Friday, September 21, 2018

A & E (81)

A & E (81)

Baiklah. Akan kulepaskan kau kini. Sebagaimana yang pernah kulakukan. Kulepaskan bukan karena ku tak sayang. Kulepaskan karena ada yang lebih besar dari rasa sayang. Aku ingin ketenangan. 
Kembali ke saat rindu padamu berupa bongkahan es yang membeku. 
Kembali ke saat rindu padamu adalah tak perlu menghubungimu untuk mengatakan sudah dekatku dengan tempat kita rendezvouz. 
Kembali ke saat rindu padamu tak sanggup kusampaikan karena kata-kata itu tak mampu melewati kelunya lidahku. 
Kembali ke saat ku hanya bisa mengingat namamu tanpa mampu menggambar siluet wajahmu. 
Ku ingin kembali ke saat itu. 
Elang, kau tahu, bagiku kau adalah candaan Tuhan yang tak lucu. 
DIA membuatku mengenalmu, mencintaimu, menginginkanmu. Tapi kau menghempaskanku. 
DIA membuatmu menolakku, menyesalinya, mengharapkanku, lalu ku tak indahkanmu. 
The joke was on us. The joke is on us. 

Apa yang diinginkanNya? 
Apa yang perlu kubuktikan? 
Skenario apa yang ingin DIA mainkan? 

Lelah aku berharap padamu untuk melepaskannya. Hal yang tak pernah akan bisa kau lakukan, kurasa. Kenapa? 
Karena aku tahu, aku tak bisa kau taklukkan. Dan rasa cintamu itu, mungkin hanya sebatas penasaran. Ego kelelakian. Bukan begitu? 
Kau menikahinya, atas dasar apa? Karena dia menjadikanmu tempat bersandar, atau sebaliknya? Kau begitu teduh bersemayam di bawah hangatnya pelukan. Dan kau lupa sebagian dirimu adalah petualang. 

Dan pertemuan denganku mengingatkanmu, where have I been doing all this time? 

Menjadi settle. Berdiam. Lalu apa? Kau termakan kerja 9-5 seperti orang-orang. Kau bosan. Dan aku membawamu ke dunia di mana kita bisa bebas bertanya dan berpikir dan menanyakan eksistensi. Hal bodoh yang kata orang hanya wasting time. 

Kau ingin berlepas dari kebosanan. Dan kau berkata, kau siap mengarungi ini semua lagi bersamaku. Tapi aku tanya, apa kau pernah benar-benar siap dengan segala konsekuensinya? 

Ingat, kita tidak hidup di negara di mana orang akan masa bodoh dengan urusan orang lain. Mereka akan berkasak-kusuk di belakang kita, mencari tahu apa penyebabnya. Lalu membuat ribuan teori versi apapun yang mereka inginkan. Lalu kita akan berlari, katamu. Ke mana? Ke ujung dunia, jawabmu. Aku tertawa, berlari darinya saja kau tak bisa, mana mungkin kau membawaku ke ujung dunia. Dan sekali lagi, ego kelelakianmu terluka. Dan kau kembali di pelukannya. Mencari kehangatan yang sempurna. 

Aku tak menagih janji. Aku bukan debt collector. 
Janjimu adalah urusanmu dengan hatimu, dengan Tuhanmu. Bukan denganku. Obyek janji yang juga bisa menghianati. 

Lang, aku tahu suatu saat kita akan berpisah dan tak ingin melihat ke belakang lagi. Tapi jujurlah pada dirimu sendiri, jika kau masih mencintaiku, maka kau akan membiarkan dirimu terbang berpetualang lagi. Kali ini, dengannya. 

Kau takkan pernah bisa memilikiku. Bukan takdirmu, katamu. 
Maka biarkan apa yang pernah kita miliki menjadi milik kita masing-masing. Untuk berjalan dan menguatkan. Untuk menjadi kenangan yang tak perlu kita ingat-ingat kapan datang menjadi kenyataan. 

Lang, aku mencintaimu. Sesungguhnya. 
Dan dengan rasa cintaku padamu, aku melepasmu, untuk bersamanya. 
Dan dengan rasa cintaku padamu, aku melepasku, darimu. 
Karena cintaku bukan belenggu. 
Dan cintamu bukanlah jawaban bagiku. Bukan takdirmu, katamu. 

Aku muak berada di pusaran antara kalian. Aku disalahkan. Aku dikucilkan. Seolah-olah akulah yang paling bersalah dalam skenario ini. Tak pernahkah ia berpikir bahwa iapun bersalah hingga membuat sayapmu patah? Kehangatan yang justru menghancurkan pada akhirnya? Dia perlu menakar. Kaupun juga. Akupun sama. 

Kita perlu menakar rasa cinta.
Sampai dimana ia mestinya dirasa.
Sampai dimana ia mestinya dibela.
Karena seperti katamu, ada hal-hal yang tak lagi bisa kita ubah.
Aku dan kau salah satunya. 




Ola
A & E (80)

A & E (80)

Saat kau lepaskan sesuatu, kau relakan, kau ikhlaskan; meski pening kepalamu saat mengingatnya, meski rungsing diri jadinya saat membicarakannya; yakinlah... Allah SWT sedang mempersiapkan hal baru yang lebih menantang, lebih menyenangkan.
Syaratnya, lepaskan dulu yang kau genggam. Biarkan skenarionya yang indah dan tak pernah salah alamat, tak pernah salah timing, hadir dan menghiasi hidupmu dengan lebih berwarna.
Tak ada yang kebetulan.
Semua terjadi atas perhitungan cermat Sang Maha Teliti.
Tak ada yang kebetulan.
Semua terjadi atas izinNya Sang Maha Pencipta dunia, langit dan seisinya...
Kau tahu bahwa dunia tak berputar dengan sendirinya
Kau juga pasti tahu bahwa mana mungkin tanaman berevolusi tapi kawan-kawan sejenisnya masih ada.
Kecerdasan alam.
Kecerdasan itu, siapa yang membuatnya? 
Pasti ada. 
Kau percaya juga kan? 
Maka biarkan kepercayaanmu akan pencipta kecerdasan alam itu menuntunmu untuk mempercayai jalan yang bernama takdir. 
Berat? 
Tidak. 
Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi yang tak mampu kita ubah permanen. Ya kau bisa mengubah warna rambutmu, tapi akan kembali lagi ke aslinya. Kau bisa mengubah warna lensa matamu, tapi kau tetap tahu apa warna aslinya saat kau terlahir. Kau tak bisa mengubah dari rahim siapa kau akan terlahir, di mana, dan kapan kau terlahir. Itulah takdir. 

Seperti aku yang tak tahu bahwa aku tertakdir untuk tak memilikimu. 

Ku tak pernah mengira suatu hari aku ada di persimpangan hati seperti ini. Bukan, ini bukan gombal. Aku berkata sejujurnya. Sepahitnya. Seadanya saja. 

Seperti takdir yang telah membuatku mencintaimu dulu. Mencintaimu kini. Nanti? Aku tak tahu.

Kau bilang aku begitu pintar menerjemahkan segala gerak gerikmu, setiap helaan nafasmu ku perhatikan, kutanyakan, hingga terkalibrasi rasaku dan rasamu. 

Kau bilang aku begitu lihai mengamati perubahan emosimu, mudah mengalah untukmu, tak pernah marah padamu, hingga kau begitu tergantung pada kehadiranku untuk menenangkanmu. 

Kau bilang aku terampil membuatmu tertawa, tersenyum, lalu bertanya-tanya, apakah suatu saat ini akan selamanya? 

Itu takdirku untukmu.

Takdir yang tak pernah kuminta. Tak pernah kau doa. Takdir yang menjadi jalan bagi kita. Cukup itu saja. 

Memilikimu, adalah hal lain. 

Bukan inginku saat kau menolak untuk menikahiku.

Bukan harapku saat kau pergi dan ada yang mengganti. 

Semua terjadi begitu saja. Tanpa ada rencana. Seperti menemukan kembali rasa ini yang masih ada. Kusimpan rapat di dalam dada, dan tak pernah kuungkap walau dalam canda. Tapi saat bertemu mata, robohlah seluruh benteng pertahanan itu semua. Kau menjelma nyata! 

Kau tak lagi impian di hampanya mimpi. 
Kau tak lagi dambaan di pelukan hati sepi. 
Kau tak lagi sekedar nama yang kuanggap mati. 

Kau ada. 
Aku ada. 
Dia ada. 

Dan bukan takdirku untuk membersamaimu kini. 
Walau untuk mengharapkannya tak pernah terhenti terucap dari bibirku ini. 
Kubiarkan, kurelakan. Sekali lagi. 
Kulepas genggamku. Kulepas inginku. Dan kuberharap, kaupun begitu. Jangan pernah berhenti mempercayai pencipta kecerdasan alam. Ingatlah, DIA jugalah yang menginginkan kita melewati ini semua. Sekali lagi. 

Biarkan aku mencintaimu, sekali lagi. 
Lalu melepasmu, sekali lagi.
Dan saat kita bertemu nanti, semoga tak ada rasa ini lagi dalam hati. 





Elang. 





Wednesday, September 05, 2018

 A & E (79)

A & E (79)

"Jika nanti aku mati, apa kau akan bersedih?"

"Ya, aku akan bersedih."

"Kau akan menangisi kepergianku?"

"Aku akan menangisi betapa waktuku sedikit untukmu,"

"Itu saja?"

"Aku akan menangisi betapa banyaknya khilaf yang kulakukan padamu,"

"Itu saja?"

"Aku akan menangisi hal-hal bodoh yang kita lakukan bersama,"

"Itu saja?"

"Dan aku akan menangisi bahwa aku tak cukup pernah membuatmu mengerti betapa besar sayangku padamu,"

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau akan menangisiku di pusaraku?"

"Mungkin tidak. Mungkin aku hanya akan melihat pemakamanmu dari kejauhan. Lalu pergi."

"Kenapa tak kau dekati makamku?"

"Mana sanggup ku tahan badai air mata jika itu kulakukan,"

"Jika ku mati lebih dulu dari dirimu?"

"Ya, itu takdir,"

"Betul. Jika kau mati lebih dulu daripadaku, biarkan aku beramal atas namamu,"

"Untuk apa?"

"Agar aku bisa terus membuktikan rasa sayangku padamu, membuktikan rasa cintaku padamu. Yang tak kan pernah lekang walau kita terpisah maut. Ku ingin bisa menerangi kuburmu, ku ingin membahagiakanmu. Kini, dan nanti,"

"Terima kasih. Ini hal paling membahagiakan dan menenangkan yang pernah aku terima,"

"Sama-sama. Kau layak mendapatkannya,"

"Terima kasih, suamiku," kata Ola sambil menitik air matanya. Dia berpikir tentang kebaikan apa yang telah ia lakukan sehingga ia mendapat suami sesabar, sebaik, sesholeh ini.

-----

Kematian adalah nasihat. Nasihat bahwa semua mempunyai waktu, umur, dan masa guna. Berita kematian yang mengejutkan kuterima minggu ini lebih dari sekali. Suami kawanku, yang hanya sakit beberapa hari, lalu pergi. Kawanku, sakit beberapa minggu, lalu pergi. Kabar dari kawanku satunya, yang ayah mertuanya meninggal. Semua mengingatkanku akan kepergian sahabatku, bertahun-tahun lalu, setelah ia melahirkan anak laki-lakinya. Mengingatkanku akan kepergian ayahku, bertahun-tahun lalu, berita yang tak pernah kuduga datangnya begitu cepat. Mengingatkanku akan kepergian eyangku, yang padanya aku berhutang dunia dan akhirat. Kematian-kematian yang meninggalkan nasihat begitu dalam dan terpatri. Bahwa semua ada masanya. Nanti, dunia ini hanya menjadi cerita. Sebagaimana sekarang, akhirat hanya menjadi cerita. Semuanya akan terbalik. Siklus terus berputar. Ada kematian ada kelahiran. Dan nanti saatnya, kita akan dipanggil satu per satu. Mempertanggung jawabkan semuanya sendiri-sendiri. Betapa menakutkannya. Betapa mengerikannya. Betapa tak sanggup ku membayangkannya. Ketakutan mencekam yang membuat orang berkata, ya Allah, seandainya aku dulu Kau ciptakan sebagai tanah.

Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, khusnul khatimah, yang menyebut asmaNya di lidah kelu yang segera dingin. Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, yang memikirkan kebahagiaan atas ditinggalkannya dunia fana yang memberikan kekecewaan. Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, yang tersenyum bahagia saat malaikat pencabut nyawa datang, bukan ketakutan dan kengerian yang tak tertahan.

Ya Allah, jadikan kematian kami, saudara-saudara kami, keluarga kami, kawan-kawan kami adalah akhir yang membahagiakan...Aamiin...

Monday, August 27, 2018

A & E (78)

A & E (78)

Maafkan tentang kemarin. Kau apa kabar? tanya Elang di pesan pendek.

Kau tak berhak tanyakan keadaanku, jawab Ola. Dibalasnya pesan pendek Elang dan dimatikannya telpon genggamnya. Ia marah, merasa bodoh, kesal, menyesal, benci Elang, berharap Elang mati saja, walau mungkin jika itu terjadi, tangisnya bisa jadi terlalu kencang.

"La, kau tak layak jadi rahasianya, atau rahasia orang lain. Kau sangat layak diteriakkan di puncak gunung bahwa kau telah dimiliki. Dia tak layak untukmu. Dia tak baik buatmu, La," celetuk Maria kala melihat perubahan air muka sahabatnya.

Sofa coklat di rumah Maria menjadi saksi kisah Ola dan Elang. Jika ia bisa, mungkin iapun akan menuliskan cerita betapa berat bebannya, melihat dua perempuan bertukar kisah, saling menguatkan, dalam diam mendoakan, dan tangis yang tak kunjung reda.

"Aku bodoh. Aku bodoh,"

"Hei, kau tak boleh mengutuk dirimu sendiri. Apa yang kau tuliskan untuknya?" Maria membetulkan letak duduknya. Kakinya disilangkan menghadap Ola.

"Kubilang dia tak berhak tanyakan keadaanku,"

"Hahaha. Kau ini, sedihpun masih ingat Sheila,"

"Ya iyalah. Sheila benar-benar mewakili perasaanku."

Maria beranjak menuju laptopnya, dan segera mencari Mudah Saja di Youtube.

"Mudah Saja"

Tuhan 
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

Mudah saja...

Mereka menyanyi bersama ditemani suara Duta yang khas. Ola tertawa dengan hidung yang masih merah, dan tissue yang penuh ingus. Hanya saja dia tak tahu, di seberang sana, Elang membaca pesannya, dan hatinya remuk redam...

Friday, August 24, 2018

A & E (77)

A & E (77)

"Maafkan aku, La. Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi pada hubungan kita. Aku tak ingin melukai perasaanmu. Aku hanya ingin kita kembali berkawan. Bukan seperti ini yang kubayangkan. Aku benar-benar tak ada maksud untuk membuatmu menjadi orang ketiga," Elang berkata lirih seraya menatap lekat bola mata Ola yang tampak berkaca-kaca.

"Akupun tak pernah ingin jadi orang ketiga. Di antara kalian. Atau di antara siapapun. Menjadi orang ketiga itu menyedihkan,"

"Aku tak ingin kau sedih,"

"Kau sudah membuatku bersedih. Kau jahat, Lang,"

"Tak pernah ada maksud menjahatimu, La. Kau tahu aku benar-benar sa,"

"Cukup, Lang." ucap Ola lirih. Ia menutup kedua telinganya. Mukanya tertunduk lesu. Air matanya jatuh menetes satu per satu. Elang mengambil dua lembar tissue, dan iapun mendekat ke wanita di hadapannya. Ingin menyeka air mata itu.

Ola bingung. Ia biarkan saja, atau ia tolak uluran tangan Elang? Terlalu lama berpikir, tangan Elang sudah ada di depan wajahnya.

"La," ucapnya lembut sambil menghapus air mata wanita kesayangannya.

"Hapus dulu air matamu. Apa yang kau tangisi?" lanjutnya.

Sore itu mendung, semendung hati Ola yang tak tahu harus merasakan apa lagi. Mati rasa. Telepon dari Atika, istri Elang di siang bolong membuatnya terkejut dan merasa bersalah. Hingga akhirnya sore ini ia memutuskan untuk bertemu Elang untuk terakhir kalinya.

"Kau tahu aku bersamanya," Elang berkata pelan.

"Kau menyalahkan aku?" nada Ola meninggi.

"Kau pikir ini salahku?" ucap Ola menegaskan.

"Siapa yang memulai ingin bertemu? Siapa yang memulai berkata rindu? Siapa yang memulai membahas hal-hal yang semestinya tak perlu dibahas? Aku?"

Elang tak bisa berkata apa-apa. Ia terdiam. Ucapan Ola benar semua. Elang yang mulai pertemuan mereka, Elang yang mulai berkata rindu, Elang yang mulai menceritakan situasi rumah tangganya yang tak seasyik dulu, Elang yang mulai. Tapi Ola menyambutnya.

"OK. Baik. Ini memang salahku,"

"Iya, memang ini salahmu. Lalu kenapa Atika menyalahkan aku?"

"Ia tak hanya menyalahkanmu. Iapun menyalahkanku. Ia membenci kita berdua,"

"Bukan urusanku dia membencimu. Kau layak dibenci!"

"Aku benci kamu,"

"Kata itu terlalu kuat, La. Kau boleh tidak menyukaiku, tapi membenciku? Kau takkan pernah membenciku. Bahkan dulu saat kau meninggalkanku begitu saja, itu juga bukan karena kau membenciku. Kau hanya kecewa denganku. Ya kan? Kau menyambutku karena kaupun tak pernah membenciku. Deep down inside, you always love me,"

"Elang!" teriak Ola.

"Cukup! Kau pulang saja sana. Sana. Sana," Ola beranjak dari duduknya dan menggeser kursi Elang, mencoba membuatnya berdiri agar ia bisa mendorongnya pergi.

"Ola, Ola.. kau tahu aku takkan pergi, lagi," Elang meraih tangan Ola. Mencoba menenangkannya.

"Ya Tuhan, Elang. Lepaskan aku, kumohon," Ola kembali menangis.

"Aku tak ingin melepaskanmu lagi, La. Tidak kali ini. I did it once, and I won't do it anymore. I will stay,"

"Elang, kau tak bisa begini. Please, mengertilah,"

"Aku mengerti, La. Sangat mengerti."

"Apa yang harus kulakukan, Lang?" Ola kembali duduk dan suaranya sayup terdengar.

"Entahlah. Akupun tak tahu apa yang harus kulakukan," Elang membetulkan letak kursinya. Menatap wanita kesayangannya, lalu menunduk.

Sunyi. Senyap. Keduanya memilih sibuk dengan pikiran masing-masing... Entahlah.




Monday, August 20, 2018

A & E (76)

A & E (76)

Elang selalu punya cara konyol untuk mengungkapkan perasaannya. Seperti yang saat ini dilakukannya. Menyalakan lagu lalu lipsync ala-ala penyanyinya di hadapan Ola...

Jangan berkata tidak 
Bila kau jatuh cinta 
Terus terang sajalah buat apa berdusta
Cinta itu anugerah 
Maka berbahagialah
Sebab kita sengsara bila tak punya punya cinta...


"Jaduuuul," Ola tertawa terbahak-bahak melihat aksi Elang dengan kacamata hitam ala aviator, gitar diselempang ala Rhoma Irama, rambut diacak-acak inginnya seperti Ahmad Albar; tapi sayang rambut Elang tak kribo.

"Kau tahu itu lagu siapa?"

"Tahu, Doel Sumbang kan?"

"Hahaha, berarti kau jadul juga,"

"Aku tuh berwawasan musik, bukan jadul,"

"Ya ya ya, terserah kau sajalah. Aku lanjutkan ya?" muka Elang memelas ingin meneruskan penampilannya.

Rintangan pasti datang menghadang 
Cobaan pasti datang menghujam 
Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu 
Mengerti akan arti kehidupan

Marilah sayang, mari sirami 

Cinta yang tumbuh di dalam diri 
Marilah sayang, mari sirami 
Agar merekah sepanjang hari 

"Gombaaaal," Ola sedikit berteriak masih berusaha menahan tawa tapi tak bisa. Terpingkal-pingkal dia dibuatnya.

"Sudah sudah, jangan teruskan lagunya," ucap Ola sambil menutup telinga kirinya sambil tangan kanannya dengan cekatan menekan tombol PAUSE di laptop Elang di meja depannya. Ola hafal lagu ini, setelahnya Doel Sumbang akan bernada teriak dengan sumbang.

"Hahaha," Elang tertawa bahagia sambil menyibakkan rambut acak-acakan miliknya.

"Kenapa, La? Tak tahan melihat pesonaku ya?" Elang mengerlingkan mata.

"Dasar genit. Perayu, gombal."

"Tapi kau suka, kan?" ucapnya perlahan sambil mendekat ke Ola.

"Hoeeeeek, ge-er yaaa," Ola tertawa terbahak-bahak melihat Elang yang sok romantis di hadapannya.





A & E (75)

A & E (75)

Hi there,
It's been a while since the last time we spoke. How are you? I am sorry that the last time you talked to me wasn't such a nice conversation. I think we could be friends once again. Let's be stranger. How's that sound?


--
Ola mengetikkan kalimat-kalimat itu di tuts keyboardnya. Ia ingin menyapa lagi Elang. Ingin bertanya apa kabarnya. Apakah pernikahannya masih baik-baik saja? Apakah dia sudah mampu menghilangkan Ola dari benaknya? Apakah ia dan Atika sudah menerima kenyataan bahwa Elang pernah sekali lagi jatuh cinta pada Ola? Apakah anak-anaknya tidak pernah melihat pertengkaran ayah ibunya? Apakah ia masih menyukai coldbrew? Apakah dan apakah yang lainnya, berkumpul dengan bagaimana dan bagaimana selanjutnya.

"Jantung yang berdegup kencang belum tentu rindu. Bisa jadi ia hanya kebanyakan caffeine," ucap Ola suatu hari ke Elang. Saat itu mereka masih sering menghabiskan waktu bersama, sebelum Ola meninggalkan Belanda.

"Ya, tapi rindu akan menghasilkan efek yang sama,"

"Rindu belum tentu masih cinta. Rindu hanya pembuktian bahwa otak kita punya memori," jawab Ola.

"Ah, sepertinya aku pernah tahu ucapan itu,"

"Iya, aku mengutipnya dari sebuah buku, atau syair lagu, atau apa ya? Aku lupa,"

"Haha, kau memang pelupa,"

"Hei, jangan lupa bahwa lupa merupakan anugerah Yang Kuasa. Kau tak mungkin mengingat semuanya, dan justru kalau kau ingat semuanya, bisa jadi kau tak punya nyali untuk berbuat apa-apa,"

Sepenggal fragmen itu berkelebat di benak Ola. Ia rindu saat-saat mereka hanya menjadi teman, tak perlu banyak sandiwara dan drama. Tak seperti sekarang. Pandangan mata Ola mengabur dan ia merasa sedih. Ia menyesali tindakannya untuk menerima kembali uluran pertemanan Elang. Dan kini, ia hendak menyambungnya kembali? Apa kata dunia? Tak ada pria lain selain Elang?

Ola gundah. Tulisan tadi ditatapnya sekali lagi. Tak mungkin aku memulai sesuatu yang sudah kuakhiri. Ya Allah, kuatkan aku dalam keputusanku. Biarkan aku merasa cukup tanpanya, merasa kuat hanya bersamaMu, dan tak butuh selainMu. Aamiin. 

---

Kembali terngiang ucapan Elang beberapa waktu yang sudah berlalu, "Kau bisa merencanakan dengan siapa kau menikah, tapi tak bisa kau merencanakan dengan siapa kau jatuh cinta,"

Ola menutup laptopnya, menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Kedua tangannya dilipat di dahinya. Ia sungguh-sungguh memohon kekuatan untuk melupakan kenangan bersama makhluk yang tak mungkin dimilikinya lagi.





Tuesday, August 14, 2018

A & E (74)

A & E (74)

"Keputusanku untuk meninggalkannya kuambil tak semata karena emosi. Aku benar-benar memikirkannya dengan matang. Aku menghitung semua pro dan kontra jika bersamanya. Aku meninggalkannya dengan kesadaran penuh dan hati yang terluka. Pun aku tak menerimanya kembali karena aku tahu, dia hanya menyukai satu sisi diriku, padahal aku tak hanya punya satu," Ola menghembuskan nafas panjang mengenang masa lalu.

"Dan kalaupun aku kini masih menyukainya, mungkin itu karena dia adalah kawan yang baik, itu aja,"

"Kurasa aku mesti belajar menerima kekecewaan, karena ini bagian dari pendewasaan, ya kan?"

"Ya, La. Kau sudah tahu semua jawabannya," sahut Maria.

"Tapi aku tetap butuh kau, Mar,"

"Tentu. Kau saat ini ada di jurang kebodohan yang terdalam. Palung perasaan yang kau sendiri tak pernah sadari kehadirannya. Aku tak bisa membantumu jika kau tak ingin keluar dari situ."

"Apa kau ingin keluar dari situ?" tanya Maria menanyakan kemantapan hati Ola.

Ola terdiam. Palung perasaan yang tak pernah aku sadari, pikirnya.

"Ya, aku ingin. Aku siap menangisi kebodohanku. Aku hanya tak ingin berlama-lama di sini."

"OK. Maka program hari pertama yang perlu kau instal di benakmu adalah: kau bodoh, dan kau siap untuk keluar dari kebodohan ini,"

"What?"

"Langkah pertama sebuah perbaikan adalah menyadari kesalahan."

"OK,"

"Ini tandatangan di sini," Maria menyodorkan satu lembar kertas HVS bertuliskan "Surat Pernyataan Permintaan Pertolongan Pertama pada Patah Hati". Di bacanya butir-butir perjanjian di situ, dan salah satunya tertulis:
Aku setuju akan mengkonsultasikan dan menceritakan hal-hal yang dapat membuatku bimbang untuk melupakannya.

Monday, July 30, 2018

A & E (73)

A & E (73)

"Ceritakan padaku awal mula kau menyukai berkebun,"

"Ketika dulu aku kecil, aku suka main ke rumah tetanggaku. Bu Edy namanya. Entah siapa nama aslinya. Kau tahu kan orang senang memanggil istri dengan nama suaminya. Bu Edy ini kawan baik ibuku. Beliau punya halaman depan, yang, hmm, kau tak bisa sebut sebagai taman; melainkan lebih sebagai hutan. Haha. Aku sering main ke sana, main masak-masakan daun-daunan campur tanah dan air keran," Maria tertawa mengenang masa kecilnya di sebuah gang sempit.

"Beliau punya banyak sekali tanaman. Pun di kebun belakangnya, penuh dengan tanaman daun-daunan. Yang kata orang sekarang, urban jungle," ia melanjutkan.

"Hm, lalu?"

"Lalu ya seperti itu. Di rumah ibuku juga banyak tanaman, meski tak sepenuh urban jungle-nya tetanggaku itu. Beberapa tanaman yang sangat kuingat, kau tahu bunga kertas? Atau bunga telekan? Yang warnanya kuning?"

Ola menggeleng.

"Ya, tanaman-tanaman tertentu mengingatkanku akan masa kecilku yang menyenangkan. Jauh sebelum ibu sakit. Dan kurasa, ketika menanamnya, mengurusnya, menyiangi tanahnya, memotong daun atau ranting yang telah kering, kurasa, aku menemukan sebenarnya aku sedang mengurus jiwaku sendiri," pandangan Maria menatap jauh ke depan.

Di kursi teras rumah Maria, ditemani dua cangkir teh panas, mereka berdua menikmati each others' company. Ibu Nanik, ibunya Maria, sedang ada di dalam rumah dan mengkristik sebuah karya. Kalau tidak salah lihat, akan ada dua buah tangan yang menengadah dan meminta kepada Allah SWT.

"Ibu sehat ya Mar?" tanya Ola sambil menoleh ke arah Bu Nanik yang sedang asyik.

"Alhamdulillah,"

"Masih minum obat?"

"Masih, masih rutin. Tapi melamunnya sudah jauh berkurang. Ia sudah tak sesering dulu mengigau dan marah-marah. Kau tahu apa yang aneh, Mar?"

"Apa?"

"Ketika memasak, ibu akan tahu betul rasa yang ia cari. Ia seperti dulu. Terlebih lagi saat aku mulai membeli tanaman-tanaman; sansiviera, shanghai, terus tanaman gantung yang gendut-gendut itu; perhatian Ibu mulai tercurah untuk tanaman. Ini alhamdulillah Ibu sedang sehat betul, ia bisa mengkristik karyanya yang belum selesai. Ajaib. Semua kuasa Allah,"

"Alhamdulillah..."

"Iya. Melihat ibuku kembali beraktivitas dan kembali sibuk seperti ini sudah cukup membahagiakan. Meski beliau belum bisa berbincang lama seperti dahulu, namun ini sudah cukup buatku." Maria memandang ibunya dengan penuh kasih.

Bu Nanik sedang asyik dengan kristiknya, beliau menghitung kotak-kotak yang mesti diberi benang warna biru.

Hanya syukur yang mampu mewarnai kelabu. Hanya syukur yang bisa mewarnai gulita. Hanya syukur yang kuasa melukis tawa dan bahagia...

Friday, July 27, 2018

A & E (72)

A & E (72)

Namanya Maria. Lengkapnya Maria Indah Permatasari. Dia bijaksana karena hidup telah mengajarinya hal-hal yang melebihi orang-orang seumurnya. Orang tuanya berpisah saat dia berusia lima tahun. Anak tunggal, sama dengan Ola. Tak punya saudara seayah atau seibu. Ayahnya bekerja di kapal pesiar dan tak pernah ada kabar setelahnya. Maria memutuskan bahwa ayahnya telah meninggal dunia atau mempunyai kehidupan baru.

Menikah di usia 18 tahun, setelah beberapa tahun, dia hamil. Suaminya rupanya tak menghendaki bayi itu, maka suaminya pergi dan mentalak Maria. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bayi yang dikandungnya pun keguguran di usia kehamilan 4 bulan. Saat itu Maria berusia 21 tahun. Belum bekerja tetap, dan tinggal bersama ibunya yang kurang sehat secara mental.

Maria menemukan ketenangannya tiap kali ia melihat pemandangan, alam, dan warna daun hijau. Dia seringkali mengajak ngobrol tanaman yang tumbuh di halamannya. Memberi makan kucing-kucing jalanan yang kelaparan dan singgah sebentar di rumahnya. Hingga satu hari di usianya 22 tahun, dia menemukan sebuah buku resep masak di gudang. Rupa-rupanya itu resep-resep ibunya yang ditulis beliau saat beliau sehat. Satu per satu resep-resep itu diperhatikannya, dan dipraktikkannya. Ajaibnya, ibunya menjadi hampir normal ketika beliau mencicipi masakan itu, jika rasanya sesuai. Jika rasanya kurang asin atau kurang sesuai dengan lidah beliau, beliau akan segera menuju ke dapur dan mengoreksi rasa. Pandangan mata beliau yang biasanya kosong, karena kata dokter beliau  depresi, berubah menjadi berbinar-binar saat meramu masakan.

Saat itulah Maria melihat sebuah keajaiban. Obat dari penyakit yang diderita ibunya adalah kesibukan dan rasa masakan yang dinikmatinya. Perlahan semenjak hal itu disaksikannya, Maria mempraktikkan semua resep yang ada di buku itu. Mulai dari huzarensla, hingga kue sus isi vla. Ia menikmati prosesnya, terlebih lagi ketika melihat ibunya seolah telah kembali tiapkali beliau mencicipi masakannya.

Keajaiban rasa. Maria menemukan tujuan hidupnya kembali. Ia hidup untuk membahagiakan orang-orang dengan masakannya.

Maka mulailah ia berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Sekedar es dawet (cendol, pen), dan gado-gado. Ibunya yang meracik bumbu, Maria yang berbelanja ke pasar. Ia riang sekali. Senyum merekah di wajahnya seolah duka tak pernah dikenalnya. Orang-orang melihat perubahan keluarga itu dan satu per satu mempromosikan gado-gado Maria, awalnya karena kasihan, ternyata di situlah keberkahan harta halal tersimpan...