Wednesday, November 29, 2017

Tiga Pola PIkir Positif yang Menenangkan, versi Saya


Dalam berinteraksi sehari-hari, ada hal yang kadang sesuai dengan keinginan kita, tapi kadang juga sebaliknya. Atau malah lebih sering sebaliknya? Hehehe. 

Dan ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, tentu sebagai makhluk survival, kita akan melindungi kepentingan kita. Melihat hal yang terjadi sebagai kerugian, kesalahan pihak lain, dan akan banyak pembelaan yang dilakukan. Tujuannya? Melindungi kepentingan diri. Wajar. Manusiawi. 

Tapi ternyata, ada orang yang mampu bereaksi berbeda terhadap kejadian yang sama. Melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya. Ia tak melihat dirinya sebagai korban keadaan, melainkan ya sudah, ini sudah terjadi. Maka apa yang bisa dilakukan sebagai solusi.

Tak berpanjang memberi jeruk nipis pada pikiran. Saya pernah menulis ini beberapa waktu lalu, tentang kekuatan pikiran. Bahwa kejadian menjadi lebih dramatis jika ditambahkan bumbu-bumbu kejadiannya. Itu terjadi di dalam pikiran. Contohnya begini: 

Motor mengeluarkan bunyi yang tidak biasanya. maka akan segera dibawa ke bengkel. Simple, tanpa drama. Biasanya solutif. 

Jika ditambah jeruk nipis, alias drama-drama, maka ketika motor mengeluarkan bunyi aneh, orang bisa bereaksi “ya ampun, baru juga dari bengkel, sekarang rusak lagi. Kenapa sih ini motor.” Dan lain sebagainya, dan seterusnya. Maka reaksi yang muncul berlebihan. Berlebihan dari apa? Dari kenyataannya. 

Kenyataannya memang orang A menyebalkan. Melakukan hal yang tidak sesuai dengan perjanjian, misalnya. Tapi ya sudah. Itu sudah terjadi, dan sekarang fokus pada solusi. Apa yang bisa dipelajari dari kejadian yagn sudah terjadi? Bukankah suatu kejadian terjadi semua atas izin Allah SWT?

Ada beberapa pikiran yang menenangkan saat saya menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan: 
  1. Semua terjadi atas izin Allah. Bersatu jin dan manusia untuk memberikan kemudharatan, maka tyda akan terjadi selama Allah tidal mengizinkan terjadi. Pun sebaliknya. Bersatu jin dan manusia untuk memberikan manfaat, namun Allah tidak mengizinkannya, maka takkan sampai manfaat itu pada diri. 
  2. Selalu ada niat baik dari semua perilaku. Kalaupun peristiwa itu tyda mengenakkan, tentu ada masked bank yang tersembunyi di balik perilaku orang tersebut. Bagaimana cara mengetahuinya? Dengan mencoba berpikir sebagaimana orang tersebut berpikir. 
  3. Reaksi kita lebih penting daripada kejadian. Seringkali perilaku kita adalah reaksi dari aksi orang lain. Wajar. Manusiawi. Tapi rata-rata. Bukankah kita yang akan menentukan reaksi terhadap apapun yang trejadi? Bukankah reaksi kita adalah dalam kendali kita? Jika hidup kita dipenuhi oleh reaksi-reaksi dari aksi orang lain, betapa lelahnya. 

Apakah selalu saya bisa seperti ini? Jawabannya tidak. Namun saya berusaha. Katanya orang yang beruntung ialah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Maka tiap harinya mesti diusahakan untuk lebih baik dari sebelumnya ya kan? 


Itu versi saya, bagaimana versi Anda? 

Artikel Terkait

Tiga Pola PIkir Positif yang Menenangkan, versi Saya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email