Tuesday, April 19, 2005

Rasa percaya

Kenapa cinta bisa menjadi hal yang selalu kita pikirkan? Kenapa cinta pada manusia menjadi hal yang utama yang selalu membebani tiap malam kita sebelum tidur? Bukankah cinta pada manusia itu hal yang semu dan bisa berganti benci? Bukankah cinta pada manusia itu kadang lebih menyakitkan daripada mencintai diri sendiri? Dan bukankah mencintai seseorang itu bisa membuat kita lupa akan dunia dan seisinya?

Ketika seorang yang tidak sibuk dengan hal2 yang bisa meng occupied pikirannya, maka yang ada hanyalah pikiran2 buruk yang menghantui. Pikiran bahwa sang pasangan akan melakukan hal2 yang bisa menyakitkan hatinya, atau sang pasangan akan meninggalkannya demi seseorang yang lebih darinya, dan berbagai perasaan rendah diri lainnya . Bukannya bersikap supportive pada pasangan, namun yang ada malah mungkin mencurigai dan ketidakpercayaan. Kebiasaan ini bukan hanya terjadi pada wanita, kadang lelaki pun bisa mengalami sindrom yang sama. Bukan berarti bahwa seseorang itu tidak mempercayai pasangannya atau janji yang telah mereka ucapkan, namun ini sekedar pelarian pikiran yang tidak digunakan secara produktif.

Bagi pasangan pun, hal ini merupakan sebuah beban tersendiri, yaitu bagaimana meyakinkan bahwa dia tidak akan berpaling dan tidak akan menyakiti hati sang pasangan. Namun, cinta yang sudah dibuat buta dan kepala yang tidak diisi oleh hal2 yang positif, menyulitkan untuk meyakinkan bahwa memang tidak ada yang berubah. Bahwa memang rasa cinta dan sayang itu masih ada, masih sama dan mungkin bertambah.

Namun hal ini tidak akan berlangsung lama jika rasa curiga selalu menjadi momok dalam hubungan. Manusia juga mempunyai titik jenuh. Titik jenuh untuk bersabar dan berusaha meyakinkan, sehingga kesempatan curhat pada lawan jenis menjadi lebih mengasikkan dibanding pulang dan meladeni kecurigaan pasangan. Mungkin inilah salah satu penyebab terjadinya selingkuh dan akhirnya membawa perceraian sebagai satu2nya jalan keluar yang harus diambil.

Ini merupakan tantangan tersendiri bagi pasangan yang kurang mempunyai aktivitas, tantangan untuk tidak mencurigai, selalu berpikir positif, dan selalu supporttive. Mungkin memang benar, jika otak kita terpenuhi oleh2 hal2 yang positif dan banyak menggunakan otak untuk berpikir, maka akan mengurangi resiko curiga pada pasangan. Mengoptimalkan energi untuk hal2 yang bisa berguna dan berkarya nampaknya lebih menyenangkan dan lebih berguna. Sehingga ketika sang pasangan datang ke rumah dengan berbagi ceritanya, kita berlatih untuk menjadi pendengar yang baik dan juga pendukung yang selalu berpikir positif.

Kerelaan hati ketika menghantarkan pasangan untuk beraktivitas ke luar rumah dan menunaikan kewajiban yang diringi senyum yang teduh tentu telah memberi satu kekuatan tersendiri. Hubungan yang dilandasi rasa percaya, memaafkan dan saling mendoakan, tentunya lebih indah daripada hubungan yang penuh curiga, emosi, dan egoisme. Bukankah ketika kita memutuskan untuk menjalin hubungan itu berarti bahwa kita sudah siap menerima resiko dan konsekuensi menyerahkan sebagian rasa sayang kita padanya. Sudah siap dengan konsekuensi bahwa akan ada ombak yang menerjang dan menggoyahkan rasa percaya, menambah rasa ragu dan ketakutan akan kehilangannya. Namun ombak seganas apapun tidak akan bisa merobohkan jalinan kasih sayang yang dilandasi rasa cinta dan sayang yang tulus. Semoga kita bisa menang melawan egoisme dan lebih memilih untuk menyayangi tanpa curiga. Semoga...

Artikel Terkait

Rasa percaya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

4 comments