Friday, January 17, 2014

Modernisasi, Teknologi, dan Interaksi. Sebuah Pengamatan Rasa

(repost dari FB saya :))
Menurut ilmu ekonomi, definisi pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli baik barang maupun jasa. http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_%28ekonomi%29

Jika kita perhatikan dengan ilmu sosial lebih dalam ke dalam kata: "tempat bertemu", maka pasar bisa juga dikatakan sebagai rendezvous (http://www.merriam-webster.com/dictionary/rendezvous).

By the way (btw), judulnya kok terkesan serem ya? Haha, biasa memakai bahasa yang santai, ingin berlagak menulis bahasa formal ya jadi kesannya agak kurang menjiwai tulisan. Ga papa lah ya, sebagai pemula, yang penting saya nulis aja terus, biarkan mengalir seperti air sungai jernih yang akan bermuara ke air terjun :D. Hehe.

Saya ingin berbagi cerita tentang keengganan orang-orang tua di Belanda untuk memakai fasilitas internet banking, dan lebih suka untuk mengantri ke bank, bahkan jika itu hanya untuk memeriksa saldo. Wow. Dan itu terjadi pada saat saya masih disana, jadi sekitar tahun 2003-2007, saat itu mungkin Indonesia masih baru mengenai namanya Internet Banking ya? Nah, di Belanda sana sudah mafhum namanya Internet Banking pada saat itu. Karena angka penetrasi internet yang sangat tinggi disana, setiap rumah sudah ditawari berbagai macam jenis layanan internet, mulai dari jaman dulu konek telepon lalu nunggu nada "thet theettt theet theeeet" dan super lamaaaaa uploadnya, sampai yang layanan cepat dan bisa di share pake wifi.

Nah, salah satu teman saya bekerja di sebuah bank di Belanda. Dia sering menanyai orang-orang tua yang datang ke bank tersebut hanya untuk cek saldo, print buku, dan kirim pake pos. Disana, dia bekerja di kota kecil, dan para petugas bank hampir menghafal nama-nama klien mereka. Seakan-akan sudah akrab dan jadi saudara. Begitu pula halnya yang terjadi di kantor pos, (postkantoor), para petugas pos disana sudah hafal dengan nama-nama pelanggan mereka, komunitas mereka. Mereka bahkan bisa menanyakan kabar si A, si B, anak dan sanak famili dari pelanggan mereka. Pertanyaan saya, kenapa?

1. Kenapa mereka bisa menghafal nama pelanggan mereka?
2. Kenapa para klien, pelanggan itu mau repot-repot datang untuk melakukan hal yang seharusnya bisa dikerjakan di rumah?

Hal itu terjawab dengan memahami beberapa fakta yang ada:
Di Belanda, menikah bukanlah keharusan. Faktanya, orang-orang tua disana banyak yang hidup sendiri. SENDIRI. HOME ALONE. Ada yang menikah, dan anaknya sudah pergi dari rumah (kerja, pindah, dsb), atau yang memilih untuk tidak menikah. Kebanyakan mereka untuk bersih-bersih dibantu oleh tenaga kerja yang membantu membersihkan rumah mereka seminggu sekali.

Perlu diingat, tenaga kerja ini tidak semuanya mempunyai kepribadian hangat dan bisa nyambung kalau diajak ngobrol oleh si pemilik rumah, alhasil, ada sebuah kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi dengan hidup sendiri, yaitu....

INTERAKSI.

Ilmu sosiologi sudah bilang, manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa berdiri sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia membutuhkan manusia-manusia lain. Dan hal itu tidak dapat digantikan oleh banyaknya harta benda, tontonan DVD, atau games-games lain. Ada sebuah kebutuhan interaksi sosial yang harus dipenuhi.
Dan kebutuhan ini kadang kurang mampu dijawab oleh keluarganya sendiri, karena ya beberapa hal tadi, masing-masing sudah sibuk dengan urusannya, dan tidak menyempatkan waktu, atau bahkan karena memang memutuskan untuk hidup solitari, tidak berpasangan hidup.

Pertanyaan pertama saya terjawab dengan hasil pengamatan saya bahwa kebanyakan orang sana bekerja di lingkungannya sendiri. Dan kalaupun mereka bukan berasal dari lingkungan sana, seakan-akan diwajibkan untuk mengenal pelanggan secara personal, mungkin memang bagian dari strategi marketing, but I think it's a good thing to do :). Ini hal yang sangat mendasar, sangat penting, kenapa orang memilih untuk pergi ke toko satu, dan tidak ke toko lainnya. Mereka bahkan sudah hafal pesanan pelanggan tertentu, misal si Pak A tidak suka roti gandum kering, Pak B sukanya selai stroberi, dan hal-hal kecil seperti itu. They work in their community. Hal ini mungkin yang coba diusahakan oleh pemerintah untuk mengurangi kemacetan. Belanda punya "centrum", pasar, tempat berkumpul dalam tiap beberapa blok rumah, mungkin seukuran RW kalau di Indonesia. Orang-orang yang berjualan di Centrum ini kebanyakan dari orang situ juga, jualannya pun bermacam-macam. Ada toko khusus bunga; khusus perlengkapan rumah seperti palu, dsb; toko kue; toko makanan organik; supermarket; dan sebagainya. Mungkin semacam ruko ya kalau di Indonesia.

Nah, kembali ke pertanyaan kedua saya yang tadi sudah terjawab dengan kata "interaksi".

Pasar tradisional Indonesia juga menawarkan hal yang sama, sebuah interaksi. Menyapa. Coba bandingkan dengan jika kita berbelanja di supermarket, hypermarket, dan semacamnya, apakah mungkin kita melakukan hal-hal ini:
1. Menyapa orang yang berdiri sebelah kita yang sama-sama bingung mencari merk popok untuk bayinya? Lalu berdiskusi tentang popok bayi terbaik?
2. Menyapa penjaga kasir dan menanyakan bagaimana kabar keluarganya?
3. Mengobrol dengan penjaga makanan dengan akrab tanpa harus merasa terpaksa membeli dagangannya?

Jika tidak, maka kita sudah kehilangan satu hal dalam berbelanja,
INTERAKSI.

Padahal itulah yang membuat orang lebih betah berbelanja, lebih lama mengobrol, dan lebih tahu info-info terbaru tentang si A, si B, rumah mana yang dijual, dan bermacam berita lainnya. Seperti serial detektif yang saya suka baca karangan penulis Inggris, bernama Agatha Christie. Agatha Christie menuliskan salah satu tokoh detektifnya adalah Miss Marple (http://en.wikipedia.org/wiki/Miss_Marple). Seorang nenek-nenek biasa yang mendapatkan banyak informasi dengan cara mengajak minum teh, berkunjung, padahal dengan cara itulah dia bisa memecahkan berbagai kasus-kasus penting.

Kuncinya, INTERAKSI.

Yah, sepertinya saya mesti menyudahi tulisan saya ini, karena kayaknya kok sudah panjang sekali. Hehe.
Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memperjalankan saya ke Pasar Gagak siang ini, dan mendapatkan hikmah yang luar biasa ini. Alhamdulillahi robbil 'aalaamin.

Artikel Terkait

Modernisasi, Teknologi, dan Interaksi. Sebuah Pengamatan Rasa
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email