Monday, February 12, 2018

A & E (17)

A & E (17)

Hai, apa kabarmu? 
Semoga kau di sana baik-baik saja. 
Kau tahu, semakin lama ini semakin membosankan. 
Kau tidak jelas kabar beritanya. 
Aku rasa. Kita lebih baik berpisah saja. 
Kau dengan hidupmu. 
Aku dengan hidupku. 
Tidak ada lagi “kita”. 
Kurasa ini lebih baik, daripada aku terus menerus berharap kedatangan e-mailmu, telponmu. 
Aku memutuskan untuk menyudahi saja. 
Entah kapan kau akan baca ini. 
Aku akan belajar untuk tak peduli. 
Aku akan belajar berhenti memikirkanmu. 
Aku akan belajar berhenti mengangankanmu di belahan dunia yang berbeda. 
Aku akan belajar berhenti menangisi kita. 
Terima kasih. 
Tak perlu kau balas e-mail ini. Seperti yang lain-lainnya. 
Aku mengirimkannya agar kau paham. Silakan kau dengan yang lainnya. Dan aku dengan selainmu. 




Yang pernah sangat menantimu, 


Aurora. 

Wednesday, February 07, 2018

A & E (16)

A & E (16)

"Kau tahu," ucap Elang saat mereka makan patat oorlog (kentang goreng ala Belanda) di anak tangga gedung entah apa namanya sembari memandangi orang-orang berlalu lalang.

"Wanita itu tak harus bisa masak," lanjutnya.

"Iya, aku tahu," jawab Ola sambil menikmati patatnya yang masih hangat.

Kentang goreng ala Belanda ini besar-besar potongannya, bukan seperti French Fries yang langsing-langsing itu. Bumbu oorlog (perang) adalah campuran antara mayonaise, saos kacang, dan sambal. Enak luar biasa. Harga 1.5 Euro, bisa kenyang seketika.

"Kau tahu juga apa alasanku?"

"Tahu"

"Apa memangnya?"

"Ya, karena wanita itu memasak mestinya karena dia ingin. Bukan karena dia harus"

"Hampir"

"Hmmm...karena banyak penjual makanan. Kalau para wanita jago masak, nanti penjualnya kurang laku. Sehingga roda ekonomi melambat. Lalu akhirnya akan menyulitkan negara"

"Berlebihan"

"Ya, mana kutahu apa alasanmu"

"Karena... memasak itu mesti pakai bumbu cinta. Kalau pakai bumbu paksa, rasanya mungkin tak selezat yang pakai cinta, walau resepnya sama"

"Hahaha. Ya ya ya. Kau tidak sedang merayuku, kan?"

"Apa manfaatnya merayumu?"

"Agar aku jatuh cinta"

"Aku tak merayu saja kau sudah jatuh cinta. Apalagi kalau aku merayumu, bisa bahaya. Hahaha," Elang tertawa puas sambil melihat raut muka Ola yang bersemu merah.

"Kepedean!"

"Tak apa, asalkan kau suka. Aku sudah cukup bahagia"

"Halah. Mana bisa bahagia kalau perut lapar?"

"Bisa. Rosulullah pernah beberapa purnama dapurnya tak mengeluarkan asap, tapi subhanallah istri-istrinya sabar, tetap cinta, tetap bahagia"

"Aneh!"

"Bukan aneh. Kau saja yang belum pernah merasakannya. Jadi kau tak paham. Yang kau lakukan saat kau lapar ya marah, bete"

"Ah kata siapa. Kalau Ramadhan aku sabar"

"Iya kalau Ramadhannya wintertijd (winter time), kalau summer? Hahaha. Tak mampu kubayangkan wajahmu yang menahan lapar lebih dari 18 jam" nada Elang mengejek Ola

"Eits... beda. Ibadah ya ibadah. Kalau lapar tanpa niat ibadah, ya lapar lah. Kalau Ramadhan kan jadi sholehah. Kenapa ya?"

"Good question!"

"I know"

"Habis ini kita ke mana? Madame Tussaud?"

"Hmmm," Ola masih mengunyah patatnya.

"Sepertinya aku ingin naik kapal melewati sungai saja"

"Ah, macam turis?"

"Iya. Kan kita turis"

"Lima tahun kok turis. Satu minggu itu yang turis"

"Ya ya ya, mau kan temani aku?"

"Iya, mau. Ayo! Habiskan dulu patatnya, La"

"Iya. Terima kasih Elang"

"Sama-sama Ola"


Merekapun melanjutkan makan patat terenak yang pernah mereka rasakan. Tak tahu bahwa itu patat terakhir yang mereka makan bersama, sebelum Ola memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Monday, February 05, 2018

A & E (15)

A & E (15)

"I miss you..." suara Elang lirih tapi terdengar jelas oleh Ola. Skype malam itu jelas sekali. Seperti biasa Ola menemani Elang mengerjakan tugasnya jika Elang libur kerja.

"Kau ngelindur?"

"Hah?"

"Ya. Kau meracau"

"Aku?"

"Iya"

"Kenapa memangnya?"

"Tadi barusan kau bilang apa?"

"Bilang apa?"

"Yang barusan?"

"Memang aku bilang apa?"

"Ah, pura-pura. Ya sudah"

"Lho, memangnya aku bilang apa?"

"Aku takkan mengatakannya"

"Bagaimana aku tahu apa yang kukatakan kalau kau tak mengatakan padaku apa yang kukatakan?"

"Trikmu itu. Aku bukan remaja usia 16 tahun"

"Kau dengar apa yang kukatakan?"

"Dengar"

"Jadi, apa yang kukatakan?"

"Aku takkan mengatakannya," Ola tegas sekali mengucapkannya

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Baiklah. Tak mengapa kalau kau tak mau mengatakannya"

"Oh please. Sudah sana kerjakan tugasmu. Aku mau tidur saja."

"Merajuk"

"Siapa?"

"Kaulah. Masa tetanggaku yang punya kucing dua?"

"Aku tak merajuk. Aku ingin tidur saja. Kau lanjutkan saja kerjakan tugasmu"

"Ini masih jam sepuluh"

"Ya, tapi aku sudah mengantuk"

"OK kalau begitu. Kau ingin aku mengucapkannya lagi?"

"Apa?"

"Yang tadi kau dengar"

"Terserah"

"OK"

Ola menanti. Tapi Elang diam saja. Tak mengucap sepatah katapun.

"Katanya kau mau mengucapkannya sekali lagi?" Ola penasaran

"Tak jadi. Nanti tak jadi istimewa bila ku sering mengucapkannya. Nanti kau bosan"

"Haha. Ya sudah. Terserah kau saja"

"Iya. Sekali lagi aku mau memastikan. Kau dengar apa yang tadi kukatakan, kan?"

"Iya," wajah Ola bersemu

"Baiklah. Kau ingat baik-baik ya. Simpan di memorimu. Kunjungi kapanpun kau mau"

"Iya. Mengingatmu mengatakannya saja akan membuatku bahagia"

"Selamat malam, Ola"

"Selamat malam, Elang"



Desir angin di Amsterdam seolah mengirimkan rindu untuk Ola. Sampai jumpa esok, bintangku. Pikiran berkelebat di kepala Elang sebelum ia menekan tombol Off di Skypenya.









Sunday, February 04, 2018

A&E (14)

A&E (14)

Ola, jika diartikan dari Bahasa Spanyol, panggilanmu itu artinya Halo. Sapaan ringan dan indah. Mungkin itu kenapa aku susah melupakanmu. Karena menyapa ada di setiap sendi kehidupanku. Ketika aku bertemu kawanku Bea, dia menyebutkan namamu "Ola, Elang!". Maka otomatis teringat aku padamu.

Maafkan sudah agak lama aku tak menulis untukmu. Tugasku banyak. Ada beberapa praktikum yang mesti aku selesaikan. Dosen agak galak. Akunya keteteran antara kerja dan kuliah. Tiap hari aku pulang larut malam, ketiduran, dan paginya rutinitas berulang. Aku naik bus jam 06.32, beli sandwich di stasiun, lalu begitu seterusnya. Belanda baik-baik saja. Amsterdam masih sama seperti biasanya. Akunya mungkin yang agak-agak kurang bersyukur hidup di sini. Beberapa hari aku tergolek sakit, lalu ingat dirimu. Biasanya akan ada kau yang menjenguk dan memasak untukku. Minimal teh manis hangat buatanmu itu menemani kedatanganmu. Tapi ya sudahlah, untung kemarin ada Wisnu yang mau mampir tiap sore. Jadi sedikit terobati dan tak merasa benar-benar sendirian.

Jadi, kau bagaimana?

Jangan berburuk sangka padaku, La. Kerinduanmu itu kurasakan juga. Tapi kau wanita, lebih melodrama. Aku biasa menyembunyikan di balik tumpukan piring kotor yang kucuci setiap malamnya. Kusembunyikan di balik lembaran kertas yang mesti aku pelajari. Rumus programming yang mesti aku kumpulkan demi kelulusanku. Aku rindu kau, pasti.

Kau ingat cerita Laila Majnun? Sepertinya aku ingin mengulang membacanya.

Ceritakan padaku tentang Bandung. Aku rindu obrolan kita di sana.





Maafkan Elangmu yang sibuk ini.

Saturday, February 03, 2018

A & E (13)

A & E (13)

Lang, sesibuk apapun dirimu, menulislah untukku. Tak panjangpun tak mengapa. Asalkan kau yang menuliskannya, aku pasti suka. Tak peduli walau hanya 3 kata: aku kangen kau. Itupun tak mengapa. Menulis sajalah agar kau ingat aku.

Aku tak mau mengemis padamu. Apakah aku sudah tak ada di pikiranmu lagi? Aku hanya heran. Bukankah kita seringkali berbincang untuk hal yang tak penting? Sekedar membahas jenis awan, atau mengapa daun menerima kehadiran embun.

Sudah berbulan-bulan tak ada sepatah kata darimu. Ada apa denganmu? What did I do wrong? Aku menyakitimu? Kau sibuk? Kau kenapa?

Ya sudah, Lang...

Aku tak mau menunggu untuk hal yang tak pasti seperti ini. Menulislah sesuatu untuk meyakinkanku bahwa kau masih hidup. Atau kau terjatuh dari sepeda lalu amnesia?

Apa kita perlu mengulang perkenalan?

Menulislah untukku.

Friday, February 02, 2018

A & E (12)

A & E (12)

Rindu menyerbu, bagai 300 tentara yang hendak bertempur. Apa kau tak sadari itu, La?
Kucoba pendam rasa ini, tetap menganggapmu sebagai kawan biasa, tapi sepertinya akan susah.
Kau berbeda.

Bukankah tiap orang memang unik, Lang? Bahkan sidik jari orang kembarpun tak sama.

Bukan itu maksudku, La. Kurasa ada hal yang membuatku betah berlama-lama berbincang denganmu.

Ya, tentu saja. Mungkin karena aku bisa kau ajak bicara tentang banyak hal.

Ah, sepertinya bukan itu.

Atau justru karena aku menyebalkan? Banyak bertanya?

Bukan itu juga.

Lalu?

Lalu entahlah. Mungkin karena aku sudah lama mencari orang sepertimu.

Sepertiku? Seperti apa tepatnya?

Ya, seperti Ola.

Mengapa kau cari orang sepertiku?

Entahlah, La. Tak semua pertanyaan mesti terjawab, kan? Aku juga tak tahu. Apa karena kita tertakdir bersama?

Mungkin. Tapi kan takdir ada kadaluarsanya. Kau pernah dengar orang yang menikah kemudian berpisah? Katanya karena takdir bersamanya sudah habis. Apa takdir itu seperti kontrak yang mesti diperpanjang? Bingung juga.

Entahlah. Terserah kau sajalah.


Merekapun berjalan menyusuri pinggiran jalan Braga ditemani puluhan turis yang mengabadikan keindahan jalan legendaris itu. 

Sunday, January 07, 2018

A&E (11)

A&E (11)

Siang itu, Elang tak bisa konsentrasi mengerjakan laporannya. Ia terus menerus berpikir tentang ucapan Ola tadi tentang keinginannya untuk bekerja setelah menikah. 

Dalam diamnya, Elang berpikir....
Buat apa, La? Aku akan menafkahimu dengan baik, insyaallah. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kita kekurangan. Aku akan penuhi kebutuhanmu. Aku akan jadi imammu, dunia dan akhiratmu. Tapi satu pintaku, tak perlu lah kau kerja di luar rumah. Tugasmu di dalam rumah. Tugasmu menjaga keluarga kita. Biar aku yang berpeluh keringat membanting tulang. Kau santai saja di rumah. Bacalah buku, menulislah, berkaryalah, tapi tak perlu kau keluar dari pintu rumah tiap pagi, beradu pagi dengan ayam jantan yang berkokok, demi sesuap nasi. Aku yang akan menghidupimu. Jadilah ratuku. Jadilah permaisuri kerajaan kecil kita. Ajarilah anak-anak kita nanti mengaji, menulis dan membaca. 

“Kau kenapa, Lang?”
“Baik-baik saja”
“Kau sedikit pendiam”
“Iya”
“Kau marah?”
“Tidak”
“Kau lapar?”
“Tidak juga”
“Ya sudah. Aku diam saja kalau kau tak mau cerita,” Ola setengah kesal. Kenapa sih Elang? Tetiba diam tanpa ada sebab yang jelas. 

Elang lelaki misterius, itulah yang membuat Ola jatuh cinta. Seolah dingin tanpa perasaan, tapi sebetulnya begitu hangat dan romantis dengan caranya. Seolah tak peduli dengan yang orang lain katakan, punya prinsip hidup, hanya saja, keras kepala. 

“Kau ini, kenapa tak mau cerita ke aku?” Ola kembali merajuk jika keras kepala Elang mulai kumat. 
“Tak apa. Belum saatnya”
“Kenapa?”
“Ya karena belum saatnya”
“Nanti akan ada saatnya?”
“Ya, jika kita berjodoh”
“Maksudmu?”
“Jika kita ditakdirkan berada di garis waktu yang sama, kita akan bertemu lagi membicarakan hal ini. Sementara ini, biarkan aku berpikir.”
“Maksudmu aku selama ini tak membiarkanmu berpikir? Hal apa yang akan kita bicarakan nanti pada saatnya?”
“Sesuatu hal. Saat ini, aku hanya sedang ingin sendiri”
“Baiklah. Terserah kau saja,” Ola kesal. 

“Baiklah kalau begitu,” Elang dengan tenang menjawab Ola. 

Saturday, January 06, 2018

A & E (10)

A & E (10)

Pesan masuk di telpon genggam Ola sepagi itu. Haarlem masih tertidur. Yang ramai hanyalah Grote Markt. Hari Minggu pagi seperti ini, pasti orang-orang berbondong-bondong untuk membeli banyak makanan di sana.

Pagi La, ini urgen..plis. aku perlu ketemu kamu.

Buat apa?

Urgen, La.

Aku akan ke Haarlem sekarang. Aku butuh ketemu  kamu. Aku bawakan patat oorlog kesukaanmu ya. Atau kau mau waffle? Mau apa? Nanti kubawakan. Atau kau mau Subway? Atau lumpia Vietnam di Grote  Markt?

Ya sudah. Terserah kau saja.

Ola membalas pesan Elang. Percuma memaksa Elang si keras kepala. Ola berkata 1000 kali tidak, Elang akan menjawab 1001 kali ya.

Dua jam kemudian, Elang muncul di pintu rumah bernomor 7. Ia membawakan seikat bunga, satu coklat, dan patat oorlog kesukaan Ola.

"Berhenti memperlakukanku istimewa. Aku ini biasa-biasa saja, Lang. Jangan kau tanam benih perhatianmu, aku takut akan bersemai perasaanku. Dan suatu saat akan ada gulma di antara mimpi2 kita. Kau tahu?"

"Dunia dipergilirkan. Senang sedih diputarkan.
Biar hidup gak monotone, kayaknya. Karena yang 1 mengingatkan akan 1 nya lagi. Ya kayak rasaku ke kamu, La. Kamu nyebelin tapi juga ngangenin. Bukankah aku punya hak untuk menyukaimu?"

"Gitu ya Lang? Ayo masuk," Ola mempersilakan Elang masuk, mereka menaiki 11 anak tangga  sebelum sampai di ruang tamu kontrakan Ola dan kawan-kawannya.

"Mana yang lain?" tanya Elang. Biasanya ada Rico yang sudah di dapur, Ermin di ruang tamu, Nina di kamar atas, Gina di kamar mandi, dan Dita di meja komputernya bersama Ningsih.

"Pada nginep di luar," jawab Ola sekenanya sambil meletakkan bunga di vas berisi air hangat setelah tangkai bawahnya ia potong miring.

"Iya, gitu, La. Memang kenapa? Ada apa? Kau sudah punya seseorang? Significant others?"

"Hmmm, tidak juga. Hanya saja. Mungkin sekarang belum saat yang tepat bagiku dan bagimu untuk memulai apapun itu yang bisa, akan, dan ingin kau mulai"

"Maksudnya?"

"Wisnu"

"Ya, kenapa dengan dia?"

"Dia bercerita padaku tentang hmmmmm, masa lalumu"

"Yaitu?"

"Tentang patah hatimu, yang hampir membuatmu loncat dari balkon," Ola berkata lirih

"Oh itu. Apa katanya?" Elang terlihat santai

"Hmm, Wisnu berpesan agar aku, tidak membuatmu mengulanginya lagi. Agar aku tidak pernah meninggalkanmu seperti dia meninggalkanmu"

"Kau boleh sebut namanya, dia bukan the you know who, La," Elang terkekeh

"Iya, Dyah"

"Ah, itu tak kan terjadi lagi, La"

"Yang mana? Kau loncat dari balkon?"

"Bukan. Yang kau akan meninggalkanku seperti Dyah meninggalkanku," Elang berkata dengan penuh percaya diri.

"Ah kau. Kepedean," Ola cuek dan melahap patatnya.

"Makasih ya udah repot-repot bawain ini semua"

"Santai, La"

"Jadi apa yang urgen?"

"Ini"

"Ini apa?"

"Berbincang denganmu sambil melihat tingkah lakumu," Elang tak kalah cuek.

"Ah, gombal," muka Ola bersemu merah.


"Tak apa gombal juga. Asal kau percaya," Elang tertawa menang. 
A & E (9)

A & E (9)

Hai, La.
Assalamualaikum...

Maafkan aku belum bisa balas e-mailmu dan belum baca tulisanmu. Ada deadline di kerjaan. Ku harap kau sukses dengan rencanamu.

Wassalam,
Elang.




Itu e-mail yang diterima Ola, 1 bulan yang lalu. Sekarang sudah Februari. Sebentar lagi ulang tahunnya. Apa jangan-jangan Elang lupa? Tujuh belas Februari, dia suka sekali angka itu. Persis sama dengan tanggal bulan kelahiran pemain basket legendaris idolanya. Elang bisa menghabiskan waktu bermenit-menit untuk menonton iklan Nike yang dibintangi Michael Jordan.

Sebut saja iklan "Maybe It's My Fault", saking ngefansnya sama MJ, di kamar Elang ada poster selebar dinding, bertuliskan Maybe I led you to believe that it is easy, when it wasn't, dengan MJ sedang melakukan air jump nya.

Elang juga yang mengenalkan pada merk sepatu Jepang, Onitsuka. Sepatu yang kinipun menjadi favorit Ola.

Elang juga yang membuat angka 23 menjadi sakral. Karena itu nomer punggung MJ.

Elang juga yang membuatnya menyukai kombinasi warna hitam dan merah, yang dulu membuat Ola sakit kepala.

Elang juga yang mengenalkan pada enaknya gule, pada makanan Padang yang mesti dimasak dengan cinta dan kesabaran.

Tapi Ola tak kalah berpengaruh bagi Elang.

Ola yang mengenalkan bahwa hidup tak selalu monotone hanya dengan membaca buku-buku yang membuat berpikir. Ola yang mengenalkan pada Sherlock, Miss Marple, Hercule Poirot, Bourne, dan masih banyak lagi.

Ola yang mengenalkan Elang pada indahnya hanya duduk di bus dan menikmati pemandangan musim gugur. Ola yang mengajarkan Elang mengapresiasi kehidupan dan tak memutuskan untuk mengakhirinya. Ola yang mengajarkan keceriaan dan keriangan anak-anak masih perlu Elang lakukan untuk menjaga kewarasannya ketika kerjaan menumpuk.

Ola yang mengajarkan nikmatnya makan sushi, ikan mentah yang tak bersahabat dengan lidah Elang. Ola yang mengajarkannya menikmati cold brew.

Ketika dua insan saling berinteraksi, mereka saling mempengaruhi. Membawa adat kebiasaan masing-masing, membawa kegemaran sendiri-sendiri, untuk akhirnya menjadi jangkar kenangan pasangannya. Dan ketika jangkar itu tertancap, desir anginpun seolah membisikkan namanya.

Bagaimana mungkin aku tak gundah memeriksa inboxku setiap pagi? Bagaimana mungkin tak kusisipkan namamu dalam do'aku. Begitu banyak hal yang mengingatkanku akanmu.

Satu tanyaku, apakah kaupun begitu?

Ola. 

Thursday, January 04, 2018

A & E (8)

A & E (8)

“Aku nanti, mau kerja ya setelah nikah,” ujar Ola

“Kenapa?” Elang menghentikan pekerjaannya dan menatap kekasihnya. 

“Ya, sayang aja kalau ilmuku terbengkalai. Bukankah kita semua punya tugas yang sama di dunia ini? Aku juga ingin punya tabungan ilmu yang bermanfaat agar nanti amal jariyahku. Yang terus menerus mengalir hingga kiamat, dong,” Ola membetulkan letak kursinya hingga berhadapan dengan Elang.

“Kau memang mau kerja apa?”

“Hm, jadi guru mungkin, atau jadi dosen, atau businesswoman. Yang penting tak hanya jadi ibu rumah tangga yang diam di rumah dan nunggu anak-anaknya pulang sekolah. Aku ingin bermanfaat bagi orang banyak.” Ola mengungkapkan keinginannya dengan lugas. Sejelas mimpinya yang tak hanya sibuk di dapur, sumur, kasur. 

Deg, Elang tersentak. Ia tak pernah ingin mempunyai istri seorang bekerja. Ia melihat ayah ibunya, dan dirinya sendiri. Ketika ia pulang sekolah, ada ibunya yang menyambutnya dengan masakannya, dengan telinganya mendengarkan celotehnya tentang si Agus, si Wahyu, si Pras. Ketika ia kehujanan, ada ibunya yang menyambutnya dengan handuk kering, membuatkannya susu coklat panas, dan mengeringkan sepatunya yang hanya 1 pasang itu, ditaruhnya di belakang kulkas. Trik jitu untuk mengeringkan sepatu yang sampai sekarang masih dipakainya. Survival skill! 

Ia ingat si Wahyu, kawan SMPnya yang ketika pulang sekolah, tak ada orang di rumah untuk menyambutnya. Makanya Wahyu lebih suka menghabiskan waktu di rumah Elang, bermain gitar, tidur-tiduran, hingga adzan Maghrib tiba, dan akhirnya dia pulang ke rumahnya. Ayah ibu Wahyu bekerja, dan dari cerita-cerita Wahyu selama ini, Elang menangkap ada rasa iri karena ibu Elang ada di rumah setiap hari, kecuali ketika ibunya arisan PKK, menjadi kader Posyandu, atau sedang rapat RT; selebihnya, ibu Elang adalah stay at home mom. Ia tak ingin, anak-anaknya nanti menjadi Wahyu-wahyu berikutnya, yang mesti menghabiskan waktu di luar rumah. 

“Oh, gitu ya La. Bagus juga,” jawabnya singkat. Cukup untuk memberikan respon ke Ola, walau pikirannya melayang ke sana kemari. 

“Kok gitu aja Lang, responmu?”

“Eh, kenapa gitu?”

“Hm, biasanya kau akan panjang lebar mengemukakan pendapatmu. Ya atau tidak setuju dengan itu. Tidak sekedar oh gitu, Bagus juga seperti sekarang. Kau tak apa-apa? Kerjaanmu banyak ya?”

Iya, sori, lagi mikir,” Elang mengelak. Menghindari topik pembicaraan kali ini. Ah, Ola… kenapa? 


Elang bersedih…