Saturday, November 18, 2017

Lihat, Dengar, Rasakan (bagian 1)

“Anda seorang cenayang?” 
“Tidak, saya hanya mengamati”


Begitu potongan scene dari The Mentalist ketika Patrick Jane, konsultan dari CBI mengatakan sesuatu hal yang ternyata benar. 

Awalnya saya menganggap hal ini sebagai “kesaktian”. Hal yang mistis dan seakan-akan aneh dan tidak terjangkau untuk dipelajari. Namun melihat beberapa guru yang juga sakti, saya jadi yakin bahwa ini sebuah skill. Keahlian. Yang memang diasah secara sengaja. 

Ah ini hanya opini saya ya. Hehe. Maklumlah masih baru belajar. Menurut saya, tingkat kepekaan sebanding dengan tingkat kesaktian. Semakin peka seseorang, semakin “sakti” lah dia. Kepekaan apa? 

Di NLP, dikenal sebagai Sensory Acuity. Kepekaan berdasar panca indera dimiliki. Mudahnya ialah memahami kata ini dengan kata “jeli”. Jeli melihat yang tampak, maupun yang tersirat. Yang verbal maupun non verbal. Byuuuuh, banyak ya? Hehehe. Ya, buat jadi sakti tentu tidak bisa dicapai dalam 1 hari semalam. Lha wong Rosulullah SAW saja berdakwah hampir 23 tahun untuk membangun peradaban Islami. Padahal Rosulullah SAW adalah Rohmatan Lil ‘aalamiin. Rahmat bagi seluruh alam. Mestinya langsung sim salabim ya? Tapi ternyata tidak begitu. Hukum sunatullah pun berlaku ke beliau. Sunatullah untuk berproses. 

Ada contoh keren sekali dari Rosulullah SAW tentang kepekaan ini. Rosulullah SAW mempunyai cara berbeda untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda. Karena beliau sangat peka, maka beliau memahami bagaimana cara menyampaikan pesan yang sama, kepada orang yang berbeda menggunakan pendekatan personal. 

Subhanallah ya! 

Menggabungkan pemaknaan saya akan ilmu NLP dan pengetahuan saya (yang masih sedikit) tentang Rosulullah SAW membuat saya melihat benang merah yang terang. Bahwa pemahaman kapade ajaran Islam ini bisa menggunakan pendekatan NLP. Hehehe. Ya kan NLP tentang memodel, menyontoh. Dan untuk mampu menjadi pribadi yang makin berkualitas, maka tentunya yang dicontoh adalah model terbaik dong ya. 

Walau memang mungkin masih jauuuuuuuuuuuuuh sekali untuk ke sana, namun setidaknya ada langkah-langkah maju yang dilakukan tiap harinya. Ini juga sebagai pengingat bagi diri saya. Self reminder. Pengingat diri. Bukan artinya saya menulis ini karena saya sok tahu atau lebih unggul. 

Jadi, kembali tentang kepekaan tadi. Orang yang memiliki kepekaan, kejelian tinggi, melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Minor detail pun tetap masuk dalam perhitungan. Perubahan pupil, penggunaan kata yang digunakan, gerak mata, sampai ke detak jantung. 

Di serial The Mentalist, Patrick sang konsultan kadang mengukur detak jantung orang yang diwawancarainya. Dan sedikit perubahan, misalnya pipi yang bersemu merah, menjadi perhatiannya. Seolah-olah semua diobservasi dan direkam. Seperti potongan puzzle yang digunakan dalam hal ini menuntaskan kasus yang sedang dihadapi. 

Dari mana memulai belajarnya? 

Allah SWT memberikan manusia modal yang sama. Mata, telinga dan hati. Ada di Qur’an surat Al A’raf 179 yang terjemahannya kurang lebih seperti ini: 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Esok insyaallah saya lanjutkan :). 



Disclaimer: ini murni pendapat saya sebagai seorang pembelajar, tidak mewakili institusi manapun. 


Artikel Terkait

Lihat, Dengar, Rasakan (bagian 1)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email