Friday, February 14, 2014

Olahraga, Joged, dan Kebahagiaan

Fenomena di televisi yang kerap menyuguhkan acara-acara yang kurang mendidik tapi rating tinggi memang menggelitik hati untuk komentar. Tapi apa yang bisa saya komentari? Bahwa acara tersebut harus dihilangkan dan diganti dengan acara yang lebih mendidik? Diganti dengan acara yang harusnya ratingnya lebih tinggi? Lha bagaimana lha wong ternyata di pihak televisinya tentu penilaian tentang bagus tidaknya acara bukan dari isi konten semata, tapi ada juga urusan rating. Dan ternyata kesuksesan besar suatu acara akan ditiru stasiun tv lainnya karena mengharap rating yang tinggi pula.

Dan inilah yang terjadi, acara joget-joget tebar-tebar uang yang semakin diminati ini dibuktikan dengan ternyata stasiun tv lain yang mencoba membuat acara semacamnya (dan mungkin diusahakan lebih menarik dengan bintang yang lebih terkenal atau durasi lebih panjang, atau uang yang lebih banyak, atau joget yang berbeda). Tapi pada intinya ya tadi itu, joget-joget tebar uang. Ironisnya, bukan hanya para laki-laki saja yang menikmati acara tersebut, buktinya di layar kaca juga sering disorot ibu-ibu berjilbab (yang harusnya ada di acara Mamah Dedeh, bukan acara joget), yang juga ceria dan antusias mengikuti jalannya acara dan perintah si tukang joget. Fenomena apalagi ini? Kemana perginya malu?

Nah, kegelisahan ini akhirnya sedikit terjawab dengan pengalaman diri kemarin yang lari sore di Sabuga (dan ketemu keluarga kecilnya Dodi). Kok bisa terjawab? Apa hubungannya? Ternyata setelah saya endapkan lagi, memang sangat berhubungan.

Ini hubungannya (menurut saya):
  • Joget = olahraga, karena bergerak, bersenang-senang, akan menghasilkan hormon endorphin yang membuat rasa bahagia. 
  • Uang = keringat dan prestasi, karena dengan adanya uang yang mereka rebutkan itu (dan yang mereka dapatkan), tentu ada kepuasan tersendiri dan ada rasa menang diantara yang lain yang tidak kebagian uang tersebut. 
  • Ketemu artis = ketemu teman, dengan ketemunya para jogeters ini dengan artis (yang mungkin idolanya), menimbulkan rasa bahagia lagi sama seperti saya ketemu Nur di Sabuga.
Nah, dengan joget yang diliput tv pula ini lebih lagi menambah kebahagiaan mereka jogeters, siapa tahu kesuting dan masuk tv. Lumayan kan jadi seleb beberapa detik. Pengorbanan mereka jogeters untuk pergi ke studio, berdandan seheboh mungkin ini saya setarakan dengan tekad orang yang mau olahraga ke Sabuga, yaitu harus niat ke Sabuga, bawa sepatu, dan kostum olahraga, bawa air, dan mungkin pulang jalan kaki. Ya semua ini setara (menurut saya, haha).

Kebahagiaan yang mereka jogeters dapatkan bagi saya sama dengan keringat yang didapat orang yang olahraga di Sabuga (atau di tempat manapun mereka berolahraga). Itulah yang membuat mereka jogeters datang lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagiiiiii.. Sama seperti olahraga yang juga jadi "candu", walau hujan, panas terik, tetap saja dijabanin, ya sama seperti itulah energi yang men-drive para jogeters untuk tetap Pokoke Joged!

Alhamdulillah di Bandung sudah banyak taman-taman cantik untuk olahraga sekedar jalan kaki, cuci mata, dan peregangan otot, free wifi dimanapun untuk tetap bisa bekerja (dan bersosial media), gratis nikah di pendopo (balaikota kalau ga salah) 1 bulan sekali kalau tidak, mungkin perlu acara joget-joget juga untuk meningkatkan Indeks Kebahagiaan warga Bandung :D. LOL. 



Artikel Terkait

Olahraga, Joged, dan Kebahagiaan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email