Thursday, November 23, 2017

Tentang Ayam dan Takdir

Tentang Ayam dan Takdir

Apa hubungannya antara ayam dan takdir? Jauh tapi ada. Setidaknya ini yang saya alami. Kisah 3 ekor ayam, yang mengajari saya tentang takdir. 

Saya yakin Anda penasaran. Maka saya akan memulai kisah ini…

Alkisah, anak saya diminta membawa binatang ke sekolah. Sudah ada ikan di rumah kami, dan saya mengusulkan agar ia membawa beberapa ekor ikan. Mudah. Sayangnya anak saya begitu inginnya membawa 2 ekor ayam. Yang mana artinya kami harus beli dulu di toko hewan dekat rumah. Anak saya sepertinya pensaran memelihara ayam, karena dulu pernah memelihara 2 anak ayam, sayangnya mati hanya dalam hitungan hari. Sejak itu, keinginan untuk memelihara ayam tak pernah padam. 

Setelah melalui lobi-lobi tingkat tinggi, maklum saja, anak saya mirip sekali dengan saya, kata suami saya. Hahaha. Agak menantang untuk berdiskusi dan menemukan kesepakatan dengannya. Baru umur 8 tahun saja sudah begini, tampaknya perlu diarahkan ke Hubungan Internasional. Haha. 

Maka dicapailah kesepakatan untuk membeli 2 ekor anak ayam untuk dibawa ke sekolah. Sesampainya di toko hewan, saya kebingungan dengan apa membawa anak ayam itu. Masa ditaruh di kresek? Kan kasihan. Akhirnya saya membeli kurungan kecil, muat untuk 2 anak ayam yang besarnya hanya sekepalan tangan. 

Sepulang dari sekolah, anak ayam itu dibawa dan entah kenapa dikeluarkan dari kurungannya. Maka salah satu kucing yang sering nongkrong di rumah kamipun menerkam 1 ekor ayam itu, tepat di saat itu, anak saya menyaksikannya. Dia shock dan berteriak memanggil abinya. 

Karena pengalaman dengan matinya 2 ekor ayam terdahulu, suami saya menyuruh saya membeli 1 ekor ayam lagi agar si ayam tidak kesepian lalu ujung-ujungnya mati. Hehe. 

Satu bulan berlalu, ayam-ayam itu mulai membesar dengan segala kegaduhannya. Yang buang air sembarangan lah, yang ngejar anak sayalah, yang sampai menyebabkan bau gak karu-karuan hingga mengganggu tetangga lah, yang tiba-tiba loncat ke jendela kamar, untung belum di atas kasur. Haha. 


Hingga kemarin, kami memutuskan untuk memotong ayam-ayam itu. Sayangnya tidak ada yang berani melakukannya. Hahaha. Ya ya, we are chicken kalau urusan sembelih menyembelih. Ibu mertua saya berniat membawa kedua ekor ayam itu ke Jakarta, agar disembelih Abah. Keputusan sudah diambil.

Esok paginya, sebelum ibu mertua saya pulang, pagi-pagi jam 5, nasib ayam sudah di ujung pisau. Akan dibawa ke Jakarta, dan disembelih. Tapi ternyata itu hanya rencana! 

Ayam hilang satu ekor! 

Hahaha, entah pergi ke mana dia. Kami berkeliling rumah mencarinya. Hanya ada 1 ekor yang ada. Kami panggil-panggil, tidak muncul juga dia. Saya berkesimpulan dia diambil orang, tapi kok tidak ada suara aneh-aneh semalam. Sampai malampun tidak ada itu ayam. Hingga akhirnya ibu mertua saya pulang ke Jakarta dengan tangan hampa. Kami sempat sedih. Saya hendak lapor pak RT. Rasanya sedih kehilangannya. Jadi sepi. Saya berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Jadi terasa lagi kesedihan kehilangan peliharaan. 

Di tengah kesabaran itu. Tiba-tiba ayam itu muncul lagi pagi ini! Ajaib! Sayangnya saya tidak bisa mengorek keterangan dari mana saja dia pergi sampai tidak pulang seharian. Haha. 

Tapi saya jadi berpikir. Apakah dia memahami pembicaraan kami, lalu dia menghindari takdir kematiannya dengan melarikan diri? Ataukah memang belum takdirnya untuk mati kemarin? Sehingga secara kebetulan dia melarikan diri? 


Wednesday, November 22, 2017

Tentang Informasi, Tentang Belajar

Tentang Informasi, Tentang Belajar

Kadang kita menemukan keyakinan, kekuatan, setelah berbincang dengan kawan. Kawan yang mampu memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Sudut yang jujur namun memberdayakan. 

Ceritanya pagi ini, saya tertarik untuk mengikuti salah satu workshop. Workshop tentang desain. Apakah ini sekedar ikut-ikutan? Saya tidak yakin. Tapi memang ada kawan yang merekomendasikan workshop ini. Salah satu guru saya memudahkan pilihan dengan membuat kriteria. Dan bagi saya, salah satu yang membuat saya memilih untuk mengikuti workshop ialah apakah skill yang ditawarkan workshop itu akan mendukung kehidupan saya, baik secara pribadi maupun dalam pekerjaan.

Setelah saya timbang-timbang, workshop itu akan meningkatkan skill saya di salah satu bidang yang menurut saya masih belum jago. Masih buta, tapi ingin belajar. Jadi jika skala 1-10, di mana 10 adalah tertarik sekali hingga saya transfer, ketertarikan saya masih ada di angka 6. Dan butuh 10 untuk meyakinkan diri saya untuk meng-iyakan workshop. Maka saya bertanya pada kawan saya ini dan ternyata saya mendapat referensi yang OK tentang manfaat workshop ini. Namun, angka masih bergerak ke 7. 

Lain halnya dengan salah satu workshop yang akan dihadiri suami beberapa waktu ini. Workshop ini awalnya di angka 6, belum terlalu urgen. Dibutuhkan untuk perkembangan bisnis yang sedang kami jalani, namun dirasa akan belum berefek langsung pada omzet. Sehingga saya meletakkan workshop itu di kolom: Penting, Tidak Mendesak. 

Dengan satu informasi saja, workshop itu pindah ke kolom: Penting, Mendesak. Dan kemudian saya dan suami memutuskan untuk mengikutinya. Apa informasi itu yang menyebabkan dari angka 6 langsung menjadi 10?  

Informasi itu berisi kurang lebihnya begini:
“Workshop ini adalah workshop terakhir. Setelahnya, tidak akan ada kelas basic, dan hanya ada kelas lanjutan dari kelas basic. Walau belum mencapai target sebanyak 1000 alumni, namun kami akan fokus memberikan materi lanjutan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para alumni.”

Wow! Kelas terakhir! 

It’s now or never! Sekarang atau tidak selamanya. Saya lalu menimbang-nimbang antara keuntungan yang akan didapat karena menjadi alumni dari komunitas eksklusif (ya, kan tidak akan ada kelas basic, jadi ya jumlah alumni tidak akan bertambah setelah kelas terakhir ini, kan?). Dan betapa ruginya jika saya tidak ikut serta dalam golongan itu, maka suami dan saya segera memutuskan untuk ikut dan segala keperluan disiapkan. 

Cerita selanjutnya tentang informasi yang saya berikan kepada kawan saya mengenai workshop yang akan dia ikuti Desember nanti. Dia takut nanti akan tidak memahami materi dan takut jika kawan-kawannya terlalu serius. Hehe. 

Apa yang saya lakukan untuk meyakinkannya agar makin membulatkan tekadnya? Saya mengatakan jujur apa adanya bahwa di awal akan ada perasaaan “kok aku gak ngerti ya?”, “kok dia ngerti duluan ya?”. Saya katakan bahwa saya dan kawan-kawan sekelas dulu merasakan hal yang sama. Kuncinya hanyalah bersabar. Bukankah seperti itu fitrah belajar? 

Menurut saya, fitrah belajar ialah kita akan merasa kesulitan memahami pada awalnya, memahami  ilmu sebatas wawasan. Lalu seiring kita praktek, maka teori tadi terejawantahkan dalam praktek, dan ketika praktek, maka ilmu tadi terserap, tak lagi semata wawasan. Dan akhirnya ilmu itu akan menjadi darah dan daging hingga nanti sampai pada level Unconscious Competence. Kompetensi yang tidak disadari, otomatis, dan menjadi reflek. 

Salah satu guru saya sering mengatakan ungkapan terkenal: Fake it, till you make it. Sama seperti nasihat untuk bersabar. Ya kalau belum sabar, pura-pura saja dulu jadi orang sabar. Teruslah berperan seperti itu, hingga akhirnya sabar itu menjadi bagian dari diri. 
Alhamdulillahnya, kawan saya tadi merasa makin bulat tekadnya untuk memulai kelasnya Desember nanti. Dari percakapan ringan, muncul informasi, muncul keyakinan, muncul tindakan! 

Selamat belajar! 



Tuesday, November 21, 2017

Dapur 101, Kunyit? Siapa takut!

Dapur 101, Kunyit? Siapa takut!

Kunyit, kunir, salah satu rempah khas yang berwarna oranye cerah ini mempunyai banyak khasiat. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, warna yang dihasilkan dari bumbu masak ini menjadikan masakan lebih mengundang selera. Sayangnya si cantik kunyit ini seringkali meninggalkan jejaknya di tangan, kuku, bahkan bekas peralatan masak yang dipakai. Dan ini merupakan salah satu penyebab keengganan saya memasak kunyit. 

Namun bagaimanapun juga, kunyit selalu ada di salah satu masakan andalan keluarga saya. Jadi ya, saya bersiap akan menghadapi “perang” dengan bercak noda kunyit setelah memasak. Hahaha. 

Berikut bumbu ungkep versi saya. Mudah, mirip dengan bumbu soto, dikurangi daun jeruk. 

Bahan: 
1/2 ekor ayam yang sudah dibersihkan 
1 kerat tempe, potong biasa seperti ingin membuat tempe goreng 
5 potong tahu kuning 
2 gelas air 
2 sendok makan minyak

Bumbu: 
4 siung bawang putih 
4 siung bawang merah
3 cm kunyit 
1 cm lengkuas 
2 batang serai 
3 lembar daun salam

Cara masak: 
  1. Haluskan semua bumbu, kecuali daun salam. Bisa diuleg manual, bisa menggunakan blender 
  2. Panaskan minyak sebanyak 2 sendok makan, masukkan bumbu yang sudah dihaluskan. Masak hingga matang. Masukkan 3 lembar daun salam, letakkan di alas penggorengan
  3. Tumpuk ayam, tempe, tahu
  4. Tambahkan air 2 gelas 
  5. Tambahkan gula garam sesuai selera
  6. Masak hingga air terserap rata, masak dengan api sedang 
  7. Jika sudah matang, sajikan. 

—-
Setelah memasak selesai, timbullah pekerjaan rumah selanjutnya, yaitu membersihkan blender yang ada bercak noda kunyit. Fiuhhh.. dengan sabun cuci biasa tidak bisa bersih seperti semula. 

Akhirnya saya berharap blender bisa bersih dengan mengambil pembersih peralatan dapur, merk Astonish. Beli di Ace Hardware, harganya waktu itu kalau tidak salah sekitar 80rb. Bentuknya kotak, dan teksturnya seperti adonan jaman dahulu kala yang pernah diajarkan oleh Eyang saya. Cif bubuk + air yang kemudian dipadatkan. Sebelum zaman Astonish. Hehehe. 

Dengan mengucap bismillah, saya menyolek (ya semacam saben colek teksturnya) di spons basah lalu menggosok kaca blender. Lalu yang terjadi setelahnya luar biasa. Warna kuning oranye terang keluar bersama busa yang dihasilkan. Bercak noda yang awalnya terasa teksturnya luntur bersama air yang membilas. Saya senang sekali! Dengan semangat saya akan memakai kunyit lagi tanpa ketakutan kesulitan membersihkan blendernya. 

Jadi ini yang ingin saya bagikan. Tak takut masak pakai kunyit lagi! Yeeay!



Disclaimer: Ini bukanlah iklan Astonish, maupun Ace Hardware. Produk dengan kemampuan serupa juga bisa dipertimbangkan untuk dicoba membersihkan noda kunyit. 

Monday, November 20, 2017

Mengenal Metode Pengobatan Avasin di Klinik Averum Bandung

Mengenal Metode Pengobatan Avasin di Klinik Averum Bandung

Avasin, bagi saya ini metode baru dalam kesehatan. Sebuah klinik kesehatan di Bandung, di jl. Cikutra tepatnya, adalah tempat saya mengenal metode ini. 

Ceritanya, saya dan anak saya membutuhkan pertolongan kesehatan yang menurut saya tidak hanya berupa obat, namun juga terapi fisik. Anak saya tiba-tiba mengalami semacam kram di kakinya, dan tidak bisa digerakkan di hari Ahad lalu. Tempat terapi yang biasanya dulu kami datangi sudah pindah dan letaknya terlampau jauh untuk ditempuh. Maka saya terpikir Klinik Averum. 

Klinik ini menjadi pilihan saya karena klinik kecil ini selalu ramai. Dan waktu itu saya pernah ke sana sebelumnya. Jadi sudah ada anchor dengan tempat ini. Harganyapun terjangkau, dan pelayanannya cepat. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menelpon klinik siapa tahu bisa mendaftar melalui telpon. Ada dua dokter yang praktek pada hari Senin: 
  • dr. Muslih, jam praktek 09-14 WIB
  • dr. Susi, jam praktek 09-14 WIB. 

Syukur alhamdulillah ternyata pendaftaran via telpon bisa dilakukan, kamipun bergegas ke sana dengan taksi, karena kaki anak saya yang masih belum bisa digunakan seperti biasanya.

Avasin, sebuah metode pengobatan dengan menggunakan stik (semacam e-pen, ulegan obat), dan menggunakan titik-titik saraf. Mirip dengan akupuntur, namun tanpa jarum. Dokter Muslih menangani anak saya dengan sabar dan menjelaskan sebab-sebabnya. Yaitu kurangnya peregangan, sehingga otot kakinya mengalami cedera. 

Anak saya memang tergolong aktif, dan kadang ketika memulai olahraga, dia langsung melakukan pemanasan, tanpa peregangan (stretching) terlebih dulu. 

Dengan sabar dan cekatan otot-otot kaki anak saya diterapinya. Sedikit sakit, syukurlah dia tidak menjerit kesakitan. Suami saya berkata dengan sedikit bercanda “Sunat lebih sakit, kok”. Hehe. Langsung terbayang saat saya menemani anak sulung saya ini di meja sunat. Dia meronta-ronta dengan penuh kekuatan. Hehehe. 

Alhamdulillah setelah sekitar 20 menit terapi, serta diuji coba dengan anak saya diminta untuk streching kakinya, kakinya sudah bisa kembali berfungsi sedia kala. Ternyata tidak rutin stretching mengakibatkan adanya radang (ini menjelaskan kenapa dia juga demam), dan bagian lututnya lebih panas dibandingkan lutut satunya. 

Sampai di rumah, anak saya mengatakan “kok cepet ya sembuhnya?”. Alhamdulillah, dia cocok dengan metode pengobatan avasin ini.

Jika Anda ingin mencoba terapi avasin, silakan datang ke Klinik Averum. Janganlah ragu, Anda akan dilayani oleh dokter yang mendalami metode pengobatan avasin. 


Klinik Averum, Jl. Cikutra no 312, Bandung 40124.
No telpon: 0812 2269 1123 ‘ 022 878 31 555
Biaya konsultasi & terapi (per 20 November 2017) Rp 120.000,- (bawa uang tunai ya)



Semoga sehat selalu!

Sunday, November 19, 2017

Mengubah Kebiasaan, Sulit tapi Bukan Tidak Mungkin

Mengubah Kebiasaan, Sulit tapi Bukan Tidak Mungkin

Di penghujung tahun seperti sekarang ialah saat yang tepat untuk melakukan kontemplasi diri. Mengingat apa saja yang dicanangkan di awal 2017, mana yang sudah tercapai, mana yang belum. Mana yang ternyata masih khayalan, mana yang sudah berproses dan berprogress. 

Sudah umum jika di awal tahun akan banyak goal-goal yang dicanangkan. Biasanya lebih dari satu. Sayangnya ada yang ternyata masih menempati posisi impian walau sekian lama dicanangkan. 

Maka saat kontemplasi ialah saat yang tepat untuk menganalisa mengapa hal itu bisa terjadi. 

Ada satu hal yang saya canangkan di awal tahun 2017, dan senang sekali saya bisa mengatakan bahwa saya sudan mencapainya. Yaitu belajar berenang. 

Ini adalah target yang mulai 2016 saya canangkan, ternyata baru terealisasikan 2017 ini. Menurut pengamatan saya, hal ini karena saya mendapat kekuatan eksternal untuk akhirnya memulai. Saya punya kawan berenang yang awalnya mengajak saya, dan kamipun memulai perjalanan renang bersama. Memang belum menjadi jago, masih ada hal-hal yang mesti saya perbaiki. Namun untuk saat ini, saya sudah puas dengan pencapaian ini. Sekarang saya mempunyai target dan fokus yang lain. 

Mengapa begitu? Ada orang yang tipe mesti mempunyai target, dan ada orang yang ingin semuanya mengalir. Tampaknya saya ada di golongan pertama. Dengan adanya target membuat saya fokus dan memfokuskan energi serta pikiran saya ke sana. 

Apa fokus saya sekarang? Yaitu menambah kebiasaan pilates setiap hari. 

Pilates adalah olahraga yang pertama mau saya lakukan. Bukan lari, bukan yoga. Pilates lah yang membuat saya jatuh cinta pada olahraga. Jika Anda sering membaca blog saya ini, pasti Anda akan menemukan beberapa tulisan dengan keyword Pilates. 

Saya sudah pernah berhasil melakukan secara rutin pilates selama 3 bulan pada saat saya program penurunan berat badan dulu. Dan setelahnya, saya bisa rutin pilates ketika saya membarenginya dengan renang dan simple rules. Sayangnya simple rules itu rontok ketika di bulan Ramadhan 1438 H ini. 

Setelah saya amati penyebab rontoknya adalah karena saya mengaitkan antara pilates dan satu kebiasaan saya. Ketika di bulan Ramadhan saya tidak melakukan perilaku itu, maka simple rules pilates gugur bersamaan. Maka dari itu, simple rules nya saya ganti. 

Saya menggantinya dengan melakukannya setiap hari. Simple sekali tampaknya. Namun seperti kebiasaan lainnya, sayapun menghadapi tantangan. Banyak alasan untuk saya tidak melakukannya, hingga saya memutuskan untuk menggunakan alat bantu berupa kalender yang hanya berisi laporan pilates saya. Berbeda dengan berenang yang mana saya mempunyai kawan seperjuangan. Di pilates ini saya sendirian. Saya melawan kemalasan diri sendiri. Butuh kedisipilinan ekstra. Karena yang mengingatkan ya bisa dibilang tidak ada. Walau akhirnya saya meminta Suami saya untuk bertanya tiap beberapa hari “Umi sudah pilates?”

Kenapa saya bilang butuh kedisiplinan ekstra?
1. Tidak ada kawan seperjuangan.
2. Tidak ada biaya yang dikeluarkan. 
3. Tidak ada yang tahu apakah saya sudah melakukannya atau belum. Suatu ujian kejujuran pada diri sendiri yang diwakilkan dengan tanda di kalender. 

Saya amati, orang-orang hebat mempunyai jadwal yang tidak pernah kosong. Dan saya amati, mereka punir kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbangun kokoh. Ada contoh ibunda kawan saya yang selalu sholat Dhuha setiap hari, dan masyaallah kalau saya lihat efeknya, bisnis kain beliau dari dulu hingga sekarang membesar dengan organik.

Selain pilates, saya juga menantang diri saya lagi untuk menulis 30 hari tanpa jeda, seperti yang dulu sudah pernah saya lakukan dan berhasil. 

Pertanyaannya? Apa jaminannya jika yang kali ini akan berhasil? Tidak ada jaminan. Semua kembali seperti seolah kebiasaan ini belum ada. Kembali membuat pola yang sesuai. Rasa berhasil yang dulu tentu bisa saya ingat dan rasakan kembali, Namun dengan kondisi yang berbeda, tentunya akan ada penyesuaian yang sebelumnya tidak ada. 

Coach Renang saya pernah bercerita tentang seorang atlet Renang yang sudah gemilang namun memutuskan untuk berhenti beberapa tahun. Ketika atlet itu kembali, ia merasa seolah ia baru pertama kali berenang.

Di situlah tantangan mengubah kebiasaan. Tapi jangan patah arang. Bukankah Allah SWT akan mengubah nasib hambaNya jika hamba itu mengubah nasibnya sendiri? 


terjemahan surat Ar-Ra'd ayat 11. ....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Saturday, November 18, 2017

Lihat, Dengar, Rasakan (bagian 1)

Lihat, Dengar, Rasakan (bagian 1)

“Anda seorang cenayang?” 
“Tidak, saya hanya mengamati”


Begitu potongan scene dari The Mentalist ketika Patrick Jane, konsultan dari CBI mengatakan sesuatu hal yang ternyata benar. 

Awalnya saya menganggap hal ini sebagai “kesaktian”. Hal yang mistis dan seakan-akan aneh dan tidak terjangkau untuk dipelajari. Namun melihat beberapa guru yang juga sakti, saya jadi yakin bahwa ini sebuah skill. Keahlian. Yang memang diasah secara sengaja. 

Ah ini hanya opini saya ya. Hehe. Maklumlah masih baru belajar. Menurut saya, tingkat kepekaan sebanding dengan tingkat kesaktian. Semakin peka seseorang, semakin “sakti” lah dia. Kepekaan apa? 

Di NLP, dikenal sebagai Sensory Acuity. Kepekaan berdasar panca indera dimiliki. Mudahnya ialah memahami kata ini dengan kata “jeli”. Jeli melihat yang tampak, maupun yang tersirat. Yang verbal maupun non verbal. Byuuuuh, banyak ya? Hehehe. Ya, buat jadi sakti tentu tidak bisa dicapai dalam 1 hari semalam. Lha wong Rosulullah SAW saja berdakwah hampir 23 tahun untuk membangun peradaban Islami. Padahal Rosulullah SAW adalah Rohmatan Lil ‘aalamiin. Rahmat bagi seluruh alam. Mestinya langsung sim salabim ya? Tapi ternyata tidak begitu. Hukum sunatullah pun berlaku ke beliau. Sunatullah untuk berproses. 

Ada contoh keren sekali dari Rosulullah SAW tentang kepekaan ini. Rosulullah SAW mempunyai cara berbeda untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda. Karena beliau sangat peka, maka beliau memahami bagaimana cara menyampaikan pesan yang sama, kepada orang yang berbeda menggunakan pendekatan personal. 

Subhanallah ya! 

Menggabungkan pemaknaan saya akan ilmu NLP dan pengetahuan saya (yang masih sedikit) tentang Rosulullah SAW membuat saya melihat benang merah yang terang. Bahwa pemahaman kapade ajaran Islam ini bisa menggunakan pendekatan NLP. Hehehe. Ya kan NLP tentang memodel, menyontoh. Dan untuk mampu menjadi pribadi yang makin berkualitas, maka tentunya yang dicontoh adalah model terbaik dong ya. 

Walau memang mungkin masih jauuuuuuuuuuuuuh sekali untuk ke sana, namun setidaknya ada langkah-langkah maju yang dilakukan tiap harinya. Ini juga sebagai pengingat bagi diri saya. Self reminder. Pengingat diri. Bukan artinya saya menulis ini karena saya sok tahu atau lebih unggul. 

Jadi, kembali tentang kepekaan tadi. Orang yang memiliki kepekaan, kejelian tinggi, melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Minor detail pun tetap masuk dalam perhitungan. Perubahan pupil, penggunaan kata yang digunakan, gerak mata, sampai ke detak jantung. 

Di serial The Mentalist, Patrick sang konsultan kadang mengukur detak jantung orang yang diwawancarainya. Dan sedikit perubahan, misalnya pipi yang bersemu merah, menjadi perhatiannya. Seolah-olah semua diobservasi dan direkam. Seperti potongan puzzle yang digunakan dalam hal ini menuntaskan kasus yang sedang dihadapi. 

Dari mana memulai belajarnya? 

Allah SWT memberikan manusia modal yang sama. Mata, telinga dan hati. Ada di Qur’an surat Al A’raf 179 yang terjemahannya kurang lebih seperti ini: 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Esok insyaallah saya lanjutkan :). 



Disclaimer: ini murni pendapat saya sebagai seorang pembelajar, tidak mewakili institusi manapun. 


Friday, November 17, 2017

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?

NLP dalam Bisnis, Memangnya Bisa?

Dalam NLP ada hal yang dikenal dengan pemilihan kata akan mempengaruhi gambaran tentang kata, karena tiap kata memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Maka pilihan kata menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kata adalah wakil dari apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, sering kali ustadz kenamaan, Aa Gym seringkali berkata “teko hanya mengeluarkan isi teko”. 

Hal ini berlaku luas, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, namun juga dalam pemliihan kata yang dilakukan dalam kegiatan bisnis. Hal ini saya amati dalam interaksi saya dengan tim bisnis tertentu. 

Alkisah, kami sedang meeting. Dan di meeting itu seringkali disebut tentang “buku lama”. Tiap anggota meeting menyebut “buku lama” kepada buku yang sedang tidak dalam proses produksi. Hal ini tentunya menggelitik saya. Memangnya bukunya selama apa? Tahunan? Bulanan? 

Yang saya amati dari kata “buku lama” adalah omzet penjualan yang buruk, tidak ada antusiasme, dan hal-hal yang tidak sebanding ketika mereka menyebutkan “buku baru”. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya antara pemilihan kata dan omzet? Haha, terlalu dini untuk disimpulkan. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Yaitu tentang perubahan kata yang digunakan untuk memaknai satu hal bisa mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi. 

Di meeting yang mana saya terganggu dengan penggunaan kata itu, saya mengusulkan untuk menggantinya menjadi “buku ready stock”. Lha memang kenyataannya bukunya sudah ready stock. Secara harfiah, sudah ada di stok gudang, dan tidak dalam proses produksi. 

Peserta meeting pun berlatih untuk mengganti kata “buku lama” menjadi buku “ready stock” di meeting itu. Awalnya susah. Namun ketika diingatkan tentang “eits… buku ready stock”. Mereka dengan sigap merevisi apa yang baru saja diucapkan. 

Setelah itu, saya meminta peserta meeting membuat ranking buku yang terjual selalu dengan baik walau sedang “tidak musim”nya. Kenapa saya katakan musim? Karena tipe bisnis yang sedang dijalankan pada saat itu ialah, dalam sebutan saya, berlari bersama perubahan. Artinya, yang sedang tren itulah yang digarap.

Peserta meeting membuat urutan rangking atas omzet penjualan buku “ready stock”. Dan ternyata hasilnya lumayan. Setelah dibedah, ternyata ada hubungannya antara pemilihan tema dan salah satu tools di NLP yang akan saya bedah nanti. Tunggu saja di artikel berikutnya atau yang berikutnya lagi. Karena saya sedang membiasakan diri menulis 1 artikel per hari. Selain meladeni tantangan, juga membuat pola kebiasaan diri agar novel yang sudah 100 halaman itu segera bisa dinikmati banyak orang. Hahaha. 

Nah, sehubungan dengan kebiasaan. Akhirnya peserta meeting mengubah penggunaan kata “buku lama” menjadi buku “ready stock”. Ketika saya bertemu mereka sekitar 2 Minggu setelahnya, sudah tidak ada lagi kata “buku lama” yang terlontar dari mulut mereka. Hehehe. Apakah pembiasannya berhasil? Semoga! 

Apa sebenarnya yang saya harapkan dari perubahan penggunaan kata itu? 

Saya ingin peserta meeting tidak berpikiran sempit lama vs baru. Karena seperti yang saya baca di  buku terbitan penerbit tertentu, “tidak ada buku lama jika kau baru saja membacanya” atau semacam itu. 

Yang ada hanyalah buku “ready stok” yang nantinya fast moving dan slow moving. Buku ready stock yang musiman, ataukah yang dibuat last long. Dan hal ini nantinya akan berdampak pada strategi penjualan, target captain omzet, dan waktu yang dibutuhkan. 

Kata siapa NLP hanya bisa digunakan di kehidupan sehari-hari? Ternyata buktinya NLP bisa digunakan di dunia bisnis. Saya jadi penasaran dengan apa saja strategi yang dapat diulik dengan menggunakan teknik-teknik NLP untuk melejitkan omzet dan meroketkan profit. 


Baiklah. Sekian dulu yang saya sampaikan. Sampai jumpa di artikel esok hari. Tinggalkan komen tau add saya di Telegram: @Lya_Herlyanti. 

Tuesday, July 04, 2017

Pengalaman Renangku (1) di Kolam Renang Muslimah Arcamanik

Pengalaman Renangku (1) di Kolam Renang Muslimah Arcamanik

Berenang, salah satu olahraga yang mesti wajib diajarkan. Termasuk 1 dari 3 olahraga yang disunnahkan: berenang, berkuda, memanah. Bener ya?

Alasan kenapa saya pengen nulis cerita tentang perjalanan berenang saya adalah karena sungguh perjalanannya berliku. Haiyah. Hahaha. Ya persis kayak obsesi kudu bisa berenang tea, tapi kok ga dijadi-jadiin. Saya cerita dari awal aja ya. Saya yakin kok, banyak diantara kakak-kakak semua yang punya pengalaman yang heboh kayak saya, atau bahkan lebih heboh. Sehingga pengalaman-pengalaman itu menjadikan “mental block”, ngerasa “kayaknya aku ga bakal bisa renang deh, etc dll dsb”.

Saya ini sudah 2 kali lebih tenggelam. Yang 1 kali pas SMP di Kali Brantas Malang, ndilalah masih dikasih hidup sama Allah. Kedua, di kolam renang pas saya SD gara-gara pakai kacamata renang untuk pertama kalinya, kaget liat dasar kolam, terus gelagapan dan tenggelam bentar. Ketiga pas canoe kebalik pas kuliah, karena pakai pelampung, jadinya masih bisa selamat dan menyeberangi sungai yang berarus. Kalau kakak-kakak, berapa banyak yang udah pernah tenggelam?

Berenang ini, selain sunnah Rosul, juga skill dasar penyelamat hidup. Temen saya dari US pernah heran ke saya ketika saya bisa naik sepeda, tapi ga bisa berenang. Dia bilang “swim can save your life, but bicycle wont. you should learn how to swim, then how to ride a bike”. Courtney nama temen saya itu, waktu itu saya masih umur 16. *sudah pernah tenggelam, dan trauma dengan air.

Tinggal di Belanda, yang tinggi airnya lebih tinggi dari daratan, terus ga bisa berenang, itu seperti bunuh diri yang direncanakan. Setiap anak kecil di Belanda hampir wajib ikut les berenang, dan mereka ada sertifikat untuk itu. Perayaan pencapaian sertifikat ini lumayan lho. Jadi, renang adalah hal serius di Belanda. Ya iyalah, itu bendungan bisa saja jadi mimpi buruk.

Dulu waktu kecil saya pernah belajar berenang. Jadi, ketika saya mulai les berenang (lagi) di tahun 2017 ini, saya sudah bisa meluncur, dan sedikit-sedikit gaya katak, tapi masih belum bisa ambil nafasnya. Tapi yang pasti, saya masih trauma dan takut tenggelam. Sebetulnya resolusi berenang ini sudah saya canangkan di awal tahun 2016, sampai saya belajar ke Nur Maliyanti, sempet 1 kali ke Sabuga. Tapi mandek di tengah jalan, alasannya? Karena yang jaga kolam waktu itu bapak-bapak. *Ini pasti hanya excuse, haha. Jadi, 2016, saya masih belum bisa berenang.

Resolusi mangkrak itu alhamdulillah dibangunkan lagi oleh salah satu saudara semangkok saya, Intan Ariestya. Di bulan Januari 2017, kami memutuskan untuk mengikuti les privat bertiga ke coach renang yang terkenal bertangan dingin *kalau serius pengen belajar, nanti kutanyakan ke beliau masih ada ga slot kosong diantara jadwal beliau yang super duper sibuk.

Kolam renangnya ada di Arcmanik. Ini juga ya ampun, perjuangan saya di hari pertama, mau kesana, lha kok lewat Sukamiskin coba dikasih tahunya sama Mbak Gmaps. Jadi kan jauuuuuuuuuuhhh buanget toh yaaaa.. Itu lho, yang pas saya posting saya makan bebek Sinjay setelah renang, lah laperrrr buanget ga ketulungan. Ternyata saya salah pilih jalan *sigh. Nah, sedikkit cerita di pertemuan pertama ini, saya ga bawa kacamata renang (lha saya kira itu cuma gaya-gayaan aja), alhasil ini mata serasa buram, berkabut, efek dari kaporit di air kolam renang. Ini masuk di perumahan, dikelilingi sawah, kalau dicari di Gmaps, namanya Kolam Renang Muslimah. Harganya terjangkau banget, hanya Rp 12.500,-/per orang terakhir Mei 2017. Ada warung indomie + teh kopi juga di dalemnya, cocok buat pengganjal perut lapar setelah berenang 2 jam.

Kolam renang ini bukanya hampir tiap hari, kecuali Kamis, yang biasanya jadwal maintenance. Ramai juga kalau pas kebeneran barengan sama jadwal anak-anak muslimah berenang. Anak laki-laki boleh masuk maksimal usia 6 tahun, itupun setelah persetujuan dan ijin dari Ibu penjaga kolam renang.

Kalimat pertama yang diucapkan coach renangku adalah “ayo coba tunjukkan seberapa kacaunya renang kalian”. Hahaha. Ya udah deh, aku hanya bisa meluncur saja dan gerak tangan kaki ala-ala gaya katak, dan dalam keadaan belum bisa bernafas. Haha. Latihan satu jam itu rasanya, ya ampun, rontok badan. Hahaha. Di kolam yang paling rendah jaraknya (yang buat anak-anak), latihan bolak balik.

Mbak Lolo, coach renangku ini cuma bilang “Lya, itu tangannya terlalu lebar. Lya, itu kakinya kurang lebar”, dari pinggiran kolam! Haha. Aku inget banget waktu coach renangku itu akhirnya nyemplung kolam dan aku hanya melongo lihat dia renang. WOW banget! Langsung nancep itu di otakku “Oh, renang yang bener itu yang gitu”. Istilahnya di NLP, modelling. Niru. Dan ketika aku udah punya subyek yang ingin aku tiru, aku tahu bagaimana cara mencapainya. Gitu lah kira-kira. Hasil di pertemuan pertama ini selain mata buram, ya badan kaku dikit-dikit. Tapi bener deh, saya yang pemula ini, kebantu banget dengan latihan #pilates yang sering aku lakuin otodidak di rumah. Dan yang bikin amazed adalah berdasar cerita coach renangku, ada salah satu atlet renang Indonesia yang waktu itu persiapan latihan di US, pulang-pulang juga dapat sertifikasi #pilates. Dan ketika coach renangku bilang, ternyata, #pilates dan #renang ini adalah saudara yang saling mendukung satu sama lain. Kadang kalau coach renangku dulu bosen berenang, dia latihan pilates. Jadi, aku bersyukuuuuur buanget udah agak rajin pilates. Hihi.

Nah, setelah vakuum 2 minggu *iyaa maaf; kemarin pertemuan kedua, amazingly, aku dan swimmate ku udah bisa renang dengan keren! Unbelieveable pokoknya! Dengan segala background traumaku yang sempet membuat aku berhenti sebelum mencapai pinggir kolam, dan ketakutan pakai kacamata renang, dan kesulitan teknik belum bisa nafas dengan benar, semuanya beres dalam hitungan sekejab! Ajaib! Walau masih kadang-kadang juga belum tenang banget, nafas kadang masih “norak” kalau kata coach renangku, haha. Tapi bagiku, ini suatu pencapaian yang layak dirayakan dengan semangkuk indomie kuah panas+telor+cengek+sayur. Hahaha.

Baiklah, jadi setelah aku amati, prosesnya kok bisa cepet adalah seperti ini:

1. Niat kuat pengen bisa berenang

2. Air keminum itu biasa, ga usah merasa gagal dengan air yang masuk ke hidung atau mulut. Namanya juga berenang.

3. Siapkan tools pendukung yang wajib:

a. baju renang yang enak

b. topi renang (opsional sih, aku belum pakai, tapi kayaknya minggu depan mau pakai)

c. kacamata renang (wajib! jangan sampai beres renang mata jadi buram kayak aku). Kemarin beli yang merk Opelon, harga sekitar 200rb-an. Enak dipakai.

4. Punya swimmate yang sevisi alias sama kuatnya pengen bisa berenang. Makasih ya Bubub Intan Ariestya yang sudah ngajak dengan gigihnya. hahah. love you so much!

5. Punya coach renang yang cool, keren, pengalaman

Bayangin, kata-kata dari coach renang itu powerful banget lho! Pas aku takut dan berhenti di tengah jalan dari pinggir ke pinggir kolam, dia cuma bilang “Ayo Lya, jadikan itu tantangan!”. Atau pas aku takut renang karena kolamnya dalem, dia bilang “jangan merayap kayak ikan sapu-sapu. Udah gak apa-apa melayang-layang dikit aja (maksudnya jangan pegangan ke pinggir kolam, kalaupun dalem, ya udah, belajar aja nikmati ngambang dikit sambil keminum-minum air juga gak apa-apa. haha).

Terus pas dia kasih semangat “Ayo Lya, itu dikit lagi, nanti kalau kamu udah bisa renang kesitu, ntar pasti ketagihan”. Dan kata “ketagihan” itu buatku powerful banget. Karena aku tipe orang yang penasaran dengan hadiah. hahaha. Kayak gini “emang bisa ya ketagihan berenang?”, ya semacam itulah. Terus pengen membuktikan. Hahaha.

Dan tahu ga, ternyata ilmu #NLP yang aku pelajari selama ini, berguna buanget! Ketika aku belum sampai pinggir kolam, di otakku cuma ngomong “aku bisa, aku bisa, aku bisa”. Dan ternyata emang bisa! Ketakutan akan lihat dasar kolam karena pakai kacamata renang bisa hilang karena aku mikir “dengan pakai kacamata renang, mataku enggak buram”, di #NLP ini namanya #Reframing.

Wah, ternyata panjang juga notesnya. Untuk menyingkat, ini ada list bawaaan yang mesti dibawa ketika renang:

1. Baju renang, usahakan pakai baju renang beneran ya, bukan kaos katun, atau kaos TC, karena di kaos itu ada sisa sabun (basa) yang merusak kadar PH air kolam

2. Handuk + peralatan mandi (sabun, shampo, conditioner optional)

3. Sunblock (sebelum dan sesudah renang mesti dipakai, kemarin aku pas mau renang ga make, dan kayaknya sekarang mukaku bertambah coklat 1 tone, hahaha)

4. Tas kresek (maaf bukan maksudnya ga mau hemat kantong plastik, tapi ini manfaat banget buat bawa handuk + baju renang basah)

5. Uang jajan (biasanya beres renang itu bawaannya laper. Minimal bisa buat bayar indomie kuah yang udah dimatengin. Haha)

6. Kacamata renang + topi renang (makin keren, makin bagus afirmasinya “saya bisa renang, saya bisa renang”)

7. Air putih (selama renang, suka haus, tenggorokan kering karena kebanyakan buka mulut buat nafas)

8. Berenang dengan tuma’ninah. Tenang, rileks, tenang. Jangan nafas kayak takut ga kebagian oksigen, haha. Ini kata coach renangku.

Apalagi ya? Kalau ada yang belum, boleh dituliskan deh. Bisi aku kelupaan.

Jadi renang ini emang olahraga low impact banget, bagus untuk cardio, dan yang paling membahagiakan adalah, mencapai ketenangan dan kerileksan badan yang luar biasa! Tidur nyenyak setelahnya :D.

Gitu ya. Jadi, ayolah belajar renang! Kalau masih belum pede pakai baju renang, boleh kok dibarengi sama #sikecilhijau pas pagi sebelum renang. Tapi asli, berat badan ga ngefek ketika berenang. Fleksibilitas itu nomer 1.

All in all, semoga kita bisa berenang. Emak-emak, kakak-kakak kayak kita-kita ini butuh waktu me-time yang ga bakar kalori dan ketemu temen-temen (swimmate) yang menjadikan renang sebagai sarana rileksasi dan rekreasi sekaligus :). Gitu yaaa..

Jadi, selamat berenang!



PS: Nanti bakal ada edisi lanjutan tentang pengalaman renang di Sabuga yang 2 meter itu :D. Insyaallah, sekarang lagi  ngumpulin keberanian dulu. Hwkwkwkwk.

Monday, July 03, 2017

Micro Expressions, Lie to Me (serial 2009-2011)

Micro Expressions, Lie to Me (serial 2009-2011)

Saya termasuk sangat terlambat mengetahui serial menarik ini. Alasannya? Ya, mungkin memang sudah takdir. Haha.

Apa menariknya serial ini? 

Buat saya, ilmu micro expressionsnya. Yaitu tentang bahasa non verbal, yang tampak di wajah seseorang, yang menunjukkan perasaan sebenarnya. Jika mata adalah jendela hati, maka disitulah ilmu micro expression ini menjelaskannya. 

Semua perasaan bisa tampak di wajah. Mulai dari bahagia, takut, sedih, menyesal, bingung, kejujuran, ketidakjujuran, dan segala emosi yang bisa dirasakan manusia. Bahkan, ada di salah satu episode dimana dr. Cal Lightman (main role), bisa membaca ekspresi seseorang yang bahkan sulit menggerakkan otot-otot wajahnya. 

Apakah ini serial detektif? Ya, tapi dengan pendekatan berbeda. Salah satu kawan saya yang seorang psikolog, lebih menyukai Criminal Minds, karena pendekatannya menggunakan pendekatan psikologi, sehingga mungkin ilmu yang ada di serial itu, akan lebih bermanfaat di kehidupan profesionalnya. 

Saya, yang sama sekali tidak pernah belajar psikologi, lebih menyukai Lie to Me, karena menurut saya ini adalah ilmu praktis yang bisa dipelajari siapapun. Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu akar ilmu yang mendasari serial ini. Ternyata, ilmu yang mempelajari ekspresi micro memang telah dipelajari oleh dr. Paul Ekman. Paul Ekman's PDF

Ada sebuah episode yang menceritakan bagaimana dr. Cal Lightman disewa dalam sebuah negosiasi bisnis. Seorang pebisnis wanita, Clara, sedang dalam meeting untuk menentukan harga saham. Ketika si A (pebisnis lawannya) mengeluarkan harga, Lightman memberi tanda bahwa harga masih bisa dinaikkan lagi (awalnya di angka 160), sehingga Clara mendapat harga terbaik (yaitu 167), sehingga Clara untung besar dari angka baru tersebut. 

Pertanyaannya, dari mana dr. Lightman mengetahui hal itu? Tentu semua terpampang nyata di raut wajah pebisnis A, yaitu tentang kejujuran harga apakah bisa naik lagi atau tidak (dari 160 ke 167). Ketika pebisnis A bilang "itu sudah harga terbaik" di angka 160, Lightman bisa membaca "kebohongan" bahwa sebenarnya itu bukan harga terbaik. Dan ketika di angka 167, Lightman bisa membaca bahwa itu sebuah kejujuran. Memang sudah harga terbaik yang diberikan. Dan Lightman mengetahui ini "hanya" dari ekspresi wajah yang micro, yang seringkali terlepas dari pandangan orang biasa. Tentunya di serial ini diceritakan studi yang dilakukan Lightman, sehingga dia membentuk sebuah firma Lightman Group.

Sayang sekali serial ini sudah berakhir masa tayangnya di Fox. Tapi serunya, jadi bisa langsung nonton tiap episode tanpa harus menunggu kemunculannya di TV. 

Btw, kebayang jika para penegak hukum juga memakai cara ini untuk menghadirkan kebenaran di negara kita, tampaknya lebih seru :). 

Jadi, minat belajar micro expression? 


Sunday, August 28, 2016

Perjalanan  Berat Badan, Self Esteem, dan Solusi Langsing (Finally! Thanks God)

Perjalanan Berat Badan, Self Esteem, dan Solusi Langsing (Finally! Thanks God)

Pasti, buat kaum Hawa, berat badan ini sesuatu yang rahasia yang susah terungkap. Kalau badan tidak sekecil para model yang ada di halaman majalah remaja, pasti berasa gemuk. Saya tahu dari mana? Ya jelas lah saya tahu. Wong saya juga seperti itu. Hehe.

I always felt fat. Bahkan di saat (ternyata) saya tidak gendut, saya merasa gendut. Alasannya? Ya itu tadi di atas salah satunya. Atau salah duanya, karena saya tidak bisa terlihat setipis model-model yang tinggi, langsing. Saya merasa pendek dan gendut. Man, ternyata saya ada masalah di self-esteem!

Udah pernah tahu apa itu self esteem? Menurut kamus Cambridge Dictionary, artinya adalah:
belief and confidence in your own ability and value
dan salah satu masalah yang berkaitan erat dengan self-esteem adalah karena mempunyai issue (masalah) dengan tubuh. Jadi salah siapa? Salah majalah karena mereka memakai model yang cantik dan langsing tinggi? Atau salah televisi karena selalu memilih artis yang berbadan aduhai dan berwajah cantik? Atau ternyata salah diri sendiri karena belum menemukan value  yang bisa dibanggakan?

Bagi saya, nomer 3 jawabannya. Salah saya sendiri karena belum menemukan apa yang bisa saya banggakan dari diri saya sendiri, makanya saya jadi minder karena berat badan. Jadi selain saya mencari apa yang bisa saya banggakan dari diri saya, saya coba berprestasi. Sekaligus saya mencari segala cara untuk menjadi turun berat badan.

Saya banyak aktivitas, walau saya makan 5 kali sehari, saya tidak gendut. BMI saya normal dan baik-baik saja. Sampai akhirnya, saya melanglang buana ke salah satu negara di Eropa. Wuih, itu udah kayak orang ga pernah makan. Dengan postur yang kurang dari 160cm, saya makan dengan porsi besar ples makanan-makanan berlemak. Bayangkan aja, sarapan pake Nutella, makan siang pakai sandwich yang panjangnya 30cm (dan habis, ok saya mengaku. haha). Selama 1 tahun saya hidup dengan pola makan yang suka-suka (asal halal, makan). Dan apa yang terjadi?

Eng ing eng. Saya guwendut (ini bahasa Malang, yang maksudnya gendut banget sekali). Dan ketika saya pulang kembali ke Indonesia, masuk SMA kelas 3. Ya ampun, saya sampai dipanggil dengan sebutan "Lala" yang ada di Teletubbies itu lho! Parah yaa. Saking gendutnya. Itu baru fase 1 kegendutan saya. Terus bagaimana bisa langsing lagi? Ya dengan banyak aktivitas, dan sama sekali tidak makan makanan berlemak itu semua (bye bye Nutella, bye bye sandwich, bye bye Snickers, Twix, Bounty, Ferrero).

Saya belajar dari fase 1 kegendutan itu, bahwa semua lemak bisa hilang dengan perubahan pola makan dan penambahan aktivitas fisik. OK, noted.

Lalu setelah beres fase 1, saya kira semuanya sudah berakhir. Tapi sayang sekali, dugaan saya salah! Ternyata masih ada fase 2. Yaitu saat saya kuliah di salah satu negara Eropa. Duh, itu cerita yang sama terulang kembali. Kerjaan makan aja, tapi kali ini yang boleh disalahkan ialah kebab, poffertjes, chickling korf, segala macem chips dan keripik. Entah beratnya berapa, mungkin sekitar 80kg an. Bayangkan gendutnya. Ga nyaman, berat, males bergerak, dan ga pede. Sampai akhirnya saya dikenalkan ke salah satu olahraga oleh kakak kelas senior saya. Olahraga itu namanya Pilates.

Saya ingat harganya waktu itu sekitar 50 Euro, sekitar 600ribu rupiah untuk 3 VCD Winsor Pilates.
Maka mulailah saya belajar Winsor Pilates dari awal. Dan ketika saya melakukan Winsor Pilates 5 kali dalam seminggu, mengubah pola makan (sarapan 3 pisang, sama sekali tidak makan chips), dan alhamdulillah, dalam 3 bulan saya kembali langsing. As simple as that.

Lalu, tibalah fase 3, ya sekarang ini. Tiap fase gendut ini tantangannya beda-beda lho. Nah, di fase ini, di usia 30 tahunan, dengan keadaan begini apa adanya, ternyata susah juga konsisten untuk melakukan pilates 5 kali seminggu. Paling banter 4 kali, dan paling dikit bisa sama sekali ga pilates selama 1 bulan (bahkan lebih, hiks).

Sindiran dari orang-orang terdekat bikin saya lelah. Saya ingin kembali memakai baju-baju yang ukuran kecil. Kasihan lho baju-baju saya itu, nganggur menunggu dengan setia untuk saya pakai lagi. Tapi gimana caranya? Diet? Bukan pilihan. Bisa pingsan saya (lebay), walau belum saya coba, ide untuk diet bukanlah ide yang menarik untuk saya lakukan.

Saya tetap pilates, walau tidak rutin 5 kali seminggus, tapi saya tetap lakukan, karena memang pilates membantu saya supaya badan tidak kaku. Sayang sekali, mungkin karena aktivitas fisik saya masih kurang (dan asupan makanan yang terlalu banyak), maka belum tampak tanda-tanda penurunan berat badan. Saya juga penasaran dengan planking, ternyata, postur tubuh saya tidak cocok untuk planking. Otot pinggang saya tegang, dan susah digerakkan, yang jadinya mengganggu aktivitas saya. Untuk ruku' pada waktu sholat saja susah. Alhamdulillah ada bola pilates yang diameter 75cm yang saya pakai untuk stretching.

Saya di dalam tahap desperate. Di usia segini, ternyata metabolisme tidak bisa bohong. Harus super ekstra untuk olahraga dan memang harus jaga makan (termasuk diet). Di masa pencarian saya tentang solusi langsing, saya mendapat informasi tentang sebuah produk  yang harganya masuk akal, alami dan tanpa efek samping yang berbahaya.

Baiklah, akhirnya saya coba produk tersebut, namanya LSE Herba. Waktu itu setelah habis 2 botol, saya bisa turun sekitar 6kg an dengan pipi yang lebih tirus. Yeay! Di saat saya masih menyusui, alhamdulillah tidak ada efek buruk ke ASI yang saya hasilkan. Saya sangat gembira. Dan sepertinya terlena, karena saat liburan lebaran kemarin, wah, itu berat badan langsung meningkat secara perlahan tapi pasti. Hahaha.

Saya teringat kembali dengan produk tersebut. Dan sekarang saya sedang mengkonsumsi LSE Herba lagi, mengingat saya sudah menginjak berat yang di angka 7. Dan suamipun juga penasaran mau mencoba.

Alhamdulillah, terima kasih kepada LSE Herba yang telah menjadi solusi langsing bagi orang-orang seperti saya. Saya yakin pada produk ini, karena ternyata bukan saya saja yang membuktikan. Sudah ratusan, ribuan orang yang membuktikan khasiatnya. Alhamdulillah.

Mungkin nanti setelah saya langsing lagi (entah 2 botol, entah 1 botol, entah 3 botol nantinya), saya harus tetap jaga makan, tetap jaga pilates dan jaga makanan is a must :).

Oh ya, kalau mau info lebih lanjut tentang LSE Herba pelangsing ini ada beberapa yang bisa dikontak:
pin BBM: 5AA6A8C8
Telegram: @Lya_Pelangsingalami
FP: Langsing Mudah Alami

Semoga Anda yang mengalami perjalanan berat badan seperti saya, bisa akhirnya menemukan produk yang membantu, dengan harga yang terjangkau dan tidak bikin kantong bolong, dan tentunya aman!