Tuesday, November 28, 2017

Istirahat Jiwa, Istirahat Raga

Take a break, istirahat. Lepaskan penat yang dirasa, lalu mulailah lagi melangkah. 

Hidup yang hectic, penuh pekerjaan yang menuntut performa terbaik dari diri, kadang membuat orang lupa memberikan jatah istirahat pada dirinya. Tak terasa, kelelahan demi kelelahan menumpuk menjadi satu. Tiba-tiba, sakit yang entah kenapa, tak kunjung sembuh walau minum obat dan istirahat. Tanda ada yang ingin disampaikan oleh badan. Seperti halnya demam, yang merupakan tanda misalkan adanya peradangan. Maka tubuh mempunyai sinyal yang ingin disampaikan. 

Hidup yang hectic, penuh kejar-kejaran target, prestasi, pencapaian; kadang membuat kita terus memacu diri agar selalu lebih baik, selalu lebih di depan, dan selalu mampu menonjol di antara yang lain.

Hidup yang hectic, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Berpindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain, demi dapur ngebul, demi inventasi masa depan, demi tabungan anak, demi melunasi cicilan, demi gawai terbaru yang ingin dimiliki, demi restoran yang ingin dicicipi masakannya, demi kebutuhan, demi keinginan. 

Hidup yang hectic, terkadang melupakan bahwa diri tak hanya terdiri dari raga. Ada jiwa. 

Jiwa yang juga butuh diperhatikan. Di tengah kesibukan dunia, jiwa bisa terasa kering, bagai danau yang kekeringan. Sebabnya karena kebutuhan jiwa tak diperhatikan. Terlalu sibuk memenuhi kebutuhan dunia, melalaikan dari memenuhi kebutuhan jiwa. 

Istirahat. Take a break

Ini bukan slogan iklan makanan manis yang diawali dengan huruf K. 

Lapisan-lapisan kesibukan membuat stress tak terkuak sebabnya. Pelampiasan kepenatan bisa ke hal-hal yang seolah menenangkan, tapi ternyata efeknya hanya sementara. Pelampiasan kepenatan bisa ke hal-hal yang menyenangkan, tapi bisa jadi efeknya tak lama. 

Shopping berlebihan, makan berlebihan, olahraga berlebihan; segala yang berlebihan bisa menjadi pelampiasan. Kadang itu membantu, tapi kadang tidak juga. Kebahagiaan semu yang dirasakan ketika melakukan kegiatan itu, kadang berakibat fatal. Berapa banyak yang terikat keuangan menumpuk utang konsumtif karena “kebahagiaan” yang dirasakan ketika menggesek kartu kredit? Ada film berjudul “Confession of Shopaholic” yang bisa lebih menjelaskan hal ini.

Istirahat adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan ketika penat melanda. Istirahat dari kegiatan rutinitas. Istirahat sebentar untuk merebahkan diri, menenangkan pikiran, membaca buku yang menghibur, tertawa-tawa bersama keluarga, bersilaturahim. Segala hal yang mampu meningkatkan level energi saya anggap sebagai sarana istirahat. 

Menangis, curhat, berdoa, menurut saya juga termasuk istirahat. Maka beruntunglah muslimin muslimat yang diberi kewajiban istirahat minimal 5 kali sehari. Kondisi rileks, konsentrasi pada ibadah untuk mencapai tuma’ninah. Saat anggota badan dibasuh air wudhu, beranjak dari tempat kerja menuju tempat ibadah, kemudian memfokuskan diri pada ibadah, benar-benar istirahat yang syahdu tak terkira. Istirahat jiwa, istirahat raga. 

Let’s take a break

Artikel Terkait

Istirahat Jiwa, Istirahat Raga
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email