Monday, June 13, 2005

Kembali dari pertapaan

Assalamu'alaikumwRwB,

Alhamdulillah, thesis sudah selesai, dan tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk defense. Setelah ber stress2 ria, ahamdulillah dengan pertolongan ALLAH SWT lah semuanya bisa selesai dengan baik.

Ternyata sudah lama saya tidak menulis lagi, padahal banyak sekali yang sudah saya alami dalam satu bulan terakhir ini. Kemarin malam saya menerima pertanyaan dari seorang teman, mengapa sudah lama saya tidak menulis, lalu ketika saya memeriksa blog ini, ah, ternyata seorang sahabat mempertanyakan hal yang sama. Lalu saya memutuskan untuk menulis lagi, tanpa mengetahui apa yang akan saya tulis. Hanya membiarkan jari jemari ini menari di atas tuts-tuts keyboard sembari saya mendengarkan Jalan Hikmah di radio MQFM.

Kali ini bercerita tentang kekuatan seorang ibu yang berjuang mempertahankan kehidupannya bersama 3 orang anak. Dia ditinggal pergi oleh suaminya. Ah... saya mendapatkan sebuah ide tentang apa yang akan saya tulis sekarang, alhamdulillah..

Kali ini saya ingin bercerita mengenai bagaimana proses perubahan cara berpikir dan pola hidup. Sebuah perubahan yang alhamdulillah sedang saya lakukan, perubahan yang memakan banyak tenaga dan kerelaan untuk menggeser paradigma yang terdahulu yang telah bertahta di otak saya selama bertahun-tahun. Saya akui saya bukanlah orang yang religius, saya hanya menjalankan apa yang seharusnya saya jalankan, tanpa ada rasa dan keinginan yang lebih dari itu. Saya sempat bertukar arah karena saya tidak mempunyai pegangan yang kuat untuk menjalani hidup saya. Namun alhamdulillah berkat banyak doa yang dikirimkan untuk saya dan kasih sayang ALLAH SWT, sedikit demi sedikit saya mulai dikenalkan ulang kepada agama saya.

Seperti yang saya pernah tulis sebelumnya, perkenalan dengan seseorang yang sempat saya anggap sebagai malaikat itu telah banyak mengajari saya tentang bagaimana seharusnya orang beragama. Bagaimana seharusnya orang beragama menjalankan agamanya dengan sepenuhnya, dan bukan hanya sepotong. Sakit hati, rasa kecewa, resah, dan tangisan sering saya rasakan, saya keluarkan, karena seperti yang saya bilang tadi, proses ini bagaikan penggodokan saya di kawah Candradimuka sebelum akhirnya saya bisa terbang seperti Gatot Kaca. Yang saya ingat dan saya pegang dari nasehat seseorang ini hanya dua. Sungguh hanya dua. Pertama, janganlah melalaikan sholat, dan yang kedua, bacalah Al-Qur'an setiap hari. Hanya dua itu saja. Nasehat yang saya lakukan dengan perlahan dan bertahap, terutama dalam pembacaan Al-Qur'an.

Satu bulan setelah saya menjalankan dua hal itu dengan terus menerus, saya mulai merasakan perubahan dalam diri saya. Keinginan untuk belajar agama yang menggebu-gebu, keinginan untuk bisa mencintai ALLAH SWT dan menjalankan agama saya. Saya merasa sangat lemah dan banyak berdosa, karena selama ini banyak melalaikan agama saya, dengan tidak mempelajarinya dengan sungguh2. Seringkali saya merasa minder, kurang percaya diri, apalagi ketika saya melihat kenyataan bahwa kehidupan saya ini jauh berbeda dengan kehidupannya yang bernuansa Islami. Saya merasa bahwa saya tidak berhak mendapatkan keindahan Islam, sungguh perasaan yang menyakitkan, perasaan berdosa yang sangat, menyesal yang sangat, dan prihatin yang sangat. Prihatin dengan keadaan saya sendiri, dengan kenyataan bahwa saya begitu lemah.

Namun dengan banyaknya doa-doa yang ditujukan kepada saya dan kasih sayang ALLAH SWT melalui usaha yang tidak kenal lelah dari seseorang ini, perlahan-lahan perasaan minder itu berkurang. Saya teringat dengan cerita Umar Bin Khattab yang dulunya tidak berperilaku Islami namun bisa berubah dengan drastis setelah mengenal keindahan Islam. Saya toh belum pernah membunuh anak perempuan saya, dan saya masih punya harapan terhadap kasih sayang ALLAH SWT. Saya merangkak dalam mendekati-Nya, namun Ia berlari kepada saya. Saya berdoa meminta satu hal, DIA memberikan ratusan kali lebih baik daripada doa saya. Sungguh kasih sayang yang indah, yang dapat merubah saya yang dulunya selalu berpikir dengan logika dan keras hati, menjadi orang yang mudah tersentuh hatinya dan gampang mengucap kata maaf. Kata maaf yang dulu menurut saya adalah cerminan orang yang kalah, dan saya benci kalah, sehingga berat sekali bagi saya untuk meminta maaf.

Sudah hampir 4 bulan saya menjalankan penggodokan ini, dan saya akan terus menjalankannya, insyaallah. Karena saya rindu ingin merasakan indahnya pertemuan saya dengan ALLAH SWT nanti ketika saya mati. Saya ingin merasakan ketenangan hidup dan indahnya kesederhanaan. Banyak yang masih harus saya pelajari, karena saya juga masih dalam sekolah kehidupan ini. Namun ketika saya jatuh dan menitikkan air mata lagi, saya tahu bahwa ada ALLAH SWT sedang melihat saya berjuang, sedang menguji keimanan saya, dan sedang memberikan kenaikan satu level jika saya lulus nanti.

Syukur alhamdulillah banyak dukungan dari lingkungan saya untuk lebih mengenal dan mendalami Islam. Alhamdulillah, dan kasih sayang ALLAH SWT yang saya rasakan sungguh telah merubah seorang anak yang keras kepala menjadi seseorang lebih lembut hatinya. Terima kasih kepada semua yang telah membantu saya dalam proses penggodokan ini. Semoga ALLAH SWT membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih banyak dan lebih baik. Amiin ya Robbal 'Alamiin. Mari kita sama-sama berdoa agar ALLAH SWT selalu memberikan kasih sayangNya kepada kita dan menguatkan kita dalam proses penggodokan kita masing-masing. Amiin..

Wassalamu'alaikumwRwB

Artikel Terkait

Kembali dari pertapaan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

5 comments