Wednesday, November 22, 2017

Tentang Informasi, Tentang Belajar

Kadang kita menemukan keyakinan, kekuatan, setelah berbincang dengan kawan. Kawan yang mampu memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Sudut yang jujur namun memberdayakan. 

Ceritanya pagi ini, saya tertarik untuk mengikuti salah satu workshop. Workshop tentang desain. Apakah ini sekedar ikut-ikutan? Saya tidak yakin. Tapi memang ada kawan yang merekomendasikan workshop ini. Salah satu guru saya memudahkan pilihan dengan membuat kriteria. Dan bagi saya, salah satu yang membuat saya memilih untuk mengikuti workshop ialah apakah skill yang ditawarkan workshop itu akan mendukung kehidupan saya, baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan.

Setelah saya timbang-timbang, workshop itu akan meningkatkan skill saya di salah satu bidang yang menurut saya masih belum jago. Masih buta, tapi ingin belajar. Jadi jika skala 1-10, di mana 10 adalah tertarik sekali hingga saya transfer, ketertarikan saya masih ada di angka 6. Dan butuh 10 untuk meyakinkan diri saya untuk meng-iyakan workshop. Maka saya bertanya pada kawan saya ini dan ternyata saya mendapat referensi yang OK tentang manfaat workshop ini. Namun, angka masih bergerak ke 7. 

Lain halnya dengan salah satu workshop yang akan dihadiri suami beberapa waktu ini. Workshop ini awalnya di angka 6, belum terlalu urgen. Dibutuhkan untuk perkembangan bisnis yang sedang kami jalani, namun dirasa akan belum berefek langsung pada omzet. Sehingga saya meletakkan workshop itu di kolom: Penting, Tidak Mendesak. 

Dengan satu informasi saja, workshop itu pindah ke kolom: Penting, Mendesak. Dan kemudian saya dan suami memutuskan untuk mengikutinya. Apa informasi itu yang menyebabkan dari angka 6 langsung menjadi 10?  

Informasi itu berisi kurang lebihnya begini:
“Workshop ini adalah workshop terakhir. Setelahnya, tidak akan ada kelas basic, dan hanya ada kelas lanjutan dari kelas basic. Walau belum mencapai target sebanyak 1000 alumni, namun kami akan fokus memberikan materi lanjutan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para alumni.”

Wow! Kelas terakhir! 

It’s now or never! Sekarang atau tidak selamanya. Saya lalu menimbang-nimbang antara keuntungan yang akan didapat karena menjadi alumni dari komunitas eksklusif (ya, kan tidak akan ada kelas basic, jadi ya jumlah alumni tidak akan bertambah setelah kelas terakhir ini, kan?). Dan betapa ruginya jika saya tidak ikut serta dalam golongan itu, maka suami dan saya segera memutuskan untuk ikut dan segala keperluan disiapkan. 

Cerita selanjutnya tentang informasi yang saya berikan kepada kawan saya mengenai workshop yang akan dia ikuti Desember nanti. Dia takut nanti akan tidak memahami materi dan takut jika kawan-kawannya terlalu serius. Hehe. 

Apa yang saya lakukan untuk meyakinkannya agar makin membulatkan tekadnya? Saya mengatakan jujur apa adanya bahwa di awal akan ada perasaaan “kok aku gak ngerti ya?”, “kok dia ngerti duluan ya?”. Saya katakan bahwa saya dan kawan-kawan sekelas dulu merasakan hal yang sama. Kuncinya hanyalah bersabar. Bukankah seperti itu fitrah belajar? 

Menurut saya, fitrah belajar ialah kita akan merasa kesulitan memahami pada awalnya, memahami  ilmu sebatas wawasan. Lalu seiring kita praktek, maka teori tadi terejawantahkan dalam praktek, dan ketika praktek, maka ilmu tadi terserap, tak lagi semata wawasan. Dan akhirnya ilmu itu akan menjadi darah dan daging hingga nanti sampai pada level Unconscious Competence. Kompetensi yang tidak disadari, otomatis, dan menjadi reflek. 

Salah satu guru saya sering mengatakan ungkapan terkenal: Fake it, till you make it. Sama seperti nasihat untuk bersabar. Ya kalau belum sabar, pura-pura saja dulu jadi orang sabar. Teruslah berperan seperti itu, hingga akhirnya sabar itu menjadi bagian dari diri. 
Alhamdulillahnya, kawan saya tadi merasa makin bulat tekadnya untuk memulai kelasnya Desember nanti. Dari percakapan ringan, muncul informasi, muncul keyakinan, muncul tindakan! 

Selamat belajar! 



Artikel Terkait

Tentang Informasi, Tentang Belajar
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email