Sunday, December 10, 2017

Berpayah-payah Kewajiban, Bersenang-senang Kemudian

Kita sering diajari untuk melakukan kewajiban sebelum meminta hak. Saya sering diajari seperti ini. Menjadi sebuah belief dalam melakukan banyak hal. Contohnya ketika pekan ini, saya dan beberapa kawan diminta untuk hadir dalam rangkaian kegiatan bedah buku. Tidak banyak orang yang diundang, karena ini merupakan bedah buku tanpa menghadirkan penulisnya yang sudah wafat. Semacam acara review buku bersama-sama. 

Buku yang dibahas bukan santapan harian saya. Jika diibaratkan makanan, buku ini mengandung lebih banyak gizi, lebih berat dari kebiasaan materi buku bacaan saya sehari-hari. Dan itu menjadi seolah momok, tanggung jawab lebih berat dari biasanya. 

Ketika buku yang diminta review nya belum saya selesaikan, itu seolah mempunyai kewajiban yang belum selesai. Dan itu semacam mimpi yang menghantui. Berhari-hari saya membaca halaman per halaman yang ternyata penting sehingga saya membutuhkan stabilo untuk menggarisbawahi hal-hal super penting.

Syukurlah tadi pagi hingga siang, acaranya ini sudah terlaksana. Walau belum tuntas membacanya, saya percaya diri untuk menyampaikan pendapat. Dan setelah acara ini selesai, rasanya lega, plong. Seperti terlepas beban yang ada di pundak. Sehingga ringan rasanya badan dan pikiran. Lalu saya bisa tidur siang dengan tenang. Hahaha.

Beberapa hal yang dapat saya ambil pelajaran dari ini: 
1. Ketika kewajban dilakukan terlebih dahulu, waktu terasa lebih banyak, tidak tergesa-gesa, pada akhirnya, lebih tenang yang mana akhirnya berimbas pada kesabaran dan ketidakemosionalan.

2. Buku mempunyai hak untuk dibaca. Dan jika haknya diberikan, maka buku itu diam dan berterima kasih. Tugasnya untuk memberikan ilmu yang kita butuhkan sudah selesai. Maka tiap kali kita melewati rak buku, dia tak akan memanggil-manggil lagi. Dan tak akan menjadi sebuah pe er baru untuk mesti dikerjakan. 

3. Istirahat sangatlah penting. Sayangnya itu hanya bisa dilakukan dengan nikmat ketika kewajiban selesai ditunaikan. Semakin menunda pekerjaan, maka semakin lama waktu istirahat tiba. Dan semakin lama waktu istirahat tiba, semakin lelah pikiran karena memikirkan istirahat yang tak kunjung tiba. Ini seperti lingkaran setan yang cara memutusnya sangat mudah dan terlihat jelas. Lakukan kewajiban. Do what we have to do

Kembali lagi saya berpikir, malas adalah kawan seperjalanan jika ingin terus menerus spanneng, stress. Sedangkan rajin, tekun, disiplin, adalah kawan seperjalanan jika ingin tenang, produktif. Mana yang saya pilih, kadang kali salah. Tapi bukankah kita menghargai proses istiqomah? Semoga ini bukan hanya alasan pembenaran kemalasan saya. Hohoho.

Baiklah, mari menjadikan hidup kita seperti tulisan di kalender:
Tiada hari tanpa prestasi 
Menunda-nunda adalah menghabiskan waktu dan tenaga 


Siap-siap untuk 2018. Yeay! 

Artikel Terkait

Berpayah-payah Kewajiban, Bersenang-senang Kemudian
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email