Tuesday, December 26, 2017

Follower, Penguji Keikhlasan

Sebagai co-author dari buku bertajuk Resep Ampuh Membangun Sistem Bisnis Online, yang terjual lebih dari 8000 eksemplar di masa pre-ordernya, saya mempunyai konsekuensi logis untuk membuat wadah online untuk berinteraksi dengan para pembaca. 

Saya diminta oleh penerbit untuk membuat "kolam", dan saya memutuskan pada tanggal 6 November 2017 lalu saya membuat channel di Telegram, setelah grup di Telegram yang sudah saya buat sekitar bulan Maret lalu tanpa ada penambahan member yang signifikan. 

Kenapa channel Telegram selain grup Telegram yang ada ?

  • Channel Telegram berlaku informasi 1 arah. Saya bebas memberikan materi. Memudahkan para pembaca untuk scroll, karena tidak ada selingan chat sama sekali. 
  • Fasilitas ini tidak dimiliki oleh platform sosmed lainnya yang saya gunakan, dalam hal ini Whatsapp. 
  • Mengapa tidak grup Facebook? Grup Facebook "mengharuskan" member untuk memeriksa grup. Sedangkan di Telegram, akan ada notifikasi, dan langsung mendekati pengguna. Lebih dekat. 
  • Kapasitas channel Telegram yang bisa lebih dari 5000 member. Saat ini, di salah satu channel Telegram yang saya ikuti, membernya sudah hampir menyentuh angka 100.000 member. Di Whatsapp hanya mampu menampung 256 orang di satu grup. Tanpa ada channel. 
  • Saya belajar menulis pendek secara konsisten. Hal ini merangsang otak saya untuk terus berpikir tentang tulisan pendek yang diharapkan mampu membantu para pembaca untuk memikirkan tentang sistem bisnisnya.
Alhamdulillah sudah lebih dari 30 hari saya menulis di channel t.me/BelajarBarengLya. Yang ingin saya tuliskan di sini ialah tentang godaan follower/member dalam keikhlasan.

Pernah suatu kali, member saya sudah hampir menyentuh angka 500. Tinggal sedikit lagi maka akan menyentuh 500. Saya optimis channel saya bisa membantu lebih banyak orang lagi dan mengikuti jejak-jejak pendahulu seleb Telegram yang saya ikuti. 

Dan suatu hari, saya melihat ada beberapa banyak member yang keluar, sehingga angka member kembali ke angka 450-an. Apa yang saya rasakan saat itu?

Kecewa, sedih, merasa tidak bermanfaat, dan tidak semangat dalam menulis di channel. Saya merasa bahwa ilmu saya tidak layak, sehingga orang keluar dari channel saya yang tidak bermanfaat ini. 

Astaghfirullah. 

Bukankah saya menulis bukan untuk itu? Bukankah saya ingin menulis untuk membagi sedikit ilmu yang saya punyai? "Kolam" yang saya bikin itu semuanya suka-suka member. Mereka punya hak untuk keluar dan masuk ke channel sesuka hati mereka. Jika memang tidak bermanfaat, ya mereka bisa saja keluar. Tidak ada paksaan. 

Astaghfirullah. 

Jumlah follower itu, penguji keikhlasan dalam saya berbagi. Apakah saya akan surut jika sedikit? Apakah jika banyak saya akan jumawa? 

Astaghfirullah.

Ujian keikhlasan. Saya menulis untuk mengikat ilmu. Jika dirasa bermanfaat alhamdulillah.

Saya ingat suatu saat ustadz Nouman Ali Khan, mengatakan di salah satu videonya bahwa beliau tidak terpengaruh apakah muridnya (yang menonton beliau) hanya 1 orang, ataukah 100, ataukah 1000. Karena beliau adalah guru. Guru tidak peduli dengan crowd. Kurang lebih seperti itu.

Saya terhenyak.

Astaghfirullah. 

Setelah beberapa hari saya vakum menulis di channel, saya kembali teringat tujuan saya dalam menulis. Meluruskan niat. Menjaga keikhlasan.

Masyaallah. Dunia memang hanya senda gurau, hanya hiasan, hanya tempat bersiap sebelum meninggal. Bismillah, luruskan niat kembali. Wahai follower, sesungguhnya kau hanyalah penguji keikhlasan, bukan bukti ketenaran. 


Artikel Terkait

Follower, Penguji Keikhlasan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email