Saturday, November 25, 2017

Apa Bandmu?

Bagi saya, ada lagu-lagu yang powerful, yang menggugah dan menjadi anchor (jangkar) atas suatu perasaan atau kenangan. Bersamaan dengan lagu yang bermain, tergambar di benak tentant hal-hal yang mewakilinya. Entah itu rintik hujan di saat kanak-kanak, atau perasaan bersemangat di seminar. 

Hal ini juga saya rasakan di band tertentu. Entah karena lirik lagu-lagunya yang selalu “gue banget”, atau musiknya yang menghipnotis, atau suara penyanyinya yang seolah hidup tiap kali membawakan musiknya. Atau semuanya bergabung menjadi satu.

Ada beberapa band yang tak bosan saya dengarkan, walau lagu yang dibawakannya “hanya” cover dari penyanyi pertamanya. Bahkan ada lagu yang menurut saya, lebih enak dinikmati sesuai versi band ini, dibandingkan versi aslinya. Hahaha. Berlebihan mungkin. Tapi serius, komposisi musiknya begitu pas dalam menghidupkan lagu-lagunya.

Band ini, seperti memberi hidup berbeda kepada lagu. Mereka mampu menyampaikan apa yang mungkin belum disampaikan oleh penyanyi aslinya. Saya tidak bilang bahwa penyanyi aslinya gak OK, lha wong lagunya menjadi hits, berarti memang penyanyinya OK, hanya saja, itu tadi. Band ini mengupas dari sisi lain. Memberikan pemaknaan baru atas lagu, dan kadang mood saya lebih terwakili dengan pembawaan band ini. 

Ada lagu yang saya lebih suka dengarkan versi band ini, judulnya Photograph. Aslinya penyanyinya Ed Sheeran. Kalau sudah pernah dengar lagunya, coba bandingkan dengan versi Boyce Avenue feat. Bea Miller. 

Bahkan lagu lama Jewelpun dinyanyikan ulang oleh Boyce Avenue, dengan pemaknaan baru, seakan-akan lagu itu hidup lagi! 

Manusia dikarunia banyak hal, dan yang bisa berprestasi ialah dia yang mampu mengenali dan mengasahnya terus menerus. Betapa banyak yang tidak mengenali dirinya sendiri, lalu mencoba menjadi orang lain, mengejar kemampuan orang lain, ya mana bisa menang? 

Bukankah kita mesti memilih peperangan yang bisa kita menangkan? Untuk apa berperang jika kita akan kalah? Lebih bijak dalam mengeluarkan energi akan menjadikan kita orang yang efektif dan efisien. Tidak meladeni hal-hal yang memang di luar kemampuan kita untuk bertarung di sana. Hehe, ini mah saya.

Kembali ke Boyce Avenue, saya rasa dia mampu mengenali potensi dirinya dengan baik, memilih cara kolaborasi yang baik pula, hingga mampu memberi makna baru pada lagu yang dinyanyikannya. Alhasil, dia termasuk band independen yang paling bank dilihat di seluruh dunia, di Youtube!

Artinya, bukan hanya saya yang menyukai cara band ini membawakan karya-karyanya (atau karya orang lain). 

Ini mirip dengan grup parodi kesukaan saya, P Project; yang sekarang salah satu pentolannya sudah menjadi artis hijrah, Daan Aria. Bagaimana mereka bisa memparodikan lagu berbahasa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia, dengan tema keseharian, pun dengan lirik yang mirip-mirip akhirannya dengan lagu aslinya. Dengarkan saja lagu-lagunya, seperti “Mencontek” dari lagi “Back For Good”-nya Take That. 
Saya jadi berpikir, jangan-jangan band kesukaan kita mewakili siapa diri kita. Hmmmm. 


Kamu, apa bandmu?  

Artikel Terkait

Apa Bandmu?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email