Friday, November 17, 2017

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?

Dalam NLP ada hal yang dikenal dengan pemilihan kata akan mempengaruhi gambaran tentang kata, karena tiap kata memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Maka pilihan kata menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kata adalah wakil dari apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, sering kali ustadz kenamaan, Aa Gym seringkali berkata “teko hanya mengeluarkan isi teko”. 

Hal ini berlaku luas, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, namun juga dalam pemliihan kata yang dilakukan dalam kegiatan bisnis. Hal ini saya amati dalam interaksi saya dengan tim bisnis tertentu. 

Alkisah, kami sedang meeting. Dan di meeting itu seringkali disebut tentang “buku lama”. Tiap anggota meeting menyebut “buku lama” kepada buku yang sedang tidak dalam proses produksi. Hal ini tentunya menggelitik saya. Memangnya bukunya selama apa? Tahunan? Bulanan? 

Yang saya amati dari kata “buku lama” adalah omzet penjualan yang buruk, tidak ada antusiasme, dan hal-hal yang tidak sebanding ketika mereka menyebutkan “buku baru”. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya antara pemilihan kata dan omzet? Haha, terlalu dini untuk disimpulkan. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Yaitu tentang perubahan kata yang digunakan untuk memaknai satu hal bisa mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi. 

Di meeting yang mana saya terganggu dengan penggunaan kata itu, saya mengusulkan untuk menggantinya menjadi “buku ready stock”. Lha memang kenyataannya bukunya sudah ready stock. Secara harfiah, sudah ada di stok gudang, dan tidak dalam proses produksi. 

Peserta meeting pun berlatih untuk mengganti kata “buku lama” menjadi buku “ready stock” di meeting itu. Awalnya susah. Namun ketika diingatkan tentang “eits… buku ready stock”. Mereka dengan sigap merevisi apa yang baru saja diucapkan. 

Setelah itu, saya meminta peserta meeting membuat ranking buku yang terjual selalu dengan baik walau sedang “tidak musim”nya. Kenapa saya katakan musim? Karena tipe bisnis yang sedang dijalankan pada saat itu ialah, dalam sebutan saya, berlari bersama perubahan. Artinya, yang sedang tren itulah yang digarap.

Peserta meeting membuat urutan rangking atas omzet penjualan buku “ready stock”. Dan ternyata hasilnya lumayan. Setelah dibedah, ternyata ada hubungannya antara pemilihan tema dan salah satu tools di NLP yang akan saya bedah nanti. Tunggu saja di artikel berikutnya atau yang berikutnya lagi. Karena saya sedang membiasakan diri menulis 1 artikel per hari. Selain meladeni tantangan, juga membuat pola kebiasaan diri agar novel yang sudah 100 halaman itu segera bisa dinikmati banyak orang. Hahaha. 

Nah, sehubungan dengan kebiasaan. Akhirnya peserta meeting mengubah penggunaan kata “buku lama” menjadi buku “ready stock”. Ketika saya bertemu mereka sekitar 2 Minggu setelahnya, sudah tidak ada lagi kata “buku lama” yang terlontar dari mulut mereka. Hehehe. Apakah pembiasannya berhasil? Semoga! 

Apa sebenarnya yang saya harapkan dari perubahan penggunaan kata itu? 

Saya ingin peserta meeting tidak berpikiran sempit lama vs baru. Karena seperti yang saya baca di  buku terbitan penerbit tertentu, “tidak ada buku lama jika kau baru saja membacanya” atau semacam itu. 

Yang ada hanyalah buku “ready stok” yang nantinya fast moving dan slow moving. Buku ready stock yang musiman, ataukah yang dibuat last long. Dan hal ini nantinya akan berdampak pada strategi penjualan, target captain omzet, dan waktu yang dibutuhkan. 

Kata siapa NLP hanya bisa digunakan di kehidupan sehari-hari? Ternyata buktinya NLP bisa digunakan di dunia bisnis. Saya jadi penasaran dengan apa saja strategi yang dapat diulik dengan menggunakan teknik-teknik NLP untuk melejitkan omzet dan meroketkan profit. 


Baiklah. Sekian dulu yang saya sampaikan. Sampai jumpa di artikel esok hari. Tinggalkan komen tau add saya di Telegram: @Lya_Herlyanti. 

Artikel Terkait

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email