Monday, December 18, 2017

5 Alasan Mengapa Belanja di IKEA

Manusia seringkali menginginkan apa yang belum dimilikinya. Entah itu bagian dari rasa bosan, rasa kurang bersyukur, atau hanya tamak. Itulah mengapa sering dituliskan: rumput tetangga tampak lebih hijau dibanding rumput di kebun sendiri.

Kali ini, saya belajar pada seorang kawan yang saya kenal ketika masih di Belanda. Kawan ini orang Belanda asli yang menjadi suami dari sahabat saya. Ceritanya, mereka berkunjung ke rumah saya tahun lalu ketika mereka mudik ke Indonesia. 

Ada satu meja di ruang keluarga yang menurut saya sudan old-fashioned. Ketinggalan zaman. Terbuat dari kayu jati dengan 2 laci. Meja kayu yang tak lebih dari 2 meter ini ada di antara 2 sofa yang berwarna senada. Sahabat saya dan suaminya duduk di seberang meja, dan saya ada di sofa mendekati pintu keluar. 

Ditemani secangkir teh, kami berbincang tentang banyak hal. Kemacetan jalan tol, Bandung, Indonesia, politik, dan akhirnya kami berbincang tentang IKEA. Siapa yang sekarang tidak kenal IKEA? Perusahaan asli Swedia yang menawarkan konsep berbelanja furnitur dengan cara menyenangkan. IKEA adalah tempat pelarian saya dan banyak kawan dulu ketika kami ingin cuci mata, dan sekedar membeli barang-barang dengan harga terjangkau bagi mahasiswa perantauan dengan gaji part time apa adanya. Walau itu cuma pot tanaman, gorden kamar mandi, sprei, yang penting ada tulisan IKEA tertera, kami sudah cukup bahagia saat itu. 

Sekembalinya ke Indonesia, waktu itu IKEA masih belum ada. Salah satu tempat paling dekat untuk menikmati IKEA dalah di Singapura. Kenapa IKEA menjadi pilihan? Banyak hal. Kawan saya yang lain mengatakan IKEA mengakomodir para pria untuk bermain lego seukuran 1:1. Hehehe. 

Beberapa kelebihan IKEA dibanding toko furnitur sejenis: 
  1. IKEA menggandeng banyak desainer. Barang-barang yang dijual di IKEA, didesain dengan seksama. Selain fungsi, juga estetik. Menggabungkan antara desain & fungsi. 
  2. IKEA mempunyai pricing policy yang menyenangkan pembeli. Prestasi bagi IKEA bukanlah ketika mereka berhasil menaikkan harga jual. Justru sebaliknya. Ketika mereka bisa menurunkan harga jual, mereka dengan bangga mengumumkannya di katalog. Prestasi adalah ketika harga jual turun.  
  3. IKEA menawarkan pengalaman berbelanja 3D. Memuaskan indera penglihatan dengan menata “jualannya” seolah itu menjadi ruangan di rumah. Contohnya, merken akan men-set up rang tamu sebagai rang tamu, yang berisi barang-barang ynag mereka jual. Lampunya, kursinya, sofanya, meja, bantalan kursi, hingga gelas. Seperti yang kita semua pelajari bahwa ketika orang mendapatkan pengalaman, maka pengalaman itu lebih melekat. Bahkan hingga desain dapur, kamar mandi, kamar anak, semua dibuat persis sama seperti katalog. 
  4. Memasuki IKEA bagaikan memasuki negeri dongeng dan pembeli terhipnotis di dalamnya untuk mempunyai ruangan sama persis dengan yang ada di toko. Memudahkan bagi pembeli yang kurang kuat kemampuan desain visualnya untuk memadu padankan pembelian barang. Katalog menjadi nyata. 
  5. Memudahkan. Konsep IKEA memadukan antara pengalaman berbelanja, restoran dengan makanan dengan harga terjangkau, gudang yang membuat orang merasa “in control”, hingga  cara bawa percatan yang mudah, cara perakitan barang mudah, step by step. 

IKEA menjadikan berbelanja menyenangkan seperti bermain. Dan ketika pembeli bermain, have fun, apakah mereka akan mengingat IKEA untuk belanja furniture selanjutnya? Jawabannya PASTI IYA!

Artikel Terkait

5 Alasan Mengapa Belanja di IKEA
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email