Thursday, November 23, 2017

Tentang Ayam dan Takdir

Apa hubungannya antara ayam dan takdir? Jauh tapi ada. Setidaknya ini yang saya alami. Kisah 3 ekor ayam, yang mengajari saya tentang takdir. 

Saya yakin Anda penasaran. Maka saya akan memulai kisah ini…

Alkisah, anak saya diminta membawa binatang ke sekolah. Sudah ada ikan di rumah kami, dan saya mengusulkan agar ia membawa beberapa ekor ikan. Mudah. Sayangnya anak saya begitu inginnya membawa 2 ekor ayam. Yang mana artinya kami harus beli dulu di toko hewan dekat rumah. Anak saya sepertinya pensaran memelihara ayam, karena dulu pernah memelihara 2 anak ayam, sayangnya mati hanya dalam hitungan hari. Sejak itu, keinginan untuk memelihara ayam tak pernah padam. 

Setelah melalui lobi-lobi tingkat tinggi, maklum saja, anak saya mirip sekali dengan saya, kata suami saya. Hahaha. Agak menantang untuk berdiskusi dan menemukan kesepakatan dengannya. Baru umur 8 tahun saja sudah begini, tampaknya perlu diarahkan ke Hubungan Internasional. Haha. 

Maka dicapailah kesepakatan untuk membeli 2 ekor anak ayam untuk dibawa ke sekolah. Sesampainya di toko hewan, saya kebingungan dengan apa membawa anak ayam itu. Masa ditaruh di kresek? Kan kasihan. Akhirnya saya membeli kurungan kecil, muat untuk 2 anak ayam yang besarnya hanya sekepalan tangan. 

Sepulang dari sekolah, anak ayam itu dibawa dan entah kenapa dikeluarkan dari kurungannya. Maka salah satu kucing yang sering nongkrong di rumah kamipun menerkam 1 ekor ayam itu, tepat di saat itu, anak saya menyaksikannya. Dia shock dan berteriak memanggil abinya. 

Karena pengalaman dengan matinya 2 ekor ayam terdahulu, suami saya menyuruh saya membeli 1 ekor ayam lagi agar si ayam tidak kesepian lalu ujung-ujungnya mati. Hehe. 

Satu bulan berlalu, ayam-ayam itu mulai membesar dengan segala kegaduhannya. Yang buang air sembarangan lah, yang ngejar anak sayalah, yang sampai menyebabkan bau gak karu-karuan hingga mengganggu tetangga lah, yang tiba-tiba loncat ke jendela kamar, untung belum di atas kasur. Haha. 


Hingga kemarin, kami memutuskan untuk memotong ayam-ayam itu. Sayangnya tidak ada yang berani melakukannya. Hahaha. Ya ya, we are chicken kalau urusan sembelih menyembelih. Ibu mertua saya berniat membawa kedua ekor ayam itu ke Jakarta, agar disembelih Abah. Keputusan sudah diambil.

Esok paginya, sebelum ibu mertua saya pulang, pagi-pagi jam 5, nasib ayam sudah di ujung pisau. Akan dibawa ke Jakarta, dan disembelih. Tapi ternyata itu hanya rencana! 

Ayam hilang satu ekor! 

Hahaha, entah pergi ke mana dia. Kami berkeliling rumah mencarinya. Hanya ada 1 ekor yang ada. Kami panggil-panggil, tidak muncul juga dia. Saya berkesimpulan dia diambil orang, tapi kok tidak ada suara aneh-aneh semalam. Sampai malampun tidak ada itu ayam. Hingga akhirnya ibu mertua saya pulang ke Jakarta dengan tangan hampa. Kami sempat sedih. Saya hendak lapor pak RT. Rasanya sedih kehilangannya. Jadi sepi. Saya berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Jadi terasa lagi kesedihan kehilangan peliharaan. 

Di tengah kesabaran itu. Tiba-tiba ayam itu muncul lagi pagi ini! Ajaib! Sayangnya saya tidak bisa mengorek keterangan dari mana saja dia pergi sampai tidak pulang seharian. Haha. 

Tapi saya jadi berpikir. Apakah dia memahami pembicaraan kami, lalu dia menghindari takdir kematiannya dengan melarikan diri? Ataukah memang belum takdirnya untuk mati kemarin? Sehingga secara kebetulan dia melarikan diri? 


Artikel Terkait

Tentang Ayam dan Takdir
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email