Monday, May 21, 2018

A & E (62)

A & E (62)

Namaku Arya, tepatnya Muhammad Arya Subagya. Ya, namaku campuran dari berbagai bahasa. Aku kawan Ola dan Elang. Akupun tahu Wisnu diam-diam menyukai Ola, walaupun itu tak mungkin baginya. Karena ia mesti menikah dengan sesama suku, begitu pesan mendiang ayahnya. Sehingga tak mungkin baginya menikung Elang dan mendapatkan Ola, walaupun kesempatan itu ada. 


Aku memilih tak terlampau dekat dengan mereka berdua. Ya, jelas aku tak mau disamakan jadi teman untuk mereka. Tempat curhat masalah percintaan yang sebenarnya akupun sama sekali tak ingin tahu. Jadi aku lebih diam. Tak seperti Wisnu yang memang menjadi pelabuhan mereka. Haha. Aku bukannya kejam, tapi aku ini masih manusia. Aku tak bisa berpura-pura tak menginginkan apa yang dipunyai Elang, ya kan? Daripada aku tersiksa, mending aku belajar dan menyelesaikan kuliahku dengan baik. Aku berencana meneruskan S2 di Universiteit Vrije Amsterdam, tapi tak mungkin. Ayah ibuku ingin aku pulang dan meneruskan saja di Indonesia. Aku masih belum tahu, mungkin nanti akan kuputuskan. 

Ya sebagai anak yang berbakti, tak mungkin aku tak pulang demi ambisi. Kan, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tak mengapa, aku rasa dengan restunya, aku bisa mencapai dan mendapatkan apa yang memang menjadi takdirku nantinya. Termasuk Ola. Jika tidak, ya yang lebih baik darinya. Wanita tak hanya dia. 

Hobiku fotografi. Aku tak terlalu pandai merangkai kata. Kurasa, alam sudah indah berkata-kata, maka aku belajar untuk menangkap kecantikannya. Aku suka traveling, dan memotret objek di sana. Bukan, bukan untuk selfie dan membuktikan pada dunia bahwa aku telah sampai sana; justru sebaliknya. Aku ingin dunia tahu bahwa ada dunia lain di luar apa yang biasa dilihatnya. 

Tiada yang lebih indah dibanding keberhasilanku menangkap keindahan alam dan mengabadikannya dalam sebuah potret. Dengan berbekal kamera seadanya, ya, aku sempat mempunyai ber-rol-rol pita film yang belum sempat ku developed. Berada di kamar gelap adalah tempatku berkreasi, tanpa batas. Mencium aroma cairan pencetak foto, menggoyang-goyangkan kertas untuk mendeveloped negative, benar-benar sebuah sanctuary. Tempatku bermeditasi. 

Aku tak pandai dengan manusia. Kurasa manusia mempunyai begitu banyak misteri di dalamnya. Alam, lebih mudah diterka. Ia jujur apa adanya. Maka untuk melupakan keinginan memiliki Ola, aku menghabiskan waktu dengan memotret. Entah itu daun oranye yang jatuh ke tanah, tetes embun, atau mata indah kucing milik Sari yang kujadikan objek foto. 

Sari? Dia kawanku. Dia lucu dan baik hati. Polos sekali dia. Aku suka padanya? Ah, tidak. Sari hanya a good friend. Dulu pernah aku baca kalau wanita dan pria tak mungkin berkawan, tapi aku dan Sari bisa. Alasannya? Kami beda agama. Hahaha. Simpel, kan? 

Sebenarnya, Ola tak pernah melirikku. Pandangannya hanya tertuju pada Elang. Aku tak keberatan, karena aku juga lebih sibuk memperhatikan perubahan bunga dan daun, dibandingkan perubahan moodnya. 

Tinggiku 178cm. Lumayan tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Tapi di mata Ola, Elang yang tingginya hanya 170cm itu sudah cukup menarik rupanya. Jadi, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk menggambar. Oh ya, aku belum cerita ya? Aku suka menggambar. Dari kecil aku tak terlalu suka menulis, oh aku sudah sampaikan itu, kan? Kata orang, aku orang visual. Aku tak bisa bermain gitar seperti Elang. Katanya memang wanita lebih suka pria yang romantis, artis, makanya Elang begitu memikat. Ya, dengan suaranya yang lumayan, Elang membuat puisi atau menuliskan lagu, lalu menyanyikannya di depan Ola. Siapa yang tak suka? Kurasa Ningsih juga diam-diam menaruh hati untuk Elang. Hanya saja, ia tak berani atau tak mungkin mengutarakannya. 

Jadi ya, begitulah aku. Kau bisa memanggilku Bagya. Atau Arya. Sesukamulah. Namaku yang ada "Muhammad"nya ini beberapa kali kena cekal pihak imigrasi, dikira teroris lah, dikira ekstrimis lah. Mereka belum tahu kalau Muhammad artinya adalah "Yang Terpuji". Mahmed, Ahmad, sama. Turunan dari kata Muhammad. 

Maka, aku ingin katakan padamu, aku tak peduli apakah sekarang Ola dan Elang, ataukah Ola dan Wisnu, atau Wisnu dan Ningsih atau bagaimana sajalah. Karena aku percaya, Tuhan yang menciptakan alam dengan sempurna ini, pasti membuat skenario terbaik untuk diriku. Yang terindah, kadang misterius. Aku hanya perlu mencari sudut yang tepat untuk membidiknya. 

Sunday, May 20, 2018

A & E (61)

A & E (61)

Elang, day 1: 
Misplaced “if”

Kata “kalau” jika tak ditempatkan semestinya, maka ia bisa menjadi pembuka pintu bagi masuknya syetan dalam pikiran. Seolah mengutuk apa yang ditakdirkan Allah, menyalahkan qodarullah, dan tentunya tidak ridho akan keputusanNya.

Waktu tak bisa diputar kembali. Yang terjadi adalah yang terbaik. Justru di sinilah manusia diuji akan keimanannya. Apakah ia mensyukuri segala nikmat dan menyabari segala kesedihan? Ataukah merundung nasib dan menyalahkan sial yang menghampiri? 

Tiadanya iman bagaikan tiadanya nyawa. Tiada nyawa adalah hampa, tanpa makna. Maka jangan tanya kenapa Tuhan mentakdirkan ini dan itu, karena inilah yang terbaik yang beberapanya tak bisa lagi kupilih. 

Adapun hal-hal yang dalam kendaliku, itulah yang bisa kuubah. Yang bisa kuubah adalah cara pandangku terhadap pertemuanku kembali. Mengapa aku mencarinya lagi? Apakah aku tidak bahagia dengan keadaanku? Menyelesaikan unfisinished business? Unfinished business apa? Ingin bersamanya? Mengapa baru sekarang aku punya nyali untuk menemuinya? Aku takut ditolak? Aku trauma ditolaknya? Aku merasa tak berarti? Ada apa? Hanya aku yang tahu apa yang terjadi di diriku, maka hanya aku yang bisa menemukan jawabannya.
Kurasa semua berawal dari kata “kalau” yang salah kuletakkan. Aku mengandaikan dia bersamaku, tapi mengapa aku memilih menikahi Atika? Hanya untuk mencari teman agar aku tak kesepian? Bukankah nanti tiap manusia akan sendirian?

Pertanyaannya ada dua, mengapa aku menikahi Atika dan aku tak mencari Ola? 

Ola, apa yang sedang dilakukannya sekarang? Semoga dia mendapatkan Ramadhan terindah.

— 

Elang menuliskan kalimat-kalimat itu di diary virtualnya. Sebuah blog yang tidak ada yang tahu karena dia setting privat. Ramadhan hari pertama, dan dia merasa sudah perlu mencari dua jawaban. Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan terpanjang baginya. Ia hanya tak tahu, Olapun merasakannya…

Saturday, May 19, 2018

A & E (60)

A & E (60)

"Eh, lanjutkan lagi tentang distractor tadi, lang. Aku kurang paham arah pembicaraanmu," lanjut Wisnu.

"Ya, bahwa dia, Ola (sambil menekan nada bicaranya), mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk mendistraksi aku dari hal yang mestinya aku kerjakan."

"Bukannya kalian memang selalu, ehm, hampir selalu Skype-an? Ya jelas terdistraksilah kau."

"Iya. Dan kau mesti tahu kenapa." Elang membela diri.

"Kenapa?"

"Dia semangat pagiku. Kami punya ritual kecil untuk menyapa lebih dulu dialah pemenangnya. Dan aku terbiasa dibuatnya bangun dengan harapan aku mengucap selamat pagi padanya. Dan tiap malam, aku ingin yang terakhir mendengarkan suaranya."

"Kalian seperti terobsesi satu sama lain,"

"Benarkah? Aku tak pernah berpikir demikian. Kurasa kami hanya saling menginginkan."

"Tipis bedanya antara obsesi dan keinginan,"

"Dan kau sekarang menjadi psikolog tentunya," ujar Elang setengah mengejek sahabatnya.

"Ya untuk mendeteksi keanehan kalian tak perlu seorang belajar psikologi. Jelas tampak di depan mata bagai gajah dan semut di pelupuk mata,"

"Hmmm, begitu ya rupanya,"

"Ya. Jadi, kau sekarang menganggap Ola sebagai pengganggu?"

"Aku tak pernah berkata demikian,"

"Distraksi sama dengan gangguan, kan?"

"Ya. Maka saat-saat aku butuh konsentrasi, butuh keheningan, sulit sekali aku menolak rajukan manja Ola yang tetap ingin Skype-an,"

"Hm, lalu kau shut her down?"

"Ya kadang aku perlu melakukannya,"

"Dan kau pernah berpikir apa efeknya untuk dia?"

"Sering,"

"Lalu?"

"Man's gotta do what man's gotta do," jawab Elang kalem.

"Even when it means you shut her out from your life,"

"When you need to go, you go. Sesederhana ini,"

"Yah, terserah kau saja,"

"Ada apa memangnya? Ola cerita apa?"

"Cerita cukup untuk mengambil kesimpulan bahwa kau sedang ada di emosi labil tapi kau akan segera make the most of it somehow,"

"How?"

"She trusts you, you know. Dia membiarkanmu mengabaikannya. Mengeluarkanmu dalam hidupnya adalah seperti membunuh separuh dirinya, itu yang dia katakan padaku. Dia sangat bergantung padamu, dan saat kau putuskan tali itu, dia ... ah, untung dia tak sepertimu yang bisa loncat dari jendela,"

"No, she won't. She is a strong girl."

"Ya, dia akan memberimu waktu, persis seperti kau memberinya waktu,"

"Ya. Itu yang kubutuhkan,"

"Good. Jadi kau masih kangen dia?"

"Every second of my life, I am missing her,"

Kereta melaju dengan kecepatan stabil. Mengantarkan dua anak muda ini ke kota yang terkenal dengan kerajinan Delft Blauw-nya. Di Delft mereka akan bertemu seseorang yang akan mengubah cara pandang mereka tentang pemuda dan politik beberapa tahun lagi. 
A & E (59)

A & E (59)

Aku tahu bahwa buku adalah kawan terbaik. Dia tak pernah menasihati dengan kasar, dia lemah lembut dan membuat diri bercermin dalam keadaan ikhlas dan pasrah. Ia menasihati tanpa menampar, tanpa membentak. Ia memberikan jendela kebijaksanaan dalam untaian kata-kata yang telah dihasilkan dari sari pati pemikiran. Ia bagai inti dari segala inti yang dengannya semua bisa terhubung padanya.

Maka kata, tajamnya lebih tajam dari pedang. Yang lukanya bisa terus menganga jika tak diizinkan untuk disembuhkan. Kata, akan memberikan memori-memori indah, atau kesedihan. Maka kata mesti dimaknai. Seperti masakan yang perlu diberi bumbu yang berbeda untuk menghasilkan cita rasa berbeda. Kata, bagai bahan mentah yang dengannya ia bisa menjadi apa saja.

Seperti wortel dan buncis, ketika dikukus, dia bisa jadi kawan bagi steak apapun yang disediakan di atas loyang panas berbentuk sapi, berharga ratusan ribu rupiah. Namun wortel dan buncispun bisa menjadi kawan di rumah sederhana ketika ia ditumis dengan berkawan bawang merah dan bawang putih, sedikit garam, merica, dan gula.

Wortel dan buncis tak pernah mengeluh dengan apa mereka dimaknai, bagaimana mereka diolah, dengan siapa mereka disajikan. Persis seperti kata. Ia hanyalah kata. Ia menyerah pasrah pada pelontarnya. Ia membungkam seribu bahasa pada penerimanya. Ia membiarkan penerimanya mengartikan sendiri, dengan pemahamannya sendiri, untuk dicerna sendiri.

Maka manusia sejatinya adalah peramu rasa, pemberi makna, dan pengolah kata.

Membaca tulisan Romo Mangun, menyadarkanku bahwa aku tak sendiri dalam pertempuran ini. Pertempuran melawan diri sendiri ini juga dialami oleh Atik dan Teto. Akulah Atik. Dan Elanglah Teto. Hanya saja, di cerita itu, Atik sudah berkeluarga, sedangkan Teto masih menduda saja. Terbalik denganku. Elang sudah memutuskan berkeluarga dengan Atika, dan aku masih sendiri. Aneh bagaimana buku itu mendekat padaku saat aku ingin mencari jalan keluar akan masalah yang sedang kuhadapi.

Sebentar lagi Ramadhan, mungkin aku perlu berkaca pada Teto, bagaimana ia menahan dirinya, walau ia tahu perasaan Atik dan perasaannya masih sama, seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hidup telah menjalankan perannya. Perpisahan mereka, disebabkan kepengecutan Teto terjawab sudah. Pun pertemuan mereka kembali yang diatur manis oleh takdir, seolah membuat mau tidak mau Teto menghadapi ketakutan terbesarnya. Melawan dirinya sendiri. Menemukan makna akan misteri hidup yang telah digariskan untuknya.

Tak perlu kematian Atik dan Jana yang memisahkan antara aku dan Elang nanti. Biarkan aku mundur dengan teratur. Dengan menerima kekalahan ini. Kekalahan pada takdir, pada kepongahanku dulu. Biarkan aku menjelma menjadi seekor kupu yang telah siap mewarnai indahnya taman-taman dunia, namun kini mesti kunikmati perihnya menjadi seekor kepompong.

Romo Mangun, tulisan-tulisannya sarat makna, berbobot, dan entah kenapa, kata-kata yang beliau gunakan begitu tajam mengiris cepat membuat yang terluka tak sadar telah mengucurkan darah. Begitu indah beliau menuliskan rollercoaster perasaan dan perilaku manusia.

Ramadhan, tolong aku. Ingin aku diterapi olehmu....


A & E (58)

A & E (58)

"Iki, tak kek'i PR*," kata Popo untuk menyambut sahabatnya kali ini. Muka Elang lusuh, tampak tak tenang, guratan-guratan usia mulai nampak di pinggir matanya. Mungkin Ibukota telah memakan energinya berlebihan.

"Iya. Manut," jawab Elang. Perjalanan ke Malang kali ini memang istimewa. Hanya untuk menenangkan diri dia rela menghabiskan waktu di rumah kecil yang jauh lebih sederhana dibanding rumahnya di Jakarta.

"Jadi Lang, tugasmu selama Ramadhan besok hanya ini," ujar Popo sambil menyerahkan secarik kertas berisi daftar pekerjaan yang wajib dilakukan Elang untuk mendapatkan kembali ketenangan dirinya.

"Semuanya berhubungan dengan ibadah," celetuk Elang. Dibacanya perlahan tulisan Popo yang rapi bertinta biru. Tak biasanya orang Indonesia memakai tinta biru, biasanya tinta hitam. Popo memang lain. Mungkin karena itulah ia memilih menjadi kyai walaupun perawakannya sama sekali tak tampak seperti kyai. Siapa yang mengira dia lulusan salah satu pesantren di Solo, Jawa Tengah. Hobinya nyanyi rock, rambutnya jangan ditanya gimbalnya atau tidaknya. Tapi kalau sholat tidak pernah bolong di masjid. Mau di perjalananpun, ia akan berhenti dan mencari masjid terdekat ketika suara adzan terdengar. Kontras. Katanya, orang yang berdakwah tidak melulu berpenampilan seperti seorang Zainudin MZ, da'i sejuta umat yang kondang dengan sorbannya.
  1. Ngaji satu hari dua juz 
  2. Sholat dhuha tiap hari 
  3. Tarawih tiap hari 
  4. Hafalkan minimal satu surat baru 
  5. Al Matsurat pagi dan petang 
  6. Tentunya puasamu tak boleh bolong.
"Ini saja?" tanya Elang setelah melihat enam hal yang perlu dilakukan selama satu bulan ini. "Tidak ada yang lain?"

"Cukup," jawab Popo.

"Ya sudah. Aku siap,"

"Sip," Popo mengacungkan kedua jempolnya. Tersenyum melihat sahabat lamanya.

Ramadhan akan menjadi kawah candradimuka bagi Elang, apakah ia mampu menaklukkan dirinya, mengendalikan jiwanya, menemukan kembali hubungan dengan Tuhannya, yang selama ini hanya menjadi rutinitas tanpa nyawa.

Ia akan menemukan jawabannya, nanti, setelah tiga puluh hari berlalu....

"Ramadhan, tolong aku..." ucap Elang lirih sambil membawa kopernya ke kamar ukuran 3x3 meter yang sudah disiapkan Popo untuknya.













*ini, kuberi pekerjaan rumah.

Thursday, May 17, 2018

A & E (57)

A & E (57)

Sudah beberapa bulan sejak pertemuan entah keberapa kalinya antara Ola dan Elang di Bandung. Mereka memutuskan untuk benar-benar memutuskan hubungan itu. Sudah tidak sehat. Tak lagi bisa menjadi kawan. Mereka adalah kawan yang buruk.

Ramadhan hampir tiba. Elang akan menghabiskan waktu Ramadhannya di luar kota. Tidak di Bandung. Hubungannya dengan istrinya memburuk. Ia berniat untuk memperbaikinya. Apalagi kedua anaknya masih kecil-kecil, tak mungkin ia meninggalkan istrinya demi pertaruhan yang belum pasti. Elang merasa gundah. Di satu sisi, ia masih menyimpan rasa untuk Ola, dan masih menginginkannya. Ia tahu Ola masih belum berpasangan. Kesempatan itu masih ada. Sayangnya Ola tak ingin menjadi yang kedua. Padahal apa yang kurang dari Elang? Ia punya harta, punya kedudukan, dan punya popularitas. Tetap saja Ola tak bergeming. Masih menjadi Ola yang dulu. Idealis.

Atika, istrinya, mengultimatum akan meninggalkan Elang dan kedua anaknya jika Elang masih saja berkomunikasi dengan Ola. Ultimatum yang bukan biasa-biasa saja. Elang tahu istrinya akan punya hati untuk melakukannya. Atau mungkin justru ia akan meninggalkan Elang, dan pengadilan akan memenangkan istrinya untuk hak asuh kedua anaknya? Tapi Atika tidak punya penghasilan, pengadilan mungkin akan memenangkan Elang.

Pikiran Elang melayang ke tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi. Berbagai skenario tertulis, jika A maka B, jika B maka C. Langkah-langkah apa saja yang mesti ia lakukan untuk... Ia bingung untuk apa. Menyelamatkan rumah tangganya? Atika sudah bukan Atika yang dulu lagi. Yang dulunya sekufu, sekarang Atika terlalu sibuk memperhatikan tetek bengek rumah tangga, becanda seperlunya, dan ia lebih banyak kelelahan mengurus anak-anaknya. Salah sendiri Atika tak mau ada pembantu di rumah mereka, padahal Elang sudah menawarkan. Alasannya, "nanti kalau ada pembantu, aku ngapain?". Di sisi idealisme ini, Atika mirip sekali dengan Ola.

Atau justru ia sebenarnya ingin kembali bersama Ola? Menjalin apapun itu yang belum selesai. Menyelesaikannya dengan menjadikan Ola sebagai istrinya. Tapi apa jaminan bahwa ketika mereka menikah, semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana jika Ola tak lebih baik dari Atika nantinya? Apalagi Ola yang tak akrab dengan anak-anak, bagaimana Ola bisa menjadi ibu dari kedua anaknya? Apakah yang menjadi jaminan bahwa ia tak akan meninggalkan Ola untuk seseorang yang lebih baik lagi nantinya ketika Ola berubah menjadi tak sekufu lagi? Tapi di satu sisi, keinginannya untuk memiliki Ola tiada terbendung. Ia hanya terkadang disadarkan bahwa mereka tak lagi anak muda yang berjalan di Grote Marktnya Haarlem, ketika anaknya memanggil "Papi".

Ia bingung betul.

Mungkin Ramadhan akan membantunya menjernihkan pikirannya. Mungkin....
Ramadhan tinggal dua hari lagi. Ia segera packing. Surat cuti sudah dikirimkannya. Ia akan menghabiskan waktu satu bulan di Malang. Ia butuh berkonsultasi dengan Popo. Sahabatnya yang kyai itu. Ia butuh waktu sendiri....

Tuesday, May 15, 2018

A & E (56)

A & E (56)

"She's my distractor"

"Is that word even exist?"

"Iyalah. She's a beautiful distractor. She really could distract me."

"In other word, annoying?"

"Nope. She is very attractive. Dia membuatku susah fokus. Jika ada dia di sebuah ruangan, maka perhatianku akan tertuju padanya, bukan ke pelajaran yang mestinya kuhadiri," jelas Elang pada Wisnu.

Wisnu mengangguk seolah paham. Memang benar, orang yang jatuh cinta itu seperti tai ayam rasa coklat. Sudah lupa pada sekelilingnya, semua ngontrak. Tidak ada yang penting selain kekasih hatinya. Tidak ada yang lebih menarik dibanding tiap detik kebersamaan dengannya. Racun. Mematikan. Candu. Melenakan. Pikirnya.

Pikir Wisnu, mungkin sebab inilah yang membuat Elang menahan diri untuk berkomunikasi dengan Ola. Benar juga. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam saat ngobrol. Entah apa tak ada habisnya ngobrolnya mereka itu. Segala macam bisa diperbincangkan. Mulai obrolan ringan hingga seberat tema agama. Mana ada orang yang mau menghabiskan waktu lama-lama dengan Skype menyala selain kedua orang itu. Ckckck, lanjutnya.

Sunday, May 13, 2018

A & E (55)

A & E (55)

"Kau bilang aku bahagiamu,"

"Iya. Aku hanya butuh waktu,"

"Jika aku bahagiamu, bukankah mestinya kau mendekat ke aku saat kau sedih?"

"Iya,"

"Lalu kenapa justru kau meminta waktu untuk menjauh dariku? Jelaskan. Aku bingung denganmu, Lang,"

"Akupun bingung dengan diriku sendiri. Entah kenapa ini terjadi padaku sekarang. Mungkin memang ini azab bagiku."

"Atau ujian," Ola menyela.

"Atau ujian," Elang mengulangi dua kata itu dengan nada lebih pasrah.

"Please ya La. Aku tak ingin membawamu ke kubangan kesedihanku," lanjutnya.

"Tapi aku tak bisa melihatmu sedih seperti ini,"

"Hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Aku tak ingin pikiranmu tersita oleh hal yang bukan urusanmu,"

"Jadi sekarang bukan urusanku, Lang?" ada keterkejutan di nada suara Ola.

"Bukan begitu, La," suara Elang sudah lelah.

"Aku menyayangimu. Justru itu aku tak ingin membuatmu bersedih bersamaku,"

"Aku yang memutuskan apa yang ku mau. Termasuk dengan siapa aku bersedih dan berbahagia,"

"Ya, La.. aku hanya..,"

Elang belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ola berkata "sekalian saja kau anggap tak kenal aku,"

Elang menangkap kekesalan dan kemarahan terpendam di nada Ola. Ola mengambil tas dan jaketnya lalu berdiri.

"Sudah ya Lang. Ada saat aku tak kenal dirimu. Saat-saat seperti ini contohnya. Take your time. I will pretend that we dont know each other, biar ku tak perlu menunggumu membiarkanku menjadi bagian dari urusanmu," kata Ola.

"Iya La. Aku lelah. Sudah ya."

"Iya sudah." Ola beranjak dari cafe bernuansa coklat dan beraroma kopi dan roti hangat. "See you when I see you,"

"See you," jawab Elang lirih dan memandang Ola meninggalkannya. Atau ia telah meninggalkan hidupnya?


A & E (54)

A & E (54)

"No one trusts me," kata Elang di suatu senja di kereta api Amsterdam - Delft ke sahabatnya, Wisnu.

"Ada apa?"

"Aku sedang sedih. Tapi Ola tak percaya. Katanya aku tanpak baik-baik saja dan bahagia di acara kemarin."

"Dari mana dia tahu kau pulang reuni?"

"Dia lihat postingan anak-anak. Si Zelda posting banyak foto,"  jawabnya.

"Oooo," Wisnu mengangguk lalu membiarkan kesunyian di dalam gerbong itu makin nyata. Orang-orang yang pulang kerja sebagian membuka buku, sebagian membaca koran, sebagian menelepon, sebagian terlelap kelelahan.

Wisnu paham, akan susah bagi Ola untuk percaya bahwa Elang sedang sedih. Pose-pose bahagianya bertebaran di postingan Zelda. Zelda, kawannya yang orang Belanda asli mengajak beberapa kawan dekatnya untuk bertemu, merayakan diterimanya ia salah satu perusahaan yang beroperasi global. Ia akan segera pindah dari dinginnya Amsterdam, ke negara lebih hangat, Spanyol.

Tentu Elang ikut senang dengan peristiwa membahagiakan ini. Tak mungkin ia pasang muka jutek atau sedih. Ia tak ingin menjadi duri di pesta Zelda. Andai saja Ola memahaminya.

"Ola tak percaya aku sedih. Aku rentan."

"Karena kau curang. Kau tampakkan sedihmu ketika bersamanya. Kau tak bagi bahagiamu dengannya. Kau menjengkelkan jika bisa kunilai dari sudut pandang Ola. Sorry to say this, dude. I need to be honest with you," jawab Wisnu.

Sigh...Elang menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia ingin segera bisa menyelesaikan semua ini. Ia lelah bersama Ola, tapi tak bersamanyapun juga tak kalah melelahkan. Ola kini tak percaya padanya, gara-gara foto. Dan sahabatnyapun membela Ola. Unbelieveable!

"Kau tahu apa yang dibilang Ola tadi?" lanjut Elang.

"Tak tahu,"

"Dia bilang. Aku terlalu bagus berpura-pura. Ia tak ingin memberiku waktu. Ia bilang, "sekalian saja tak mengenalku," katanya sambil menirukan nada bicara Ola.

"Ia benci aku," lanjut Elang.

Wisnu mendengarkan. Ia tahu saat ini sahabatnya hanya butuh didengarkan. Elang tipe pria melankolis yang bisa melakukan hal-hal gila. Beberapa tahun lalu, Wisnu menghentikannya saat ia coba melompat dari balkon kamarnya saat diputus Dyah.

Wisnu menepuk pundak kanan Elang, dan berkata "be strong, bro!"

Monday, May 07, 2018

A & E (53)

A & E (53)

Maaf ya La, something’s going on. Aku ingin cerita, tapi nanti ya, setelah semuanya beres. Again, it’s not about you.

Pesan pendek dari Elang diterima Ola di siang hari bolong. Tepat di hari setelah mereka baru tertawa bersama pagi harinya.

Oh, okay. jawab Ola.

Please pray for me, pinta Elang.

Okay. Ola menjawab dengan berbagai pikiran berkecamuk di benaknya.

Elang sedikit melankolis. Pendiam, tapi seolah menyimpan beribu kisah yang tak pada sembarang orang dia bagikan. Tak banyak orang yang tahu tentang keluarganya. Tak banyak orang yang tahu tentang dirinya. Misterius. Mungkin itu yang membuat Ola penasaran.

Mengenalnya, menjadi orang yang ia percayai adalah kemenangan tersendiri bagi Ola. Ia merasa istimewa, karena Elang memilihnya. 

Pernah suatu ketika ia bertanya.

“Kenapa kau suka menghabiskan waktu denganku?” tanya Ola waktu itu sambil mendengarkan Cinta Kan Membawamu Kembali-nya DEWA 19 yang dipetik Elang di gitarnya. 

Mata bulat Ola menatap Elang di depannya yang khusyu menirukan suara Ari Lasso. 

Elang berhenti bernyanyi dan menatap Ola.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku ingin tahu alasanmu,”

“Hm, kenapa kau seringkali memberi pertanyaan yang membuatku berpikir?”

“Mungkin karena aku terlahir untuk membuatmu berpikir,” jawab Ola santai. 

Elang memetik senar gitarnya, mengulang dari awal lagu…

“Ola, cinta itu misteri. Tapi aku tahu kenapa aku suka menghabiskan waktu denganmu. Karena kau tahan mendengarkan suaraku yang tak karuan ini,” canda Elang.

“Haha, ya ini kuberi 1 Euro untuk suaramu tadi,”

“Tambah lagi dong,”

“Ini 5 sen,” Ola bercanda sambil menyerahkan uang ke telapak tangan Elang.

Elang menggunakan kesempatan itu dan menggenggam tangan Ola. Ola terkejut dan menarik tangannya kembali.

“Eh, maaf La,”

“Iya, kau semestinya minta izin, anak muda,”

“Memang kalau aku minta bakal kau izinkan?”

“Hahaha, kepedean,” 

“Lang, we’re not holding hands, okay,” lanjut Ola.

“Iya, maaf. I am sorry. Dan itu kenapa?” 

“Because you have your own hands to hold, hahaha,” jawab Ola.

“Haha, baiklah. I am sorry. Aku tak akan ulangi lagi,”

“Thank you. I appreciate it. Jadi apa jawabannya, Lang?”

“Karena aku bisa jadi diriku sendiri. Bahkan membuat kesalahan seperti barusan, dan kau akan masih tetap memaafkanku, menerimaku apa adanya. With all my flaws. You don’t cast me away,”

Ola terhenyak oleh jawaban Elang. Ia sama sekali tak mengira Elang akan menjawab hal-hal seperti itu. Ia mungkin berpikir Elang hanyalah satu dari laki-laki yang sering menggodanya, yang ingin memiliki hatinya, yang memujinya, yang berpura-pura baik di depannya.

Denting dawai gitar menyelimuti keheningan.

“Cinta kan membawamu, kembali di sini, menuai rindu, membasuh perih….”


Ola menarik nafas panjang, membiarkan fragmen ingatan akan Elang berkeliaran di benaknya. Ia meletakkan handphonenya, dan memejamkan kedua matanya.

Semoga Allah menguatkanmu menghadapi apapun ini yang sedang kau hadapi, Lang. Terukir doa tulus di sanubarinya.