Tuesday, August 14, 2018

A & E (74)

A & E (74)

"Keputusanku untuk meninggalkannya kuambil tak semata karena emosi. Aku benar-benar memikirkannya dengan matang. Aku menghitung semua pro dan kontra jika bersamanya. Aku meninggalkannya dengan kesadaran penuh dan hati yang terluka. Pun aku tak menerimanya kembali karena aku tahu, dia hanya menyukai satu sisi diriku, padahal aku tak hanya punya satu," Ola menghembuskan nafas panjang mengenang masa lalu.

"Dan kalaupun aku kini masih menyukainya, mungkin itu karena dia adalah kawan yang baik, itu aja,"

"Kurasa aku mesti belajar menerima kekecewaan, karena ini bagian dari pendewasaan, ya kan?"

"Ya, La. Kau sudah tahu semua jawabannya," sahut Maria.

"Tapi aku tetap butuh kau, Mar,"

"Tentu. Kau saat ini ada di jurang kebodohan yang terdalam. Palung perasaan yang kau sendiri tak pernah sadari kehadirannya. Aku tak bisa membantumu jika kau tak ingin keluar dari situ."

"Apa kau ingin keluar dari situ?" tanya Maria menanyakan kemantapan hati Ola.

Ola terdiam. Palung perasaan yang tak pernah aku sadari, pikirnya.

"Ya, aku ingin. Aku siap menangisi kebodohanku. Aku hanya tak ingin berlama-lama di sini."

"OK. Maka program hari pertama yang perlu kau instal di benakmu adalah: kau bodoh, dan kau siap untuk keluar dari kebodohan ini,"

"What?"

"Langkah pertama sebuah perbaikan adalah menyadari kesalahan."

"OK,"

"Ini tandatangan di sini," Maria menyodorkan satu lembar kertas HVS bertuliskan "Surat Pernyataan Permintaan Pertolongan Pertama pada Patah Hati". Di bacanya butir-butir perjanjian di situ, dan salah satunya tertulis:
Aku setuju akan mengkonsultasikan dan menceritakan hal-hal yang dapat membuatku bimbang untuk melupakannya.

Monday, July 30, 2018

A & E (73)

A & E (73)

"Ceritakan padaku awal mula kau menyukai berkebun,"

"Ketika dulu aku kecil, aku suka main ke rumah tetanggaku. Bu Edy namanya. Entah siapa nama aslinya. Kau tahu kan orang senang memanggil istri dengan nama suaminya. Bu Edy ini kawan baik ibuku. Beliau punya halaman depan, yang, hmm, kau tak bisa sebut sebagai taman; melainkan lebih sebagai hutan. Haha. Aku sering main ke sana, main masak-masakan daun-daunan campur tanah dan air keran," Maria tertawa mengenang masa kecilnya di sebuah gang sempit.

"Beliau punya banyak sekali tanaman. Pun di kebun belakangnya, penuh dengan tanaman daun-daunan. Yang kata orang sekarang, urban jungle," ia melanjutkan.

"Hm, lalu?"

"Lalu ya seperti itu. Di rumah ibuku juga banyak tanaman, meski tak sepenuh urban jungle-nya tetanggaku itu. Beberapa tanaman yang sangat kuingat, kau tahu bunga kertas? Atau bunga telekan? Yang warnanya kuning?"

Ola menggeleng.

"Ya, tanaman-tanaman tertentu mengingatkanku akan masa kecilku yang menyenangkan. Jauh sebelum ibu sakit. Dan kurasa, ketika menanamnya, mengurusnya, menyiangi tanahnya, memotong daun atau ranting yang telah kering, kurasa, aku menemukan sebenarnya aku sedang mengurus jiwaku sendiri," pandangan Maria menatap jauh ke depan.

Di kursi teras rumah Maria, ditemani dua cangkir teh panas, mereka berdua menikmati each others' company. Ibu Nanik, ibunya Maria, sedang ada di dalam rumah dan mengkristik sebuah karya. Kalau tidak salah lihat, akan ada dua buah tangan yang menengadah dan meminta kepada Allah SWT.

"Ibu sehat ya Mar?" tanya Ola sambil menoleh ke arah Bu Nanik yang sedang asyik.

"Alhamdulillah,"

"Masih minum obat?"

"Masih, masih rutin. Tapi melamunnya sudah jauh berkurang. Ia sudah tak sesering dulu mengigau dan marah-marah. Kau tahu apa yang aneh, Mar?"

"Apa?"

"Ketika memasak, ibu akan tahu betul rasa yang ia cari. Ia seperti dulu. Terlebih lagi saat aku mulai membeli tanaman-tanaman; sansiviera, shanghai, terus tanaman gantung yang gendut-gendut itu; perhatian Ibu mulai tercurah untuk tanaman. Ini alhamdulillah Ibu sedang sehat betul, ia bisa mengkristik karyanya yang belum selesai. Ajaib. Semua kuasa Allah,"

"Alhamdulillah..."

"Iya. Melihat ibuku kembali beraktivitas dan kembali sibuk seperti ini sudah cukup membahagiakan. Meski beliau belum bisa berbincang lama seperti dahulu, namun ini sudah cukup buatku." Maria memandang ibunya dengan penuh kasih.

Bu Nanik sedang asyik dengan kristiknya, beliau menghitung kotak-kotak yang mesti diberi benang warna biru.

Hanya syukur yang mampu mewarnai kelabu. Hanya syukur yang bisa mewarnai gulita. Hanya syukur yang kuasa melukis tawa dan bahagia...

Friday, July 27, 2018

A & E (72)

A & E (72)

Namanya Maria. Lengkapnya Maria Indah Permatasari. Dia bijaksana karena hidup telah mengajarinya hal-hal yang melebihi orang-orang seumurnya. Orang tuanya berpisah saat dia berusia lima tahun. Anak tunggal, sama dengan Ola. Tak punya saudara seayah atau seibu. Ayahnya bekerja di kapal pesiar dan tak pernah ada kabar setelahnya. Maria memutuskan bahwa ayahnya telah meninggal dunia atau mempunyai kehidupan baru.

Menikah di usia 18 tahun, setelah beberapa tahun, dia hamil. Suaminya rupanya tak menghendaki bayi itu, maka suaminya pergi dan mentalak Maria. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bayi yang dikandungnya pun keguguran di usia kehamilan 4 bulan. Saat itu Maria berusia 21 tahun. Belum bekerja tetap, dan tinggal bersama ibunya yang kurang sehat secara mental.

Maria menemukan ketenangannya tiap kali ia melihat pemandangan, alam, dan warna daun hijau. Dia seringkali mengajak ngobrol tanaman yang tumbuh di halamannya. Memberi makan kucing-kucing jalanan yang kelaparan dan singgah sebentar di rumahnya. Hingga satu hari di usianya 22 tahun, dia menemukan sebuah buku resep masak di gudang. Rupa-rupanya itu resep-resep ibunya yang ditulis beliau saat beliau sehat. Satu per satu resep-resep itu diperhatikannya, dan dipraktikkannya. Ajaibnya, ibunya menjadi hampir normal ketika beliau mencicipi masakan itu, jika rasanya sesuai. Jika rasanya kurang asin atau kurang sesuai dengan lidah beliau, beliau akan segera menuju ke dapur dan mengoreksi rasa. Pandangan mata beliau yang biasanya kosong, karena kata dokter beliau  depresi, berubah menjadi berbinar-binar saat meramu masakan.

Saat itulah Maria melihat sebuah keajaiban. Obat dari penyakit yang diderita ibunya adalah kesibukan dan rasa masakan yang dinikmatinya. Perlahan semenjak hal itu disaksikannya, Maria mempraktikkan semua resep yang ada di buku itu. Mulai dari huzarensla, hingga kue sus isi vla. Ia menikmati prosesnya, terlebih lagi ketika melihat ibunya seolah telah kembali tiapkali beliau mencicipi masakannya.

Keajaiban rasa. Maria menemukan tujuan hidupnya kembali. Ia hidup untuk membahagiakan orang-orang dengan masakannya.

Maka mulailah ia berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Sekedar es dawet (cendol, pen), dan gado-gado. Ibunya yang meracik bumbu, Maria yang berbelanja ke pasar. Ia riang sekali. Senyum merekah di wajahnya seolah duka tak pernah dikenalnya. Orang-orang melihat perubahan keluarga itu dan satu per satu mempromosikan gado-gado Maria, awalnya karena kasihan, ternyata di situlah keberkahan harta halal tersimpan...


Tuesday, July 24, 2018

A & E (71)

A & E (71)

Menuliskan tentangmu tak pernah mudah. Terlalu banyak gambar kenangan berlarian di benakku, tak tahu mana yang terlebih dahulu mesti aku tangkap. Meski beberapa lagu selalu mengingatkanku tentangmu, menuliskan satu per satu di sini, untuk memberikan hatiku ruang untuk bernafas, tak semudah teori.

Aku bisa saja duduk dan mengetikkan beberapa baris kata. Tapi apakah itu cukup untuk membuka satu celah nafas untuk melupakanmu?

Aku bisa saja menuliskan pengalaman-pengalaman saat bersamamu, yang kuharap itu bisa mengobati luka kerinduanku; tapi apa justru itu membuatku makin merinduimu?

Melepaskan dari bayang dirimu tak pernah mudah. Tak mudah dulu, tak mudah kini, tak mudah nanti.

Walau aku memutuskan untuk tetap bersamanya, tak berarti tak kusisakan ruang di hatiku untukmu kembali, Ola. Di salah satu pintu hatiku sudah terpahat namamu dengan indah. Kuisi dengan berbagai cerita kita, keluguanmu, kenangan kita, tawa tangis kita; dan itu akan tetap di sana. Tak ingin aku menggantinya dengan yang lain. Pahit? Mungkin memang pahit. Tapi bukankah pahit juga bagian dari kelezatan? Buktinya, Tuhan menciptakan lidah yang mampu mengenali rasa pahit. Itu artinya Tuhan sudah melengkapi kita untuk mengenali rasanya, mengenali teksturnya, lalu mengkategorisasikannya.

Dan dirimu, masuk di kategori itu.

Tak bisa kupungkiri walau hendak rasanya aku ingkari.

Tak akan ada lagi kehidupan kedua. Tak akan ada lagi kesempatan kedua untuk kita, Ola. Kesempatan itu sudah pernah kita dapatkan, dan kau lewatkan. Dan aku tak mau menunggu lebih lama untuk memiliki dirimu lagi. Aku memilih bersamanya. Suka duka bersamanya kurasa lebih arif daripada suka duka bersamamu, dengan kondisi seperti ini.

Maafkan aku yang telah masuk kembali ke hidupmu. Mencoba mewarnainya seperti yang pernah kulakukan dulu. Aku khilaf dan aku ingin maafmu. Asal jangan kau suruh aku untuk menghapus rasa dan harapan bersamamu, itu sudah cukup. Aku akan menjauh, menghilang dari hidupmu, sama seperti dulu. Dan cukup hanya kunikmati kilaumu dari kejauhan. Karena aku tahu, kau bisa hidup tanpaku, dulu, dan nanti.

Terima kasih Ola. Atas segalanya. Atas pelajaran berharga di hubungan kita. Kau ajari aku untuk dewasa, kau ajari aku untuk kembali menjadi anak-anak juga.

Terima kasih Ola. Kau tahu kau akan ada dalam setiap doaku yang terpanjat meratap belas kasihNya.





Elang (yang dulu Elangmu)




Wednesday, July 18, 2018

A & E (70)

A & E (70)

Hi, it has been a while since the last time I wrote to you. Everything's fine with me. Everything seems to fall to its places happily. Surprisingly, I am happy without you. I once read a Paulo Coelho's quote: 

What has passed will never come back. Remember that there was a time when you could live without that thing or that person - a habit is not a need.

Somehow, it gives me strength.
No, I don't want to know about your life. It's nice to be like this. To be once again a stranger. And no, I don't write this in order for you to read it. Not at all. I write because I want to write. I don't want to share all the ups and downs in the process of making you once again a stranger. I just want to see myself looking at my older self and say: do you want to stay that way or do you want to move on?

Life is indeed a mystery. And to be able to live a beautiful life, we must believe in the One who knows the secret of this mystery. And yes, I am talking about God. The One and Only Healer. Who helps me to see who I am, inside. To make me believe that it is all His designs. Though we call this destiny.

The more I believe in Him, the more relax I become. I have no worries. No regrets. And one more important thing, no imaginary life with you. I accept who I am, what I am. And that's the most beautiful thing I could have. To be center, to be content with myself. Something I thought was missing, since I lost you years ago.

Well, I don't write this so you write me back. I just posted it, and if you read it, that's OK. If you don't, that's OK too.



---
Dan Ola menutup layar laptopnya. Dilihatnya ketikan-ketikan jemarinya menghasilkan kata-kata yang tak disangkanya bisa ditulisnya saat ini. Melupakan Elang benar-benar menjadi tantangan hidupnya. Menghindarinya ia tak kuasa. Melepaskan rasa yang adapun seolah fana. Yang ia mampu lakukan adalah menerima semuanya. Kejadian dulu, kejadian sekarang, dan keputusan-keputusan hidup yang telah ia buat, tanpa ada penyesalan. Memang menyakitkan, tapi bukankah semua keindahanpun dihiasi dengan kepedihan? Bukankah kebahagiaan artinya menangis karena syukur?

Ola membiarkan dirinya melepaskan rasa-rasa itu lewat tangisnya. Lewat tulisannya. Dan dia hanya inginkan satu hal. Ketika mereka bertemu lagi, dan jika ternyata rasa itu masih sama, masih ada, ia hanya tersenyum dan mensyukuri rasa itu. Tanpa keinginan untuk memiliki Elang lagi. Ia sudah pernah, dan ia tak bisa lagi..... Desir angin malam mulai terasa dingin. Ola menarik selimutnya lebih tinggi. Jemarinya masih ingin menari di atas tuts merah yang setia menerima keluh kesah dan kegundahannya. Ola bersyukur atas semuanya. Dan dia ingat satu hal, saat ia bisa menerima semuanya, dia akan memiliki inner peace. Saat ini, tak ada yang lebih penting daripada inner peace. Elang bisa datang, Elang boleh pergi, tapi Ola tak bisa mati.

Tuesday, June 26, 2018

A & E (69)

A & E (69)

"Aku lebih suka kata simfoni, daripada kata bangunan."

"Dalam hal?"

"Dalam mewakilkan sebuah organisasi," kata Elang.

"Kurasa simfoni lebih indah. Karena tiap organisasi mestinya tujuannya indah, ramah, nyaman dan aman dilihat dan dirasa. Maka tiap sendi-sendinya tahu kapan mesti muncul, kapan mesti berada di balik layar,"

"Sedangkan bangunan," lanjutnya. "Lebih mengibaratkan tugas yang saling menopang, kerja sama. Itu bagus. Hanya saja, bangunan ada dua macam. Yang terencana, memenuhi syarat AMDAL, indah dipandang; dan bangunan yang tak lulus syarat serta bisa jadi buruk dipandang,"

"Bagaimana menurutmu?" Elang bertanya setelah hening sejenak.

"Kurasa kau benar. Kurasa tiap orang yang ingin bergabung dengan suatu organisasi mesti menemukan kesamaan visi misi dengan organisasi itu. Makanya organisasi juga salah satu ciri khas seseorang, kecuali dia pengkhianat atau mata-mata, maka tiap organisasi punya pakem dalam membina kader-kadernya,"

"Iya, aku setuju," Elang mengangguk.

"Ada hal yang mengganjal di benakmu?"

"Iya. Tapi bukan itu topik kita nonton malam ini kan? Izinkan aku membelikanmu tiket, kau yang beli popcorn,"

"Kau traktir anak-anak juga?"

"Hahaha. Nope. Mereka bayar sendiri, udah besar ini,"

"Hehe. OK. Dankje*,"

"Graag gedaan**,"







*terima kasih
**my pleasure

Sunday, May 27, 2018

A & E (68)

A & E (68)

Sakit akan sembuh
Luka akan mengering
Benjolan akan kempes
Memar akan menghilang
Seiring waktu
Jika aku melepaskan, mengizinkannya melewati diri, dan merelakan

Aku ingin mendapat kedamaian hati
Ketenangan jiwa
Bukan hanya rasa menggebu di dada, berkecamuk dan kadang teraduk luka
Bukan hanya rindu yang menyiksa, bergelora dan memintal duka
Bukan hanya jumpa yang kuinginkan tiap kali pagi menyapa
Aku tersiksa

Jika kau memang untuknya
Maka tak berhak aku menginginkanmu
Kan kuterima takdir ini
Kupasrahkan pada Gusti
Biarlah kini pedih tersayat hati ini
Biarlah sakit tercerabut rasa ini
Biarlah kuhapus segala kenangan tentang diri
Agar nanti saat rembulan bersinar
Tak lagi aku pikirkan dirimu dan dirinya yang bermanja
Agar nanti saat matahari terbit
Tak lagi aku bayangkan dirimu dan dirinya tertawa
Semoga...

Saturday, May 26, 2018

A & E (67)

A & E (67)

Suara Adele terdengar lirih, mendayu dan seolah menceritakan seluruh hati Ola di saat ini. Ini pertemuannya kelima dengan Elang.

Ia memilih tempat duduk yang sama. Rupa-rupanya kafe ini memiliki konsep baru, aroma vanilla semerbak memasuki rongga hidung Ola.

Mungkin mereka memakai aromaterapi sekarang, pikirnya. Makin membuat pertemuan ini semakin berjangkar di ingatan.

Ola memperhatikan sekeliling dan mencari pelayan yang berseragam hitam. Ia lambaikan tangannya, tanda siap memesan.

"Salmon steak satu," katanya tanpa menunggu ditanya mau pesan apa.

"Minumnya, kak?" tanya pelayan ramah

"Hot lemon tea,"

Pelayan tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

"Oh ya, dessertnya saya mau brownies ice cream vanilla ya,"

"Iya boleh,"

"Terima kasih"

Pelayan di sini tak mencatat pesanan pelanggannya. Mereka mengingatnya. Inilah kenapa Ola suka di tempat ini. Melihat pelayannya menyajikan pesanan sesuai dengan pemesannya tanpa pernah menuliskan pesanannya adalah salah satu kekuatan memory palace, seperti yang dilakukan Sherlock Holmes.

Sayup-sayup terdengar Adele mengakhiri lagunya...

You look like a movie, you sound a song, when we were young.....

Menyebalkan. Bahkan semesta berkonspirasi dengan Elang, pikirnya.


A & E (66)

A & E (66)

"The right thing sometimes is the hardest thing to do. You don't fight anyone else but yourself," kata Ola ke Maria.

"Iya, makanya surga itu mahal," jawabnya pendek.

"Di satu sisi, kau paham bagaimana aku sangat ingin selalu bersamanya. Menghabiskan waktu dengannya. Seperti kembali ke masa-masa di mana kami masih bersama," suara Ola berat.

"Tapi di sisi lain, aku tak ingin menghancurkan hidupnya. Keluarganya. I am not a home wrecker," lanjutnya.

"Jadi maumu?"

"I'll leave him. Walau itu sama saja membunuh separuh diriku. Dia akan survive seperti dulu. Akupun juga akan survive."

"Kau yakin?"

"The hardest day of my life is when I let go something I really want. I want to be good. Dan jika ini harganya mahal, I'll pay for it,"

"Yeah, you did it before. You do it now. Kau hanya perlu mengulang cara yang dulu telah berhasil kau lakukan. Walau jelas keadaannya beda. You hated him then," kata Maria.

Ayam goreng mentega masakan Maria sudah mengeluarkan aroma sedap. Segera ia matikan kompor. Tangannya cekatan menyiapkan garnish daun selada dan tomat yang dipotong berbentuk bunga. Piring saji oval diambilnya dan berpindahlah ayam goreng mentega itu ke sana.

Ola membantu menyiapkan meja, dan menuangkan air mineral dari dispenser ke gelas cantik bergambar bunga mawar.

"All set, Mar,"

"Selamat makan,"

"Smakelijk eten," jawab Ola.

"Kau yakin, La,"

"My heart says no. My head says I should do this."

"And which one do you follow?"

"Logikaku. Walau rasanya seperti akar tanaman yang sudah kuat dan tercabut paksa. Sakit,"

"Do you really love him this much?" Maria mengambil dua potong sayap ayam.

"I don't know. Kau tahu dia pernah bilang, aku berharap ada kehidupan kedua, dan saat itu akan kucari kau, aku takkan menyerah pada jawaban tidakmu, dan takkan aku melewatkanmu. Itu katanya,"

Maria menarik nafas panjang dan dalam. Tampak kesedihan begitu nyata terlihat di raut muka Ola.

"Aku mesti putus hubungan dengannya," kata Ola dengan mata berkaca-kaca.

"Untuk kebaikan bersama," lanjutnya.

Cinta tak bisa memilih. Cinta hadir begitu saja. Tanpa permisi. Entah apa yang membuat Elang istimewa di mata dan hati Ola. Ola hanya berharap ketenangan, untuknya, untuk Elang dan keluarganya.

Akan kutitipkan rinduku pada air yang menguap ke angkasa, agar ia menurunkannya padamu di saat hujan tiba. Dan saat kau mengingatku, panjatkan doa untukku, untuk kita. Agar dapat melewati ini semua dengan bahagia. I love you, Lang...

Friday, May 25, 2018

A & E (65)

A & E (65)

"What is a happy ending, Mar?" tanya Ola yang duduk menikmati teh manis panas dan kacang oleh-oleh Maria dari Bali.

"Maksudmu?" Maria memotong bawang bombai yang rencananya ia jadikan salah satu bumbu di ayam goreng menteganya.

"Ya, apa arti happy ending bagiku dan Elang?"

"Ya, akhir yang bahagia, toh?"

"Ya, jadi aku bukan happy ending karena ku tak bersamanya?" Ola memutar-mutar sendok di cangkir warna abu-abu.

Maria memindahkan satu per satu potongan ayam yang sudah direbusnya dengan bawang putih ke penggorengan.

"Jesss"....suara minyak panas beradu dengan ayam yang sudah direbus.

"Ya, mungkin. Tergantung bagaimana kau melihatnya. Bukankah katamu takdir tak pernah salah?" tanya Maria sambil tak memindahkan perhatiannya dari bakal masakannya.

"Iya. Aku mulai menyadari penyesalanku,"

"Ini karena kau bertemu lagi dengannya, kan? Sebelumnya kau baik-baik saja,"

"Iya. Pertemuan dengannya seolah membangunkan kenangan-kenangan yang sudah lama tertidur, yang kuanggap mati, ternyata hanya idle," diseruputnya teh manis yang sudah tak lagi mengepulkan asap.

"Jadi?"

"Ya aku teringat dan ingin menyelesaikan semuanya. Tapi justru saat inilah aku menyadari bahwa the reason kenapa aku belum bersama yang lain adalah karena bayangannya terlalu kuat. Bagiku yang cocok denganku ya dia, setidaknya orang seperti dia. Yang memahamiku ya dia. Kesadaran yang baru kutemukan setelah reuni ini," Ola menarik nafas panjang dan dalam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, mungkin karena emosi yang meluap ingin segera ditumpahkan.

Ayam-ayam yang sudah digoreng tadi ditiriskan Maria sebentar, lalu dimasukkan ke penggorengan kedua, tempat saus sudah tercampur rata. Berisi kecap inggris, saos tomat, kecap manis, gula, garam, merica. Aromanya semerbak memenuhi dapur bernuansa hitam putih merah.

"OK, I am listening," katanya.

"Jadi aku tak happy ending? He's taken. Dan ini membuatku feel bad about myself. If the good ones are taken, apa artinya I am a bad ones?"

"Hush! Mana boleh berpikiran seperti itu!" Maria mengingatkan sambil memasukkan irisan bawang bombay ke dalam saus.

"Memang apa pentingnya happy ending dengannya? Bukankah kau dulu yang menolaknya? Kau yang pernah sakit hati karenanya? Lalu sekarang karena dia sudah menikah, kau merasa inferior?"

"Look, dia menikah, tak bahagia, lalu dia mencariku. Do you think this is a sign? That I should be with him, once again? For good?"

"Wait," Maria mengecilkan api di kompornya.

"Are you losing your mind? You expect him to leave his family and start a new one with you? What would his wife feel?" Maria mulai jengah, intonasinya meninggi.

"Iya. Am I crazy?"

Maria mengaduk saus dan ayamnya lalu menambahkan dua sendok makan mentega. Exactly like the recipe taught her.

"Iya, sepertinya," jawab Maria datar. Berbincang dengan Ola di saat Ola sedang lemah begini benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi. Tugasnya hanya satu, mengembalikan Ola ke pikiran logisnya untuk melihat segalanya lebih jernih dan objektif.

"La, kita belum tahu akhir cerita hidup kita karena kita masih hidup. Happy ending itu ya khusnul khotimah. When you're smiling when death comes," Maria mulai filosofis.

Ola terdiam. Dikunyahnya kacang perlahan-lahan. Dinikmatinya pemandangan dapur Maria. Muncul bayangan Elang yang beberapa minggu lalu ditemuinya dan bertanya padanya

"Aku punya ide gila, bagaimana jika kita bertemu dengan Atika dan kita sampaikan ke dia bahwa kita akan menikah?"

"Elang, elang, kau memang gila."

"I am. Crazy about you. After all these years, damn it, you're irreplaceable,"