Thursday, November 30, 2017

Melepaskan Kecanduan (bagian 1)

Addiction. Kecanduan. Tidak hanya pada pengguna rokok dan narkotika. Kecanduan juga bisa terjadi pada orang “normal” yang tampak sehat. 

Saya pernah membaca di salah satu artikel tentang bagaimana mengetahui apakah kita sedang kecanduan atau tidak. Contoh di artikel itu ialah tentang orang dewasa yang kecanduan gawai. 

Bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling sosial media. Jualan tidak, hanya stalking saja. Untuk apa? Ya memang itu hobinya.

Saya jadi berpikir, apa bedanya antara kecanduan dan hobi. 

Mungkin tipis perbedaannya.

Menurut KBBI: 
hobi/ho·bi/ n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama: melukis itu sebagai -- saja, bukan sebagai mata pencahariannya;

kecanduan/ke·can·du·an/ v ki kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yang lain): kelihatan menonjol ~ nya pada segala macam permainan: banyak pemuda yang sudah ~ morfin

Maka, bisa saja dari hobi beralih menjadi kecanduan. Tapi kecanduan ini bukan kata benda. Sedangkan hobi adalah kata benda, mari kita lihat apa yang dikatakan KBBI tentang candu. 

candu/can·du/ n 1 getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah Papaver somniferum, dapat mengurangi rasa nyeri dan merangsang rasa kantuk serta menimbulkan rasa ketagihan bagi yang sering menggunakannya; 2 cairan kental berwarna hitam yang keluar dari rokok yang diisap yang melekat pada pipa; 3 ki sesuatu yang menjadi kegemaran;

Nah, setelah sama-sama menemukan kata bendanya. Maka kita bisa lanjutkan sekarang. Bagaimana mengatasi kecanduan? 

Saya bukan psikolog, maka tidak mampu melihat masalah ini dari sisi psikologi secara teori maupun praktik. Yang saya mampu tuliskan adalah hasil belajar ditambah pemahaman saya dari sudut pandang NLP. 

Candu, bisa merupakan benda atau kegiatan yang membuat ketagihan, karena efek dari pemakaiannya yang menimbulkan kesenangan atau kebahagiaan. Terlepas dari berapa lama efek itu terjadi. Merokok, katanya menimbulkan rasa tenang, ya selama menghisap rokok, setelahnya ya, bisa jadi uring-uringan kembali. Maka, bagi orang yang menemukan rasa tenang di rokok, ya akan mencari rasa tenang itu lagi dan lagi. Ketika membutuhkan rasa tenang, yang diingatnya adalah kegiatan merokok. Ya kan? 

Dalam contoh ini, maka anchor nya adalah rokok. 

Sama dengan ketika orang ketagihan makan manis sebagai pelampiasan emosinya. Emotional eater. Makan bukan karena butuh, melainkan karena keinginan. Makanan manis mampu membantu orang tersebut menemukan ketenangan, kebahagiaan. Mungkin sementara, tapi ini bukan masalah. 

Lalu, bagaimana melepaskan anchor? Berproses ya.. 


Pertama: Mencari makna dari anchor itu. Menggali diri, apa yang sebenarnya didapat dari candu tersebut? Misalnya, kesenangan, kebahagiaan, adrenalin. Menjawab ini artinya benar-benar mengenali diri. Apa yang sejatinya, sesungguhnya didapat dari pemakaian candu itu?

Kedua: Melepaskan anchor. Jika sudah terjawab pertanyaan pertama, maka selanjutnya, melepaskan anchor itu dengan meluruhkan sedikit demi sedikit.

Contohnya seseorang kecanduan rokok, maka ketika dia melihat asbak, tentu yang terbayang adalah rokok. Selanjutnya adalah terasa kenikmatan merokok. Oleh karena itu, jika ingin melepaskan dari kecanduan, ya menghilangkan hal-hal yang berhubungan yang dapat mengingatkan tentang candu tersebut. 

Poin berikutnya kita lanjutkan esok hari insyaallah. 



Artikel Terkait

Melepaskan Kecanduan (bagian 1)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email