Friday, January 31, 2014

Interupsi ID - 3 Tokoh Calon Presiden dari Partai Keadilan Sejahtera

Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Ahmad Heryawan

Itulah foto yang bisa saya ambil dari layar televisi semalam 30 Januari 2014, di Indosiar, jam 22.00 - 23.00 dalam acara Interupsi ID dengan host Tina Talisa. Berita akan penayangan 3 pilihan Capres dari PKS ini cukup menggembirakan, jarang-jarang ada stasiun TV Nasional yang mau meliput kegiatan PKS (ataukah ini prasangka saya saja ya? haha), tapi memang patut disyukuri bahwa ketiga tokoh hasil Pemira PKS ini bisa muncul di TV Nasional. Alhamdulillah.


Host Tina Talisa yang saya kira biasa-biasa saja, ternyata lumayan cukup berwawasan, buktinya bisa diberi kepercayaan untuk menanyai 3 tokoh ini. Pertanyaan pertama dibuka dengan isu poligami, pun pertanyaan ini ditambah dari pertanyaan Teh Peggy Melati Sukma yang menyitir surat An-Nisa tentang poligami dan susahnya berlaku adil. Hehe. Pak Anis Matta senyum-senyum saja menanggapi dan beberapa jawaban dari ketiga tokoh ini patut digarisbawahi:
  1. Poligami terkait dengan aturan agama, dan itu dibolehkan
  2. Poligami adalah pilihan pribadi, tidak ada aturan partai yang mengharuskan untuk poligami
  3. Isu poligami seringkali digunakan lawan politik untuk menggembosi
  4. Yang Monogami lebih banyak daripada yang poligami (Pak Hidayat Nur Wahid dan Pak Ahmad Heryawan monogami).
  5. Dalam kampanye sebelum Pilgub Jabar 2013 lalu, ada selebaran black campaign yang mengatakan bahwa Pak Aher (Ahmad Heryawan) berpoligami
  6. Masyarakat harusnya memilih pemimpin berdasarkan track record, pengalaman, kemampuan memimpin, dan bukan karena poligami atau tidak poligami


Kemudian tentang korupsi. Tertangkapnya Pak Luthfi Hasan Ishaq oleh KPK yang dinyatakan bersalah karena korupsi tidak serta merta menjadikan PKS sebagai partai korupsi. Karena:
1. Pengadilan tidak pernah mengatakan bahwa PKS korupsi
2. KPK tidak pernah mengatakan bahwa PKS korupsi

jadi yang mengatakan bahwa PKS adalah partai korupsi ternyata kewenangannya lebih besar daripada KPK dan pengadilan ya, hehe.

Saya mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tina Talisa mungkin memang mewakili pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam mengenai PKS. Dan hebatnya lagi, ketiga tokoh ini memang menunjukkan kelasnya bahwa mereka adalah politisi handal, senior, bijaksana, dan taat aturan partai. Subhanallah. Saya tuliskan saja beberapa pertanyaannya, soalnya banyak yang jawabannya lucu-lucu bikin ketawa :D.Kurang lebihnya begitu ya, untuk redaksionalnya saya ga hafal, harus liat dari transkrip atau bisa juga ditonton di Youtube nanti (kayaknya bakal ada yang upload, haha, kepedean). Jadi ini berdasar ingatan saya yang terbatas ya, ini mah kurang lebihnya yang saya tangkap, semoga tidak menyimpang dari maksud yang sebenarnya ingin disampaikan para tokoh ini.

TT (Tina Talisa): Jika dibandingkan dengan tokoh Capres dari partai lain, Anda-Anda ini kan masih jauh banget. Jika dibandingkan Bang Ical, Prabowo, Bu Mega, dll
AM (Anis Matta): Kita ini kan orang yang percaya takdir ya. Sering saya bercanda di depan kader bahwa nama orang yang jadi presiden Indonesia tahun 2014 ini kah sudah tertulis di langit, di Lauhul Mahfudz, tinggal kita ikhtiar saja, sodorkan nama, siapa tahu ternyata nama yang kita sodorkan sama dengan yang di langit. Hehe (ini touche banget!).


TT: PKS ini kan berkoalisi tapi kok suka mengkritik koalisinya, bagaimana nanti jika PKS menjadi partai penguasa dan ternyata dalam koalisi, ada partai yang mengkritik seperti PKS saat ini?
AM: Shifting sistem ini berbeda dengan shifting budaya. Kita ini sistemnya demokrasi tapi budayanya masih feodal. Padahal harus hati-hati dengan loyalis yang tidak mengkritik.


TT: Silakan Anda berkampanye disini (ada kaitannya dengan Pemira) mengapa rakyat harus memilih Anda?

AM: Wah, kalau saya berkampanye disini bisa disentil sama Dewan Syuro, karena sekarang belum saatnya kampanye sampai sedetail itu.  (dan jawaban ini diamini oleh 2 tokoh lainnya, semua menolak berkampanye).

TT: Bagaimana menanggapi isu adanya Faksi Keadilan dan Faksi Sejahtera dan Faksi yang tidak kemana-mana?
HNW: Tidak ada faksi dalam PKS, semua satu, dan keputusan diputuskan oleh Majelis Syuro. Semua bermusyawarah dan mengemukakan berbagai pendapatnya. Adapun ada yang naik mobil, ada yang naik sepeda, itu hanya perbedaan pendekatan dan itu sah-sah saja.



TT: Mengapa Anda terpilih di Pemira PKS?

HNW: Pertanyaan itu juga pertanyaan saya. (LOL)

TT: Apakah Pak Aher ingin jadi Presiden Indonesia?
AH: Kaidah dalam memilih pemimpin itu ada 2. Tidak boleh diberikan kepada orang yang terlalu ingin, dan tidak boleh diberikan kepada yang terlalu tidak ingin. Jadi ya saya siap jika diberi amanah.

TT: Survey mengatakan bahwa kepemilihan PKS semakin hari semakin turun, tanggapan Bapak?
AM: Hasil survey dan hasil pemilihan umum itu adalah 2 hal yang berbeda
AH: Sebelum hari H nanti, kita harus terus kerja kerja kerja. karena kesuksesan adalah bertemunya takdir Allah dengan ikhtiar keras kita. Jadi kita masih punya waktu untuk terus bekerja.


TT: Jika PKS tidak masuk 3 besar, apakah sudah menyiapkan pidato kekalahan?

AM: Kami hanya menyiapkan pidato kemenangan. Namun jika hasilnya nanti berkata lain, ya nantilah dibikin tinggal bahasanya saja bagaimana.

TT: Mungkinkah calon Presiden PKS berasal dari partai lain?

AM, HNW, AH: Mustahil :D

Begitulah, kecerdasan 3 tokoh senior ini dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan menjebak :D. Hehe. Jadi, saya nanti pilih siapa? Ah itu mah rahasia karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri :D. Mungkin jawabannya lewat istikharoh. Hehe.

Acara ini ditutup dengan pernyataan TT bahwa PKS adalah Partai Kader, jadi semuanya tergantung majelis syuro. Nanti siapa yang jadi capresnya, ya nurut. Yang ga jadi capres (diantara ketiga tokoh ini), ya ga apa-apa. Hehe. Aneh tapi nyata bukan?

Artikel Terkait

Interupsi ID - 3 Tokoh Calon Presiden dari Partai Keadilan Sejahtera
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email