Sunday, November 26, 2017

Fenomena OOTD #OutfitOfTheDay

Kemarin kawan saya menjual salah satu gamis koleksinya, bermerk. Baju yang dibelinya karena jarinya yang iseng, katanya. Dia menjual gamisnya dengan harga bervariasi. Ada yang di bawah Rp 500.000,-. Ada yang lebih dari itu. Hanya gamis. Tanpa jilbabnya. 

Yang menarik bukan cerita tentang kawan saya menjual baju bekasnya yang masih bagus itu. Yang menarik adalah bagaimana fenomena sosial media yang memudahkan orang untuk mengunggah foto berdasar baju terkini. Kemudahan ini juga yang kadang membuat orang enggan mengenakan baju yang sama tiap kali. 

Ternyata kawan saya bukan satu-satunya yang menjual baju bekas bermerknya. Bekas dalam arti hanya dipakai beberapa kali, dan tidak ada bekas kotor atau apapun. Itulah kenapa saya mencurigai fenomena OOTD di sosmed memacu jenis bisnis ini. 

OOTD kependekan dari Outfit Of The Day. Biasanya digunakan untuk fashion blogger yang menunjukkan gaya mereka masing-masing. Acuan OOTD sering ditemukan di halaman-halaman majalah gaya hidup, misalnya untuk me-mix match pakaian untuk acara yang berbeda-beda. Seperti namanya, of the day, OOTD memberikan gambaran baju untuk hari itu. Karena dipakai oleh idola, maka biasanya OOTD dijadikan acuan para fans yang mempunyai style fashion yang sama. 

Terkadang OOTD bisa dari rangkaian padu padan pakaian dengan harga terjangkau umumnya. Atau terkadang juga tidak. 

Lalu, apa hubungannya antara fenomena ini dengan baju bekas (yang ngetren dengan istilah preloved)? 

Lagi-lagi kembali ke harga pakaian yang ingin dijadikan OOTD. Bagi mereka yang memang pada kesehariannya memakai pakaian tersebut, maka OOTD memang menjadi acuan mix match. Berbeda halnya dengan orang yang dengan sengaja “mengusahakan” agar mampu membeli pakaian OOTD sesuai idola mereka. 

Terkadang untuk membeli pakaian yang mungkin hanya 1 atau 2 kali pakai itu, mereka merogoh kocek yang lumayan dalam. Dan setelah cekrek-cekrek selesai, maka baju itu bisa jadi dijual lagi untuk digantikan dengan model terbaru nantinya. Dengan kalimat sakti “no pic hoax”, maka foto OOTD bisa menjadi bukti bahwa seseorang telah mampu meniru idolanya, setidaknya dalam hal berpakaian. 

Tentu hal ini tidak melulu hal buruk. Dengan membeli barang yang secara kualitas teruji, jika berpegang pada “harga tak pernah bohong”, maka seseorang akan mendapat standar baru tentang kualitas. Misalkan seseorang biasa membeli gamis yang biasa-biasa saja, lalu mencoba membeli gamis yang lebih mahal, setidaknya wawasannya tentang kain, jahitan, dan pelayanan bisnis secara keseluruhan akan meningkat. Dia akan bisa menilai mana barang bagus, mana yang biasa saja. Mana yang service excellent, mana yang biasa saja. 


Jika kita kembali pada presuposisi NLP bahwa selalu ada maksud baik di balik segala tindakan, maka OOTD juga mempunyai niat baik. Apapun yang dilakukan, tentu sah-sah saja orang menggunakan hartanya yang halal untuk ber-OOTD ria. Lagipula, barang bermerk memang mempunyai distorsi tinggi yang akan menghubungkan antara merk, dan nilai diri. Saya tidak menyangkal ini. Hahaha. Selamat ber-OOTD ria! 

Artikel Terkait

Fenomena OOTD #OutfitOfTheDay
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email