Friday, December 15, 2017

Tomorrow you'll be free....

Tomorrow you'll be free....

Jika saja manusia berkomunikasi dengan telepati, maka kayaknya gak bakal diciptakan indera sebagai alat komunikasi. Jika saja manusia bisa membaca pikiran orang lain, dengan benar, bukan hanya dugaan, maka gak akan terjadi perselisihan. Jika saja manusia bisa membaca pikiran dengan akurat, tepat, dan manusia bukan tempatnya salah dan lupa, maka semestinya manusia tetap hidup di surga. 

Tapi tidak begitu kenyataannya.


Manusia berkonflik, karena kepentingan yang berbeda. Konflik tak henti, karena tak ada yang mau mengalah. Konflikt tak henti, karena merasa benar. Konflik tak henti, karena mungkin tak bertujuan mencari solusi.

Dari aksi menimbulkan reaksi. 
Apa tujuan dari pemindahan itu?
Apa pertimbangan yang telah diambil? 


Satu tindakan, satu keputusan, satu pernyataan, bisa mengubah peta kedamaian. Seperti yang baru-baru ini dilakukan Presiden AS, Donald Trump, dengan memindahkan kantor kedutaan besar ke Jerusalem. Hal yang seolah sepele, hanya pindah, ternyata mempunyai konsekuensi yang luas dan dalam.  Sebelumnya, kedutaan besar Amerika ada di Tel Aviv, sebagai Ibu kota Israel. Jika pemindahan ini dilakukan, maka artinya AS mengakui Jerusalem sebagai Ibu kota Israel. Yang mana hal ini akan merusak upaya perdamaian antara Israel dan Palestina selama 70 tahun belakangan ini. 

Sayangnya manusia tidak bisa membaca pikiran manusia lain, sehingga yang bisa dibaca, dipahami, dimengerti, adalah perkataan dan perbuatan manusia lain itu.
Apakah tidak dipikirkan ratusan juta orang yang akan terpengaruh atas keputusan itu? 
Negara-negara Eropa menolak keputusan ini. Aksi pembelaan Palestina terjadi di mana-mana. 

Buat saya dan orang-orang muslim, Jerusalem adalah Ibu kota Palestina. 

Saya tak tahu banyak tentang sejarah penjajahan Palestina oleh Israel. Yang saya tahu, KLM mempunyai rute penerbangan dari Amsterdam ke Palestina. Jika Palestina tidak pernah ada, maka semestinya rute penerbangan itu juga tak semestinya ada. Masa sekelas KLM terbang ke tempat yang tidak jelas? KLM adalah perusahaan penerbangan Belanda (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij). https://adammaarschalk.com/2015/04/23/fly-klm-to-palestine-1931-ad/

Kita tidak bisa membaca pikiran orang lain. Tapi kita bisa mengkomunikasikannya. Mencoba mencari win-win solution. Sebisanya. Semampunya. Karena di balik semua hal, pasti ada niat baik yang melandasinya. 

Palestine, tomorrow you’ll be free…. a song from Maher Zain ...
https://www.youtube.com/watch?v=foSbqLi6U10

Tuesday, December 12, 2017

Review buku: Menuju Jama'atul Muslimin

Review buku: Menuju Jama'atul Muslimin


Herlyanti (Lya)



Menuju Jama’atul Muslimin
Telaah Sistem Jamaah dalam Gerakan Islam

Judul asli buku: ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin
Penulis: Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir
Judul buku terjemahan: Menuju Jama’atul Muslimin: Telaah Sistem Jamaah dalam Gerakan Islam. 
Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc. 
Tebal buku: xix; 429 halaman; 23,5cm 
Penerbit: Robbani Press 
Harga: berkisar antara Rp 55.000,- hingga Rp 73.000,- 


Buku ini ditulis oleh Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, M.A. (almarhum), sebagai disertasi dalam rangka mencapai tingkatan magister di Madinah. Tulisan ini dirampungkan ketika masih studi di Qism al-hadist (fakultas hadist), al-Jami’ah al Islamiyah, di Mira. Penulis berhasil meraih gelar  M.A. dengan predikat imtiyaz (excellent). Oleh karena itu, buku ini tidak perlu lagi diragukan keilmiahannya. 
Kondisi politik dan percataban pasca kejatuhan Turki Utsmani, dan penghapusan sistem Khilafah oleh Kemal Attaturk tahun 1924, menyebabkan Muslimin berada dalam periode yang terburuk. 
Tinjauan netral yang dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang sosiolog agama mengatakan “Di antara berbagai agama yang ada, Islam adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan sistem keimanannya dalam abad modern ini, tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya dalam Islam. Pemurnian dan modernisasi di satu pihak, dan peneguhan kembali identitas umat di pihak lain, dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat yang sama. Dunia Islam memang memasuki abad modern. Tetapi karena watak dasar Islam sendiri, kaum Muslimin mungkin justru menjadi kelompok manusia yang memperoleh manfaat terbesar dari kemodernan dunia. Tentunya kemodernan di sini bermakna kemajuan teknologi. Dengan kata lain, kunci keberhasilan Islam memasuki abad kegemilangannya terletak pada peneguhan kembali warisan syari’ah yang tak pernah lapuk. Kekokohan struktural harus dibagun dari bawah, serta kemampuan mengambil alih dan merebut teknologi yang dimonopoli Barat (halm. 5). 
Dengan berbagai usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam mengalami tantangan berat. Berbagai organisasi seperti Gerakan Intifadhah, Islamic Trend Movement di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordania. Begitu pula Indonesia mengalami hal yang serupa. Berbagai organisasi bermunculan, seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII. Namun sepertinya organisasi-organisasi itu tak mampu menampung aspirasi Muslimin, sehingga muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam adalah kewajiban setiap individu Muslim. 
Gejala ini menimbulkan isu jama’ah. Ada 2 kecenderungan, yaitu yang allergy dengan isu jama’ah, dan yang terobsesi dengan jama’ah. Juga muncul fenomena sempalan. Maka diperlukan kajian secara mendalam dan dewasa. Oleh karena itu, buku ini dibuat. 
Ada 3 bab dalam buku ini: 
  1. Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin)
  2. ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin (Jalan menuju Jama’atul Muslimin)
  3. Al-Jama’ah al-Islamiyyah al-‘Amilah fii Haql ad-Da’wah al-Islamiyyah (Beberapa Jama’ah Islam di Medan Dakwah)

Seperti layaknya buku ilmiah, bab 1 membahas tentang definisi. Mulai dengan pembahasan makna umat Islam, urgensi syura. Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan). Sedangkan yang terjadi sekarang adalah penilaian bahwa ajaran Islam itu semena-mena, tidak manusiawi. Sebabnya? Karena hukum Islam tidak diberlakukan secara menyeluruh di tiap aspek kehidupan. 
Mustahil Islam akan tegak tanpa ada ke-kolektifan dalam melaksanakan ajaran. Tatanan dakwah yang memadai akan memungkinkan ke-kolektifan itu terjadi. 
Maka penulis menjabarkan dengan detil tentang bagaimana Rosulullah SAW sebagai contoh tauladan kita semua mengenai pentingnya jamaah, dan bagaimana Rosulullah menerapkannya. 
Kita semua adalah da’i sebelum menjadi yang lain. Seperti yang termaktub  “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al Ashr:1-3).
Penulis menuliskan di bagian ketiga tentang 6 rambu dalam menegakkan jama’ah: 
Rambu 1: Menyebarkan prinsip-prinsip dakwah dalam sirah Nabi SAW: 
  1. Kontak Pribadi (Ittishal Fardi)
  2. Kontak Umum (Ittishal Jama’i)
Setelah itu, maka dilakukan pembentukan da’wah, yaitu kaderisasi (rambu 2). Ini merupakan penyempurna rambu pertama. Mereka yang tidak melakukan kaderisasi setelah menyampaikan dakwah tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya (Ar:Ra’d 14). (halm. 181)
Rambu 3: Konfrontasi bersenjata dalam musuh dakwah yang merupakan wewenang khusus pimpinan tertinggi dalam jamaah. Dan konfrontasi tidak dapat dilakukan kecuali setelah adanya tentara yang memadai untuk itu (halm. 204). 
Rambu 4: Sirriyah (sembunyi-sembunyi) dalam kerja membina jama’ah. Ini suatu prinsip yang sangat penting, agar jama’ah tidak dipukul pada usia bayi. Hanya menyangkut aspek penataan saja, bukan menyangkut aspek pemikiran yang harus dikemukakan (halm. 214). 
Rambu 5: Bersabar atas gangguan musuh. Yaitu kesabaran seluruh anggota jama’ah dan keberhasilan mereka meredam emosi dalam menghadapi setiap gangguan dan ejekan musuh. 
Rambu 6: Menghindari medan pertempuran. Pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Sesungguhnya menjauhkan orang-orang yang telah menerima dakwan dari tekanan penguasa yang zalim, adalah tindakan yang wajib diambil oleh jama’ah dan para da’i (halm. 223). 
Di bagian ke-4 buku ini, penulis membahas tentang: Tabiat Jalan menuju Jama’atul Muslimin. Bentuk-bentuk fitnah yang akan dihadapi oleh setiap Mu’min yang berjalan di atas jalan ini. Dan orang yang berhasil adalah orang yang dapat melintasiny, sedangkan dia tetap brada di jalannya menuju Allah SWT. Beberapa bentuk ujian menurut Sayyid Qutbh (halm. 234)
  1. Penganiayaan dari kebatilan dan para pelaku kebatilan
  2. Fitnah yang menimpa keluarga dan orang-orang yang dicintai lantaran dirinya 
  3. Pemihakan dunia kepada orang-orang yang menolak kebenaran
  4. Keasingan di tengah lingkungan karena aqidah
  5. Mendapati bangsa-bangsa dan negara-negara di duna ini tenggelam dalam kenistaan, tetapi mereka maju dan berperadaban modern
  6. Fitnah popularises dan daya tarik kehidupan dunia
  7. Fitnah lambatnya kemenangan dan panjangnya perjalanan 
  8. Fitnah kebanggaan diri dan penyadaran segala sessuata kepada dirinya setelah tercapai kemenangan. 
Lalu, di bagian akhir buku ini, penulis menuliskan beberapa contoh jama’ah mulai sejarah berdirinya, tujuan, sarana-sarana, prinsip dan pemikiran. Empat jama’ah yang dikupas adalah: 
  1. Jama’ah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah
  2. Hizbut Tahrir
  3. Jama’ah Tabligh
  4. Jama’ah Ikhwanul Muslimin.
———
Bagi saya, buku ini begitu lengkap dalam menyajikan tentang pelajaran politik Islam. Karena politik adalah hak, bukanlah momok yang mesti dijauhi dari kehidupan sehari-hari. Bukankah setiap kita juga berpolitik, menyuruh anak mandi lebih cepat juga memakai negosiasi, menawar harga di tukang jualan juga politik. Maka memisahkan politik dan ajaran agama (sekulerisasi) merupakan hal yang mustahil. Jika politik itu dikatakan kotor, itu mungkin karena pelaku politiknya, bukannya sifat politik itu sendiri.
Buku ini mengupas lengkap yang menurut saya adalah strategi perpolitikan Islam. Dilengkapi contoh-contoh bagaimana Rosulullah SAW telah melakukannya semasa beliau hidup, contoh-contoh dari para sahabat, maka seperti itulah mestinya kita tinggal meniru apa yang telah beliau lakukan sebelumnya. Jika meniru, tirulah dari yang terbaik. 
Buku ini saya rekomendasikan sebagai bacaan anak SMA. Di saat banyak pertanyaan tentang “Kenapa Islam begini, begitu.. “. Usia SMA adalah usia yang ideal untuk mengenalkan politik kepada remaja, karena di saat itulah, usia 17 tahun, hak politik mereka akan menentukan ke mana arah bangsa ini menuju.
Banyak pencerahan yang saya temukan ketika dan setelah membaca buku ini. Tentang mengapa Indonesia membantu warga Rohingya yang teraniaya karena keyakinannya dalam berIslam. 
Nilai buku: ***** (bintang lima dari level 1-5). 

Monday, December 11, 2017

Keajaiban Sedekah! 2000 rupiah Yang Menyelamatkan Hari Saya

Keajaiban Sedekah! 2000 rupiah Yang Menyelamatkan Hari Saya

Ajaib! Hanya itu satu kata yang mampu menggambarkan perasaan saya tadi siang. Saya tak mampu menahan diri untuk menuliskan cerita ini, sebagai pengingat diri saya agar tetap yakin bahwa keajaiban itu nyata adanya. 

Cerita ini saya awali dengan keputusan tadi pagi untuk membawa anak saya ikut ke tempat pencucian motor. Ternyata Senin pagi tadi ramai sekali sehingga kami menunggu hingga lebih dari 30 menit. Motor saya motor manual dengan jeruji yang masih asli, belum yang velg racing. Intinya memang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencuci motor saya dibandingkan motor matic. 

Biaya cuci motor 13.000 rupiah ketika saya tanya ke Ibu kasir. Saya kasih lebih 2000. Intinya sih mengapresiasi kerjanya. 

Dengan motor bersih, sayapun melaju bersama anak kedua saya untuk menuju tempat day carenya. Isengnya saya, mencoba lewat jalur baru. Ke jalan Cigadung yang sedang dicor beton jalannya. Saya terus melaju hingga saya bertanya pada seorang Ibu dan 2 orang petugas Satpol PP yang tampak sedang mengobrol di dupant rumah Ibu tersebut.

Saya menghentikan motor dan bertanya “Bu, kalau mau ke Cigadung lewat mana ya?”
“Wah, lewat sana. Di sini mah buntu, jalannya masih ditutup” 

Dan itu mengharuskan saya untuk memutar balik arah motor saya. Alhamdulillah tadi siang tidak terlalu terik matahari bersinar. Mesin motor saya mati tiba-tiba!

Saya mencoba men-starter motor dengan cara manual dan otomatis, tapi sia-sia belaka. Hingga Ibu tersebut bilang ke Bapak Satpol PP untuk membantu saya. Dianalisanya motor saya. Lalu dia berkata “wah ini mah businya kayaknya”.

Deg! Saya hanya tahu memakai dan merawat motor, bukan untuk mengganti busi.

Lalu di mana ajaibnya?

Ajaibnya, Bapak Satpol PP itu membantu saya. Membuka skrup di motor untuk melepas busi motor yang ternyata memang sudah usang. AJAIBNYA lagi, dia meninggalkan saya sebentar untuk MENGAMBIL BUSI yang baru saja dia beli sebagai cadangan. Ajaib keempat, BUSINYA pas dengan busi motor saya! 

Masyaallah. Alhamdulillah saya membawa uang tunai untuk membayar busi baru yang akhirnya dipasangkan di motor saya. Sepulangnya, saya masih terheran-heran dengan kebetulan yang terjadi. Matinya mesin motor tepat di depan rumah orang, tak terbayangkan jika mesin mati in the middle of nowhere, apalagi kalau hujan, apalagi kalau tanpa uang tunai. 


Masyaallah… Saya mengambil hikmah ini semua sebagai berkah sedekah 2000 rupiah tadi pagi. Mungkin juga bukan, saya tidak tahu. Tapi pastinya, saya merasa mesti menuliskan kisah ini bahwa sedekah adalah penolak bala dan pembawa keajaiban. Insyaallah… 

Sunday, December 10, 2017

Berpayah-payah Kewajiban, Bersenang-senang Kemudian

Berpayah-payah Kewajiban, Bersenang-senang Kemudian

Kita sering diajari untuk melakukan kewajiban sebelum meminta hak. Saya sering diajari seperti ini. Menjadi sebuah belief dalam melakukan banyak hal. Contohnya ketika pekan ini, saya dan beberapa kawan diminta untuk hadir dalam rangkaian kegiatan bedah buku. Tidak banyak orang yang diundang, karena ini merupakan bedah buku tanpa menghadirkan penulisnya yang sudah wafat. Semacam acara review buku bersama-sama. 

Buku yang dibahas bukan santapan harian saya. Jika diibaratkan makanan, buku ini mengandung lebih banyak gizi, lebih berat dari kebiasaan materi buku bacaan saya sehari-hari. Dan itu menjadi seolah momok, tanggung jawab lebih berat dari biasanya. 

Ketika buku yang diminta review nya belum saya selesaikan, itu seolah mempunyai kewajiban yang belum selesai. Dan itu semacam mimpi yang menghantui. Berhari-hari saya membaca halaman per halaman yang ternyata penting sehingga saya membutuhkan stabilo untuk menggarisbawahi hal-hal super penting.

Syukurlah tadi pagi hingga siang, acaranya ini sudah terlaksana. Walau belum tuntas membacanya, saya percaya diri untuk menyampaikan pendapat. Dan setelah acara ini selesai, rasanya lega, plong. Seperti terlepas beban yang ada di pundak. Sehingga ringan rasanya badan dan pikiran. Lalu saya bisa tidur siang dengan tenang. Hahaha.

Beberapa hal yang dapat saya ambil pelajaran dari ini: 
1. Ketika kewajban dilakukan terlebih dahulu, waktu terasa lebih banyak, tidak tergesa-gesa, pada akhirnya, lebih tenang yang mana akhirnya berimbas pada kesabaran dan ketidakemosionalan.

2. Buku mempunyai hak untuk dibaca. Dan jika haknya diberikan, maka buku itu diam dan berterima kasih. Tugasnya untuk memberikan ilmu yang kita butuhkan sudah selesai. Maka tiap kali kita melewati rak buku, dia tak akan memanggil-manggil lagi. Dan tak akan menjadi sebuah pe er baru untuk mesti dikerjakan. 

3. Istirahat sangatlah penting. Sayangnya itu hanya bisa dilakukan dengan nikmat ketika kewajiban selesai ditunaikan. Semakin menunda pekerjaan, maka semakin lama waktu istirahat tiba. Dan semakin lama waktu istirahat tiba, semakin lelah pikiran karena memikirkan istirahat yang tak kunjung tiba. Ini seperti lingkaran setan yang cara memutusnya sangat mudah dan terlihat jelas. Lakukan kewajiban. Do what we have to do

Kembali lagi saya berpikir, malas adalah kawan seperjalanan jika ingin terus menerus spanneng, stress. Sedangkan rajin, tekun, disiplin, adalah kawan seperjalanan jika ingin tenang, produktif. Mana yang saya pilih, kadang kali salah. Tapi bukankah kita menghargai proses istiqomah? Semoga ini bukan hanya alasan pembenaran kemalasan saya. Hohoho.

Baiklah, mari menjadikan hidup kita seperti tulisan di kalender:
Tiada hari tanpa prestasi 
Menunda-nunda adalah menghabiskan waktu dan tenaga 


Siap-siap untuk 2018. Yeay! 

Saturday, December 09, 2017

Zaman Now, Jadikan 30%

Zaman Now, Jadikan 30%

Seorang kawan MI saya, adalah Presiden Direktur dari grup perusahaan yang didirikan alharhum ayahnya. Setelah lebih dari 17 tahun tidak berjumpa, kawan-kawan sayapun mengadakan reuni kecil-kecilan saat Sang Presdir ada acara di kota Malang. Dengan padatnya jadwal, ke-7 kawan saya bertemu kurang lebih selama 2 jam. Saya tidak ikutan, hanya memantau dari WA grup. 

Pertemuan yang singkat namun bermakna. Alhamdulilah, berkah silaturahim. Saya tidak ikut dalam pertemuan itu, namun hangatnya pertemuan itu terasa walau terpisah ber-ratus kilometer jauhnya. 

Kawan saya itu, tetap humble, seperti seolah dia tidak lebih tinggi dari kami. Padahal, dari segi ekonomi, dia selalu lebih dari kami semua. Zaman kami SD dulu, kami selalu teringat wangi KFC yang dibawakan oleh pengantarnya ketika kami mesti les dan pulang lebih siang. Dia makan KFC di antara kami yang makan nasi bungkus apa adanya. KFC benar-benar menjadi anchor kawan saya ini. 

Dia ke Malang karena ada rapat perusahaannya, selama 3 hari. Grup perusahaan yang telah berusia 51 tahun. 

Yang menggelitik saya untuk menulis ini adalah rekap hasil silaturahim kawan-kawan saya. Satu tips bisnis yang beda dari yang saya pernah lihat sebelumnya. Kunci sukses yang ditemukan melalui perjalanan 3 kali bangkrut, kunci sukses yang sudah terbukti. Kunci sukses yang ingin saya tulis agar makin terpatri.

2.5% adalah batas pelit orang. Ketika zakat yang 2.5% itu tidak dikeluarkan, kata ustadz yang saya dengar, itu sama saja dengan mencuri hak orang lain. Maka zakat wajib dikeluarkan sesuai fiqih aturan yang berlaku. 

Setelah itu, ada sedekah, infaq. Yang besarannya bebas. Semakin besar semakin baik, karena sedekah adalah penjaga diri dari kemalangan, penolak bala, penjaga kesehatan. Nah, yang dulu diajarkan di IIBF, adalah 10% sedekah. http://www.mirajnews.com/2016/09/iibf-jadikan-sedekah-10-penghasilan-sebagai-prinsip.html 

Di masa sulit orang tua kami mengajarkan untuk memperbanyak sedekah.. dan kami pelajari obat bisa bangkit lagi adalah kekuatan doa,’ tulis kawan saya di WA. 

Di samping diversifikasi usaha, pembagian 100% hasil usaha di grup perusahaan ini dibagi menjadi: 
  1. 30% Amal 
  2. 30% tambahan modal perusahaan 
  3. 30% karyawan
  4. 10% diri sendiri


Presiden Direktur muda yang berusia 34 (tiga puluh empat) tahun ini membagikan pelajaran hidup yang dialami Hasnur Grup. Masyaallah. Terucap semoga kawan saya, almarhum&almarhumah orang tuanya, serta Hasnur Grup selalu diberikan kelancaran, kemudahan, kelapangan usaha, dan berkah usahanya dunia akhirat. Aamiin. 

Thursday, December 07, 2017

Setelah Tantangan Pilates 1 Bulan Pertama, Ini Hasilnya…

Setelah Tantangan Pilates 1 Bulan Pertama, Ini Hasilnya…

Saya sudah 1/3 jalan dari tantangan diri sendiri 3 bulan pilates dimulai November 2017 - Januari 2018. Dan, saatnya membuat rekapitulasi tentang 1 bulan pertama. Apa yang bisa saya pelajari, dan mungkin bisa menginspirasi bagi yang ingin, sedang, akan, membuat tantangan. Inspirasi untuk resolusi 2018. Hehehe. Resolusi yang kebanyakan hanya jadi resolusi tahun depannya lagi. Hehehe. 

Baiklah, bagi yang mengikuti blog ini, tentu mengetahui bahwa saya mempunyai interest di pilates. Pilates adalah olahraga pertama yang saya tekuni, walau sampai sekarang masih amatir. Hihi. Maklum pilatesnya dari Youtube. Saya beli CD nya, hanya setelah saya tahu bahwa ada videonya di Youtube, maka saya beralih ke Youtube aja. Hehehe. Sayang-sayang CDnya, takut kalau lecet-lecet kebanyakan diputar. 

Baiklah, jadi, ini yang ingin saya bagikan di postingan kali ini. 

Saya kan melingkari kalender tiap kali pilates, kan. Dari 30 hari di bulan November 2017, ternyata saya bisa pilates 20 hari. Dengan durasi rata-rata yang 20 menit tiap hari. Ini lho efek yang berbeda dari melingkari kalender: 
  1. Saya bisa keeping track tentang apa yang saya sudah lakukan
  2. Evaluasi & peningkatan untuk mencapai target. Bahasa kerennya muhasabah diri. Muhasabah dari kata hitung. Hisab. 

Dua poin penting yang menjadikan pertumbuhan terasa berarti. Dan menjadikan diri mengapresiasi apa yang telah dilakukan, walau mungkin target belum tercapai. 

20 hari saya pilates, dari target 30 hari. Jadi berapa persen itu? 66.67% keberhasilan. Maka jika saya ingin meningkatkan 10% saja keberhasilan di bulan ini, maka saya minimal mencapai angka 76%, maka saya mesti olahraga 22.8 hari dari 31 hari di bulan Desember 2017. Hanya nambah 3 hari dari yang sekarang. Hm, sepertinya tak berat. Hohohoho. 

Ok, evaluasi. Evaluasi ada di berat badan dan lingkar badan kayaknya ya. Setelah 20 hari pilates di November, saya merasa: 
  1. Tidak mudah lelah
  2. Tidak lagi bergantung pada #sikecilhijau untuk menjaga berat badan
  3. Tidak mengalami moodswing parah dan sakit perut ketika tamu bulanan datang
  4. Ada baju yang mulai muat, haha. Jadinya sekarang malah pengen njahit kain-kain yang pada nganggur. 

Empat hal ini hanya bisa saya amati ketika saya flashback dan melihat perjalanan pilates sebulan lalu. Jika saya tak menyimpan record saya, pasti saya tidak bisa mencanangkan target lebih tinggi di bulan Desember. Bisa jadi saya malah tetap di angka 20 hari, tidak bertambah 10%. 

Karena saya menuliskan record, maka saya bisa mengukur. Begitu juga yang berlaku dalam bisnis. Jika kita tidak menulis apa yang telah kita kerjakan, bagaimana kita bisa mengukur tingkat efektif pekerjaan itu? Kadang hal itu terlepas begitu saja, nulis status dianggap biasa saja. Padahal sebagai penjual online kan nulis status itu penting. Meningkatkan engagement. Berapa jumlah status yang kita tulis? Berapa efektif status itu untuk meningkatkan engagement kita? Berapa persen yang akan kita tingkatkan? Mana targetnya? Hohoho.

Sudah dulu, ini kok mbahas pilates jadi mbahas bisnis. Hwhwkww.

Dag! Selamat melingkari kalender!




Wednesday, December 06, 2017

Bagaimana Agar Diri Bisa Konsisten?

Bagaimana Agar Diri Bisa Konsisten?

Setelah kemarin saya membahas tentang reward dari konsisten, istiqomah, dunia akhirat, kayaknya sudah pada mau ya berusaha untuk konsisten, kan? Bukankah istiqomah, konsisten itu berat di awalnya? Seperti menulis ini contohnya. Ada tantangan untuk menulis 30 hari tanpa henti dipublish di blog, di grup saya. Awalnya bingung, mau nulis apa, tapi kata guru kami, Mas Teddi, sekarang goalnya konsisten dulu. Membiasakan menulis. Kualitas nanti saja. Jadi sekarang saya membiasakan dulu untuk menulis, 1 halaman per hari.  

Saya mengamati, ada beberapa tools yang bisa membantu konsisten. Baik dari internal maupun external diri. 

Saya bahas untuk internal terlebih dahulu. Internal diri, yang penting adalah niat sungguh-sungguh untuk melakukan hal yang ingin dilakukan secara konsisten. Misalkan menulis ya contohnya. Tanyakan apa komitmen diri. Apakah ada komitmen? 
  1. Apakah ini penting buat saya? 
  2. Mengapa ini penting?
  3. Apakah saya benar-benar mau melakukan ini? 
  4. Bagaimana agar saya bisa mencapai apa yang saya inginkan? 
  5. Perlukah saya memberi reward? Ataukah saya tipe yang menjauhi punishment?
  6. Apa yang akan saya dapat dengan melakukan hal ini? 
  7. Apa yang akan saya lakukan untuk menjadikan konsisten? 
  8. Dan seterusnya…

Menulis, biasanya menjadi alat bantu ampuh dalam menjaga ke-konsisten-an. Menulis tangan, yang mampu mengingatkan tentang record hal yang ingin kita konsistenkan. Kalau menulis di blog, saya mengetiknya menjadi 1 file. Sehingga terekam sudah berapa hari saya menulis. Misalkan day 1, day 2, dan judulnya. Selain itu, tentu ada rekaman di blog tanggal berapa saya posting. Dan juga ada di grup tempat laporan postingan. 

Sedangkan untuk pilates, saya awalnya mencanangkan waktu target 3 bulan untuk merutinkan kembali pilates, saya usahakan tiap hari. Saya ada kalender khusus yang saya lingkari setiap saya selesai melakukan pilates, dan saya juga tulis durasi pilates saya. Kalender itu mengingatkan saya walau sudah malam hari misalkan saya belum pilates, maka kalender itu seolah memanggil saya untuk ber-pilates. Kalender ini menguatkan saya. Dan ketika saya selesai pilates, melingkarinya membuat perasaan lega, nyaman, dan rasa sehat. Bangga kepada diri karena mampu menjalankan komitmen diri.

Karena seperti yang saya baca, dan akhirnya saya yakini, bahwa orang yang kuat adalah bukan orang yang menang gulat, namun orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Dalam hal ini, saya letakkan di disiplin diri. Jika tak ada orang yang mampu selalu mengingatkan tentang kebiasaan ini, misalkan personal trainer, maka ya mesti bergantung pada kekuatan disiplin diri. Internal. 

Toh, tidak ada yang menyuruh kita melakukannya, kan? Kita ingin, lalu kita lakukan, dan kita berkonsisten untuk melakukannya. Karena tak ada yang mustahil diraih jika kita konsisten. 


Selamat pagi, selamat melingkari kalender! 

Tuesday, December 05, 2017

Reward for Being Consistent

Reward for Being Consistent

Mengutip salah satu iklan “Maybe It’s My Fault" yang dibawakan Michael Jordan, the Michael Jordan, yang bisa ditonton di sini: 
https://www.youtube.com/watch?v=9zSVu76AX3I

Berikut yang dikatakannya: 
"Maybe it's my fault. 
Maybe I led you to believe it was easy, when it wasn't. 
Maybe I made you think my highlights started at the free throw line, and not at the gym. 
Maybe I made you think that every shot I took was a game winner. That my game was built on flash, and not fire. 
Maybe it's my fault that you didn't see that failure gave me strength, that my pain was my motivation. 
Maybe I led you to believe that basketball was a God given gift, and not something I worked for every single day of my life. 
Maybe I destroyed the game. 
Or maybe you're just making excuses."

Kata kunci yang saya tangkap di kalimat itu adalah something I worked for every single day of my life. Amazing bagaimana konsisten memegang peranan penting dalam kegemilangan karir Michael Jordan.

Ada yang menarik dengan konsisten, atau yang bisa juga diartikan sebagai istiqomah. 
«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”.
(Hadits Shahih, Riwayat Bukhori dan Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 163).

Menarik bahwa konsisten juga berpengaruh pada akhirat, tak hanya di dunia. Di dunia, jelas jika kita berkaca pada Michael Jordan, konsisten telah membawanya ke tempat di mana orang belum pernah mendudukinya. Bahkan perusahaan sekelas Nike, membuatkan brand sendiri untuknya, Air Jordan. Jordan adalah inspirasi konsisten, pantang menyerah, dan haus akan prestasi. Di balik semua yang tampak mudah ketika dia melakukannya, ada ratusan ribu jam telah ia habiskan dengan berlatih. Menerima kekalahan. Tapi ketika kemenangannya datang, ia tak tampak pernah kalah. Kekalahannya, tersapu oleh kegemilangan prestasinya.

Jordan mengajarkan tentang determinasi. Tentang respect. Tentang tidak berburuk sangka kepada hasil saat itu, namun terus memperbaiki diri untuk tetap melaju. Jordan mengajarkan bahwa dunia akan mendatangi ketika seseorang berprestasi. Dunia akan menghampiri, ketika seseorang terus menerus mengasah kemampuannya, bersikap humble dan tak lupa di mana ia berasal. 


Michael Jordan, mengajarkan nilai-nilai yang sama sebagaimana Rosulullah SAW ajarkan. Determinasi, visioner, respect, dan terus bergerak, konsistens menuju visi. Everything has price, and for dunya and the hereafter, for me, the price is called consistent. 

Monday, December 04, 2017

Win some, lose some

Win some, lose some

Itu kalimat yang diucapkan terduga Red John, di episode akhir season 3; ketika agen Teresa Lisbon me-redial Telpon O’Laughlin yang tertembak mati. 

Win Some, Lose Some”. Sebuah ungkapan yang menurut kamus idiom dari www.thefreedictionary.com artinya: Prov. Cliché You cannot always succeed. (You can say this when you have not succeeded, to show that you are not discouraged.). Yang kurang lebih artinya kita tidak bisa selalu sukses. Ungkapan ini diucapkan pada saat kita belum sukses, untuk menunjukkan bahwa kita tidak patah semangat. 

Sebuah idiom yang mengajarkan tentang sportifitas dan optimisme di waktu yang sama. Sportif dalam hal menerima kekalahan, namun tak menyerah untuk berusaha lagi. Akan selalu ada hari esok, akan selalu ada kesempatan kedua. Karena tiap hari adalah lembaran baru. 

Kenapa saya menulis ini, tak lain dan tak bukan adalah seleksi CV saya yang tak masuk seleksi kedua. Dari 150 orang lebih, hanya diambil 5 orang. Sangat ketat. Saya bertanya-tanya apa yang membuat saya tidak masuk seleksi. Suami menguatkan dengan memberikan 1 alasan masuk akal yang bisa saya terima, karena saya tidak menyertakan skor TOEFL atau IELTS. Sangat masuk akal. 

Persiapan yang tak terpikirkan sebelumnya. Ya memang mepetnya waktu, saya tidak mungkin untuk les dulu lalu ambil tes. Saya disarankan untuk mempersiapkan TOEFL atau IELTS jika memang serius ingin mencari program-program serupa. Seperti yang saya tulis sebelumnya, keberuntungan adalah pertemuan persiapan dengan kesempatan. Kesempatan mungkin tak selalu datang, itu external, di luar lingkaran pengaruh kita. Sedangkan persiapan, ini internal, ada di lingkaran pengaruh yang bisa kita utak-atik kondisinya. 

Maka saya bertanya pada diri sendiri do I want this? Jika ya, will I pay the price? Is it important? Will it help me to be the person I want to be? If it’s important, what should I do to get better chance next time? What should I improve? Pikiran-pikiran ini berkecamuk di benak saya. Untungnya belajar coaching adalah kita bisa melakukan self-coaching. Me-coaching diri sendiri. Hehehe. 

Setelah mendapat jawabannya, saya tahu apa yang akan saya lakukan esok untuk menyongsong kesempatan berikutnya. Mungkin kegagalan ini salah satu jalan bagi saya untuk meningkatkan kapasitas diri. Mungkin selama ini saya mengira bahwa saya sudah bagus, nyatanya saya salah. Mungkin saya hanya jago kandang.

Astaghfirullah. Saya menarik nafas panjang. 

Well, I lose some, I win some. Buktinya Allah SWT memberi saya hiburan di sore ini. Saya yang niatnya rapat untuk project, malah dipertemukan dengan orang yang bertanggung jawab atas event mingguan Bandung Berdaya. Selanjutnya diminta untuk menjadi salah satu pembicara Januari esok insyaallah. Hal yang tak terduga. 

Ah, saya jadi malu. Terima kasih Allah.. I win some, I lose some. Appreciation towards winning should be bigger than disappointment to my loses, no matter how small the winning is. 


Lalu, saya bisa tersenyum. Alhamdulillah. Ah, menulis memang menyehatkan jiwa.

Sunday, December 03, 2017

Being in Bad Relationship is Nightmare

Being in Bad Relationship is Nightmare

Setelah menghabiskan beberapa waktu bercengkerama dengan kawan-kawan saya, tetiba muncul kalimat ini di benak saya.
Simple, tapi menggelitik.

Banyak orang yang masih sendiri, di seumuran saya, untuk mendapatkan pasangan. Menghabiskan waktu untuk menua bersama,

"Grow Old With You"

[Billy Idol (Speaking):] Good afternoon everyone
We're flying at 26,000 feet, moving up to thirty thousand feet
And then we've got clear skies all the way to Las Vegas
And right now we're bringing you some in-flight entertainment
One of our first-class passengers would like to sing you a song
Inspired by one of our coach passengers
And since we let our first-class passengers do pretty much whatever they want
Here he is

[Robbie Hart (Singing):]
I wanna make you smile whenever you're sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I'll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh, it could be so nice, growing old with you

I'll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let you hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed when you've had too much to drink
Oh, I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you

Bukankah impian tiap orang untuk bersama orang yang dicintai, selamanya. Sayangnya, tidak semua orang tertakdir untuk bersama seseorang di dunia. Saya pernah bertemu orang yang hingga hari tuanya, tak bersama. Itu pilihan.

Yang saya sayangkan adalah, kadang orang memaksakan berada dalam satu hubungan yang tidak sehat. Yang mengkonsumsi jiwa, raga, dan mungkin harta. Hubungan yang terlihat jelas bagi orang lain tidak sehat, namun bagi orang yang ada di dalam hubungan itu, mereka tampak seperti tidak punya pilihan.

Saya menarik nafas panjang saat menulis ini. Dalam, dan sulit. Hanya saja, berada dalam hubungan yang tidak sehat, sama saja seperti mimpi buruk. Mimpi buruk yang begitu nyata, durasi lama, dan kadang menyisakan isak tangis atau amarah ketika diri terbangun.

Hidup adalah pilihan. Dan dari tiap pilihan akan muncul konsekuensi.

Berada dalam hubungan yang buruk adalah pilihan, begitu pula keluar dari hubungan itu, tentu ada harganya. Apapun pilihannya, menceritakan hubungan yang buruk kepada orang yang bisa dipercaya dan memberikan solusi adalah yang terbaik. Kadang orang hanya butuh dikuatkan untuk mengambil keputusan. Sayangnya, orang yang menguatkan, belum pernah ada, sehingga ragu terus melanda, dan akhirnya tak bisa keluar dari pusaran hubungan buruk. Forever nightmare