Tuesday, December 19, 2017

Makanan, Jendela Perasaan

Makanan, minuman, adalah anchor kuat tentang perasaan, dan kadang tempat. Jika ditanya apa yang saya ingat dari masa tinggal saya di Belanda, saya akan bilang, patat oorlog dan makanan Indonesia take away dari restoran Indonesia. 

Sekedar kentang goreng, dicampur dengan saus kacang, mayo, dan sambal. Sederhana. Tapi ada yang beda di kentang gorengnya. Kentangnya dipotong agak besar, walau bentuknya memanjang sama seperti kentang goreng biasa. Kentang goreng ini bukan sekurus kentang goreng (french fries) yang banyak disediakan di fast food restoran. 

Ada artikel ringan tentang apa yang membuat orang memilih makanan tertentu. Apakah asin, apakah manis, pedas. Kondisi emosi bahkan juga bisa menentukan pilihan makanan di saat tertentu. 

Ada suatu scene di The Mentalist, ketika Patrick Jane diminta untuk menyelidiki alasan terbunuhnya seorang pekerja dalam suatu ledakan mobil. Dari beberapa aspek yang dilihat, ternyata menemui jalan buntu. Pendekatan Patrick Jane yang selalu out of the box, maka Patrick menanyakan tentang menu apa yang dimakannya beberapa saat sebelum bom meledak di mobilnya. 

Dan ternyata, menu itu yang menjadi kunci pembuka rahasia terungkapnya penyebab kematian. Korban meninggal karena bunuh diri. Memasang bom waktu di mobilnya sendiri. Patrick mempelajari timeline yang menunjukkan bahwa korban makan sendirian selama 3 jam dan memesan burger, ice cream, dan kawan-kawannya. 

Dari makanan yang dipesan dan hobi korban yang menyukai samurai, Patrick dapat menyimpulkan bahwa korban bunuh diri. Alasannya? Dari makanan yang dipilih. Hihihi.

Kalimat yang dikatakan Patrick tentang menu yang dipilih korban “It’s all comfort food. He kills himself”. Penyelesaian misteri terkuak dari menu makanan terakhir. Hohoho. Ajaib. 

Kembali lagi di tulisan saya di atas: Pilihan makanan berhubungan dengan kondisi emosi. 

Jika saya rindu Belanda, maka yang terbayang adalah patat oorlog. Rasanya yang seolah-olah ada di ujung lidah. Dan gambar patat oorlog yang begitu jelas berwarna. Dan sensatie ketika memakannya. Belepotan dari saus yang bercampur 3 warna di kertas putih packaging patat oorlog

Dan entah kenapa saya yakin bahwa pasti bukan hanya sekali pilihan makanan ditentukan kondisi emosi. Maka pagi ini, ditemani segelas white coffee, pisang, dan coklat. Saya kembali menanyakan ke diri. Kondisi emosi apa yang saya rasakan pagi ini yang membuat saya memilih makanan-makanan tadi? 


Selamat pagi! 

Artikel Terkait

Makanan, Jendela Perasaan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email