlu lagi diragukan keilmiahannya. 
Kondisi politik dan percataban pasca kejatuhan Turki Utsmani, dan penghapusan sistem Khilafah oleh Kemal Attaturk tahun 1924, menyebabkan Muslimin berada dalam periode yang terburuk. 
Tinjauan netral yang dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang sosiolog agama mengatakan “Di antara berbagai agama yang ada, Islam adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan sistem keimanannya dalam abad modern ini, tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya dalam Islam. Pemurnian dan modernisasi di satu pihak, dan peneguhan kembali identitas umat di pihak lain, dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat yang sama. Dunia Islam memang memasuki abad modern. Tetapi karena watak dasar Islam sendiri, kaum Muslimin mungkin justru menjadi kelompok manusia yang memperoleh manfaat terbesar dari kemodernan dunia. Tentunya kemodernan di sini bermakna kemajuan teknologi. Dengan kata lain, kunci keberhasilan Islam memasuki abad kegemilangannya terletak pada peneguhan kembali warisan syari’ah yang tak pernah lapuk. Kekokohan struktural harus dibagun dari bawah, serta kemampuan mengambil alih dan merebut teknologi yang dimonopoli Barat (halm. 5). 
Dengan berbagai usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam mengalami tantangan berat. Berbagai organisasi seperti Gerakan Intifadhah, Islamic Trend Movement di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordania. Begitu pula Indonesia mengalami hal yang serupa. Berbagai organisasi bermunculan, seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII. Namun sepertinya organisasi-organisasi itu tak mampu menampung aspirasi Muslimin, sehingga muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam adalah kewajiban setiap individu Muslim. 
Gejala ini menimbulkan isu jama’ah. Ada 2 kecenderungan, yaitu yang allergy dengan isu jama’ah, dan yang terobsesi dengan jama’ah. Juga muncul fenomena sempalan. Maka diperlukan kajian secara mendalam dan dewasa. Oleh karena itu, buku ini dibuat. 
Ada 3 bab dalam buku ini: 
  1. Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin)
  2. ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin (Jalan menuju Jama’atul Muslimin)
  3. Al-Jama’ah al-Islamiyyah al-‘Amilah fii Haql ad-Da’wah al-Islamiyyah (Beberapa Jama’ah Islam di Medan Dakwah)

Seperti layaknya buku ilmiah, bab 1 membahas tentang definisi. Mulai dengan pembahasan makna umat Islam, urgensi syura. Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan). Sedangkan yang terjadi sekarang adalah penilaian bahwa ajaran Islam itu semena-mena, tidak manusiawi. Sebabnya? Karena hukum Islam tidak diberlakukan secara menyeluruh di tiap aspek kehidupan. 
Mustahil Islam akan tegak tanpa ada ke-kolektifan dalam melaksanakan ajaran. Tatanan dakwah yang memadai akan memungkinkan ke-kolektifan itu terjadi. 
Maka penulis menjabarkan dengan detil tentang bagaimana Rosulullah SAW sebagai contoh tauladan kita semua mengenai pentingnya jamaah, dan bagaimana Rosulullah menerapkannya. 
Kita semua adalah da’i sebelum menjadi yang lain. Seperti yang termaktub  “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al Ashr:1-3).
Penulis menuliskan di bagian ketiga tentang 6 rambu dalam menegakkan jama’ah: 
Rambu 1: Menyebarkan prinsip-prinsip dakwah dalam sirah Nabi SAW: 
  1. Kontak Pribadi (Ittishal Fardi)
  2. Kontak Umum (Ittishal Jama’i)
Setelah itu, maka dilakukan pembentukan da’wah, yaitu kaderisasi (rambu 2). Ini merupakan penyempurna rambu pertama. Mereka yang tidak melakukan kaderisasi setelah menyampaikan dakwah tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya (Ar:Ra’d 14). (halm. 181)
Rambu 3: Konfrontasi bersenjata dalam musuh dakwah yang merupakan wewenang khusus pimpinan tertinggi dalam jamaah. Dan konfrontasi tidak dapat dilakukan kecuali setelah adanya tentara yang memadai untuk itu (halm. 204). 
Rambu 4: Sirriyah (sembunyi-sembunyi) dalam kerja membina jama’ah. Ini suatu prinsip yang sangat penting, agar jama’ah tidak dipukul pada usia bayi. Hanya menyangkut aspek penataan saja, bukan menyangkut aspek pemikiran yang harus dikemukakan (halm. 214). 
Rambu 5: Bersabar atas gangguan musuh. Yaitu kesabaran seluruh anggota jama’ah dan keberhasilan mereka meredam emosi dalam menghadapi setiap gangguan dan ejekan musuh. 
Rambu 6: Menghindari medan pertempuran. Pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Sesungguhnya menjauhkan orang-orang yang telah menerima dakwan dari tekanan penguasa yang zalim, adalah tindakan yang wajib diambil oleh jama’ah dan para da’i (halm. 223). 
Di bagian ke-4 buku ini, penulis membahas tentang: Tabiat Jalan menuju Jama’atul Muslimin. Bentuk-bentuk fitnah yang akan dihadapi oleh setiap Mu’min yang berjalan di atas jalan ini. Dan orang yang berhasil adalah orang yang dapat melintasiny, sedangkan dia tetap brada di jalannya menuju Allah SWT. Beberapa bentuk ujian menurut Sayyid Qutbh (halm. 234)
  1. Penganiayaan dari kebatilan dan para pelaku kebatilan
  2. Fitnah yang menimpa keluarga dan orang-orang yang dicintai lantaran dirinya 
  3. Pemihakan dunia kepada orang-orang yang menolak kebenaran
  4. Keasingan di tengah lingkungan karena aqidah
  5. Mendapati bangsa-bangsa dan negara-negara di duna ini tenggelam dalam kenistaan, tetapi mereka maju dan berperadaban modern
  6. Fitnah popularises dan daya tarik kehidupan dunia
  7. Fitnah lambatnya kemenangan dan panjangnya perjalanan 
  8. Fitnah kebanggaan diri dan penyadaran segala sessuata kepada dirinya setelah tercapai kemenangan. 
Lalu, di bagian akhir buku ini, penulis menuliskan beberapa contoh jama’ah mulai sejarah berdirinya, tujuan, sarana-sarana, prinsip dan pemikiran. Empat jama’ah yang dikupas adalah: 
  1. Jama’ah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah
  2. Hizbut Tahrir
  3. Jama’ah Tabligh
  4. Jama’ah Ikhwanul Muslimin.
———
Bagi saya, buku ini begitu lengkap dalam menyajikan tentang pelajaran politik Islam. Karena politik adalah hak, bukanlah momok yang mesti dijauhi dari kehidupan sehari-hari. Bukankah setiap kita juga berpolitik, menyuruh anak mandi lebih cepat juga memakai negosiasi, menawar harga di tukang jualan juga politik. Maka memisahkan politik dan ajaran agama (sekulerisasi) merupakan hal yang mustahil. Jika politik itu dikatakan kotor, itu mungkin karena pelaku politiknya, bukannya sifat politik itu sendiri.
Buku ini mengupas lengkap yang menurut saya adalah strategi perpolitikan Islam. Dilengkapi contoh-contoh bagaimana Rosulullah SAW telah melakukannya semasa beliau hidup, contoh-contoh dari para sahabat, maka seperti itulah mestinya kita tinggal meniru apa yang telah beliau lakukan sebelumnya. Jika meniru, tirulah dari yang terbaik. 
Buku ini saya rekomendasikan sebagai bacaan anak SMA. Di saat banyak pertanyaan tentang “Kenapa Islam begini, begitu.. “. Usia SMA adalah usia yang ideal untuk mengenalkan politik kepada remaja, karena di saat itulah, usia 17 tahun, hak politik mereka akan menentukan ke mana arah bangsa ini menuju.
Banyak pencerahan yang saya temukan ketika dan setelah membaca buku ini. Tentang mengapa Indonesia membantu warga Rohingya yang teraniaya karena keyakinannya dalam berIslam. 
Nilai buku: ***** (bintang lima dari level 1-5). 

Artikel Terkait

Review buku: Menuju Jama'atul Muslimin
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email