Monday, October 15, 2018

A & E (92)

A & E (92)

Aku tak bisa berpikir jernih. Kehadiranmu mengacaukan sistem kesetimbanganku. Spending my time with you is everything I wanted to do. Aku tak pernah suka perjalanan, tapi jika denganmu, keliling Eropa sambil jalan kakipun akan kulakukan.

Ola, aku tak tahu apa yang membuatku tertarik padamu. Sikapmu yang kekanak-kanakan, tatapan matamu yang polos dan dalam, ataukah opini-opini yang kau lontarkan cerdas dan pertanyaan yang senantiasa membuatku berpikir menggali lebih dalam ke hati.

Aku menikmati setiap detik kuhabiskan denganmu. Meski hanya menatapmu yang sedang mengetik artikel yang mesti kau kumpulkan. Aku tak kan kuasa mengatakan bahwa aku sudah memilikinya. Aku tak ingin kehilanganmu kedua kalinya. Aku hanya ingin hidup di saat ini, selebihnya, itu terlalu lama.

Apa yang akan dipikirkan Atika jika ia tahu aku di sini bersamamu? Akankah dia marah? Akankah dia cemburu? Akankah dia memahamiku yang sejatinya selalu merindukanmu? Ah, aku tak peduli itu. Itu urusan nanti, yang penting sekarang, ada kau di sisi.

Rasanya ingin kugenggam lagi jemarimu, La. Tapi aku menahannya. Kusimpan tanganku di saku jaket agar ia tak lancang menggapai jemarimu. Kusimpan tanganku di bawah meja, agar tak lancang ia menjulur mencari kehangatan di genggaman telapak tanganmu. Maafkan aku, La. Kau hanya terlalu indah untuk kulewatkan...
A & E (91)

A & E (91)

Egois kau, Lang!
Kau datang dan berharap aku masih menunggumu. Masih bodoh seperti kala itu. Apapun masalah yang kau hadapi dengannya, jadilah ksatria. Kau seorang imam bagi keluargamu, apa kau betul sudah jadi menuntunnya? Kau bilang dia begitu karena salahmu, kau bilang dia begitu karena kau belum optimal membimbingnya. Ingat Lang, kau memilihnya menjadi makmummu.

Tak ingatkah kau akan kesabarannya?
Tak ingatkah kau akan kelembutannya?
Ingat-ingatlah mengapa kau dulu menjatuhkan pilihanmu padanya.
Kau bilang dulu keluarganya tak mendukung kalian, masih ingatkah kau mengapa ia kau perjuangkan?

Cinta bukan hadiah dari kahyangan. Ia bagai mata pisau yang mesti kau asah. Seperti dulu kau menginginkannya, seperti itulah mestinya kau menjaganya.

Apapun perubahannya, dia makmummu juga. Kau berhak mengingatkannya. Kau berhak menegurnya. Kau mesti mengarahkannya. Jangan kau jadikan alasan "aku sudah tak sepaham", menjadi alasan perpisahan.

Apa yang kau cari dariku? Apa kau yakin kau akan lebih bahagia jika bersamaku? Bukankah ia yang memberikanmu bahagia saat kau kutinggalkan dulu? Kenanglah saat kesabarannya mendengar segala kisah sendumu. Kenanglah saat ia memasakkan makanan kesukaanmu. Kenanglah saat ia menatap lembut kedua matamu yang nanar karena menangisi kepergianku. Kenanglah kebaikannya saat ia meminta maaf padamu karena telah bertanya tentangku. Kenanglah marahmu ke dia karena ia terlalu sering bertanya "kau masih mencintai Ola?"

Cinta bukanlah tanaman plastik yang akan selalu sama rupanya. Cinta bagai bibit tanaman yang perlu kau rawat tumbuhnya. Kau ingat bagaimana ia sabar mengajakmu sholat? Ia mampu menyulapmu menjadi orang yang tak mampu kukenali lagi. Ia mampu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu. Ia membuatmu berubah. Dia. Bukan aku.

Ingat-ingatlah semua itu. Lalu beranjaklah dari rindumu padaku.

Saturday, October 13, 2018

A & E (90)

A & E (90)

Apa yang kau inginkan dariku? Menyimpan rindu yang mestinya kuenyahkan? Berharap kata-kata darimu menenangkanku? Menunggu saat-saat pertemuan kita saat tak ada dia di sisimu? Apa yang kau inginkan?

Kau tak bisa begitu saja berkata bahwa kau sudah melupakan aku, lalu beberapa bulan setelahnya kau bilang kau rindu. Kau itu siapa? Apa yang kau inginkan?

Kulihat kau tak kuasa beralih darinya. Lalu kau inginkan aku terus berharap padamu? Kau ini apa? Kau tak ingin kehilanganku? Kau tak ingin kehilangan fansmu? Kau menarik ulur aku seolah aku layangan yang sedang kau mainkan. Apa yang kau inginkan?

Lang, kau laki-laki. Bersikaplah seperti laki-laki. Jika kau inginkan aku, kau tinggalkan dia. Atau kau memilih dia, maka tetaplah bersamanya dan lupakan aku. Kau tak bisa membuatku menggantung rindu. Kau tak bisa muncul tiba-tiba setelah kau menghilang sekian lama.

Aku tak ingin bersamamu saat ini. Sudah kutemukan bahagiaku, seperti doamu. Akupun tak mau dianggap pengganggu. Sudah, pergilah saja. Lupakan aku. Lanjutkan hidupmu dan dengannya. Jangan manja. Dia pilihanmu. Kau lanjutkan atau kau tinggalkan. Kau tak bisa ada di tengah-tengah seperti waktu itu.

Apapun perasaanku, kau tak berhak tanyakan. Apapun dukaku, kau tak berhak sembuhkan. Pergi. Pergi saja kau!

Saturday, September 29, 2018

A & E (89)

A & E (89)

"Ketika kau hanya fokus pada masalah pribadimu, maka seolah-olah itu adalah masalah yang besar. Namun saat kau meluaskan pandanganmu pada masalah-masalah yang lebih besar, maka masalah pribadimu tampak kecil," nasihat Wisnu.

"Menurutmu, apa yang aku mesti lakukan?"

"Kau ingin sembuh?"

"Ya,"

"Kalau begitu, mulailah sesuatu yang akan menyita perhatianmu,"

"Contohnya?"

"Apapun. Kau bisa membaca lebih banyak, menulis lebih sering, berkegiatan lebih aktif, memasak tiap hari, atau apapun yang terpikir yang bisa kau lakukan,"

"Tanpa itu," lanjutnya, "kau takkan pernah bisa move on dari Ola,"

"Maksudmu, aku tebar pesona untuk mencari penggantinya?"

"Jodoh itu rahasia. Tempat bertemunya bisa di mana saja. Bisa di halte bus, di supermarket, di lift, di bus. Semakin beragam kegiatan yang kau lakukan, semakin besar peluangmu bertemu jodoh. Peluang ya. Aku tak bilang tentang kepastian,"

"OK. Akan kulakukan,"

"Nah itu baru pejantan tangguh bernama Elang Mahardika!" Wisnu menepuk pundak kawannya.

Dalam hati, Elang tak ingin mencari pengganti Ola. Takkan mungkin ditemukannya, kecuali di kehidupan kedua...

Thursday, September 27, 2018

A & E (88)

A & E (88)

"Jodoh itu rumit, Mar,"
"Rumitnya di mana?" tanya Maria sambil menyalakan blender berisi potongan nanas dan jahe.
"Ya rumit lho. Coba kau pikirkan. Berapa jumlah orang yang kita kenal, anggap saja 1000 orang. Lalu, dari yang kita kenal itu, ada yang suka kita, ada yang kita suka. Ada yang bertepuk sebelah tangan, ada yang saling suka. Dari situ, berapa jumlah kemungkinan akan tahan lama dan akhirnya menikah? Kemungkinan kecil sekali," Ola duduk di kursi coklat favoritnya.
"Haha, Ola Ola. Tidak semuanya itu perlu kau pikirkan secara logika,"
"Lho, ya kan? Memang ini logika. Makanya ada frase tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir karena kebiasaan,"
"Lalu kenapa kau mesti membahas ini, sekarang?"
"Ya, karena aku mesti menemukan pengganti Elang. Ya kan? Apa kau tega melihat aku terus menangisi dia yang sudah dimiliki orang? Apa kau tega?" Ola berkata sambil mengunyah potongan mangga arumanis yang matang pohon.
"OK. La, coba kau ingat-ingat. Bagaimana dulu pertemuanmu dengan Elang?"
"Hmm, apa hubungannya?"
"Ya, agar kau ingat,"
"OK. Hm.. dulu.. tak sengaja aku kenal dengannya. Ya kan? Lalu kami dekat, dan kami saling suka."
"Saat kau bertemu dia, apa kau tahu bahwa kau akan jatuh cinta padanya?"
"Jelas tidak, Mar. Siapa yang bisa tahu kepada siapa hatinya akan tersandera?"
"La, janganlah kau mengejar pengganti Elang. Untuk apa? Hanya supaya kau tak sendiri?"
"Ya, supaya aku tak bersedih lagi. Ada seseorang yang menyayangi dan menerimaku apa adanya?"
"Aku ini kau anggap apa? Tidak menyayangi dan menerimamu apa adanya, hah, hah?" Maria bercanda dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.

Suara blender sudah berhenti. Potongan nanas tadi sudah cantik dan siap disajikan. Kata orang, ramuan ini cocok untuk pereda batuk. Ibu Nanik perlu mencoba ini, batuk beliau yang tak kunjung sembuh membuat Maria cemas. Malam hari seakan jadi momok bagi Ibu Nanik. Tidur beliau terganggu, dan paginya beliau akan bangun dengan lemas dan kurang bersemangat.

"Ya bukan begitu, Mar,"
"Kau ini. Kehilangan satu Elang saja sudah seperti kehilangan duniamu. Aku seringkali khawatir denganmu. Kau terlalu melankolis saat bersamanya. Melebih-lebihkan perasaan terluka, dan akhirnya, lebay!"
"Ya ampun, Maria!" Ola serasa tertampar.

Betulkah aku begitu? Maria tidak punya intensi apapun untuk membohongiku. Dia adalah sahabatku paling jujur, paling memahami, paling bisa menerimaku apa adanya. 

"Jadi, apa yang mesti aku lakukan?"
"Berhenti berharap," jawab Maria.
"Haiyaah. Duta lagi disebut-sebut,"
"Aku serius La. Berhenti mengharapkannya. Berhenti. Dan mulai belajar bersyukur."
"Kau ini, betul-betul bijak bestari,"
"Hey, hidup hanya mengajarkan, kau yang mesti mencari hikmahnya,"
"Jadi?"
"Sudahlah. Cintai saja dulu dirimu. Perbaiki hubunganmu dengan Mama Papa. Dengan orang-orang di sekelilingmu. Kau akan sadari, kehilangan seorang Elang itu tidak mengubah apapun. Ya, mungkin hanya 1% dari semuanya,"
"Kau memang tidak menyukainya, Mar?'
"Aku tidak menyukai keadaanmu yang seperti ini. Lebay melambai, sedih, mengharu biru. Tak menyadari karunia-karunia Allah yang diberikan jauh lebih banyak daripada yang kau tangisi itu."
"OK, kau memang tidak menyukainya. Haha,"
"Haha, terserah kau sajalah,"

Maria membawa jus nanas ke ruang tengah untuk menghidangkannya ke Ibu Nanik. Ibu Nanik menatap lurus ke tanaman-tanamannya di luar. Dia meminum seteguk jus nanasnya, dan memegang gelasnya sebentar, lalu tiba-tiba, gelas itu jatuh dan pecah!

"Prang!"
"Tidak apa-apa, Bu. Sudah takdir," Maria tersenyum teduh menatap ibunya yang terkejut dengan pecahnya gelas jus nanas yang baru seteguk diminumnya. Ia bergegas mengambil tissue dapur dan membersihkan jus dan pecahan gelasnya. Ia tampak sabar dalam mengerjakannya.

"Kau sabar sekali, Mar,"
"Karena surga itu harganya mahal, La,"
"Maksudnya?"
"Tiket ke surga itu hanya kesabaran. Dan itu satu-satunya modal yang bisa kutanamkan. Investasi kesabaran."
"Maksudnya?"
"Nanti kau juga paham," jawab Maria sambil membawa pecahan gelas ke dapur. Ola membantu mengeringkan lantai. Ibu Nanik masih diam menatap dedaunan di luar.

Tiket ke surga itu hanya kesabaran, apa maksudnya? pikir Ola ...

Wednesday, September 26, 2018

A & E (87)

A & E (87)

Waktu itu relatif. Jika kau menyenangi suatu kegiatan, maka waktu serasa terbang cepat meninggalkanmu. Dan jika sebaliknya, kau akan merasa waktu berjalan sangat lambat dan perlahan.

Sudah lebih dari dua ratus sembilan puluh lima pagi tanpa ucapan selamat pagi darimu. Aku mencoret kalender seolah aku menanti datangnya sesuatu. Ya, kesempatan berbincang lagi denganmu.

Selama kita tak bertemu, aku menuliskan segala rasaku di buku. Ya, kau tak kan mengira bahwa laki-laki sepertiku akan tekun menuliskan perasaannya, bukan? Walau kau tahu betul aku dan kau bisa menghabiskan waktu dengan berbincang.

Menulis, membuatku merasa lega. Seolah kita sedang terhubung dan berkomunikasi. Walaupun aku paham betul itu sebatas ilusi.

Menulis, membuatku mampu menyelam ke dasar hati dan kuangkat mutiara hikmah yang mengendap dari butiran pasir luka menganga.

Menulis, membuatku melewatkan waktu dengan lebih cepat.

Ya, aku lebih sibuk kini. Karena seperti yang kau pahami, aku tak mau terbunuh sepi. Kali ini, ku akan hadapi luka hati dengan gagah berani.

Ada perempuan yang menawarkan hatinya untukku. Aku tak tahu. Aku masih belum bisa melupakanmu. Dia begitu baik dan memahamiku. Seolah ia ingin menggantikan posisimu. Aku tak tahu ketulusannya. Tapi aku tak hendak terluka. Aku masih merinduimu, kuakui dengan jujur kelemahan hatiku.

Aku yakin, jika perempuan ini memang untukku. Dia akan bertahan melihatku berjuang melupakanmu.

Aku masih tak tahu kenapa kau menolakku. Aku masih di sini, untukmu.




Elang.
A & E (86)

A & E (86)

Suatu hari nanti, aku akan bertemu denganmu. Dan saat itu akan kupergunakan sebaik-baiknya untuk menghabiskan waktu denganmu, berbincang tentang apa saja yang telah kau lalui selama ini, selama kau tanpaku. 

Elang, 

Dokter bilang aku tidak sakit. Walau aku demam dan menggigil, dokter bilang aku tidak sakit. Dia bilang aku hanya butuh relaksasi. Dia tak memberiku obat. Dia hanya memberiku multivitamin, memberikan totok pada titik-titik tertentu, lalu menyuruhku istirahat. Beliau memang bukan dokter biasa. Beliau dokter umum, yang lalu mempelajari lebih lanjut ilmu pengobatan avasin. Bukan akupuntur, walaupun sama-sama menggunakan jarum; jarum avasin tidak tajam. Teknik ini dipelajari dari timur tengah. Tidak semua dokter akrab dengan ilmu pengobatan timur ini. Bagaimana mungkin ia tahu bahwa aku tengah banyak pikiran yang berkecamuk? 

Aku lelah, Lang. 

Lelah dengan menumbuhkan pengharapan, lalu kau bunuh perlahan. Lelah dengan kesabaran, lalu kau matikan secepat kau meniup lilin yang tak lagi kau perlukan. Lelah dengan kelembutan yang kau tawarkan, namun sekelebat rasa bersalah muncul perlahan. Ku tak inginkan kepalsuan. Walau kau katakan itu bukan kepalsuan. Itu yang sungguh-sungguh kau rasakan, namun yang tak mampu kau sampaikan. 

Lang, mungkin kau tak lagi peduli padaku, aku pun tak peduli. Ya sudahlah jika kau tak lagi memperhatikanku. Toh, ada dia yang memang berhak dan memilikimu. Aku ingin membiasakan lagi hidup tanpamu. Mencoba bangun pagi dan tak perlu menyapamu. Mencoba bangun pagi dan tak perlu menunggu balasan pesanmu. Mencoba bangun pagi dan bersyukur atas hidupku, bukan bersyukur atas kehadiranmu. Mencoba bangun pagi dan menyiapkan kopi untukku, bukan untukmu. Mencoba tidur di malam hari ini,  dan tidak berharap esok tak perlu menanti pertemuan denganmu. 

Lang, kurasa sakit ini menjadi suatu peringatan, bahwa sebaiknya aku segera pergi dari hidupmu. Melanjutkan hidupku. Dan kita melanjutkan hidup masing-masing. Sendiri-sendiri lagi. 

Kutak berharap dirimu akan membalas ini. Anggap saja ini e-mail perpisahan. Tapi biarkan aku menulis tentangmu, agar tak mengendap semuanya di benakku. Biarkan aku menulis tentang kita, untuk menghargai yang pernah ada. Biarkan aku menulis tentang kalian, agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Mungkin suatu hari, akan kutulis novel tentang kita. Untuk merayakan bahagia, walau tak bersama. 





Ola. 











Monday, September 24, 2018

A & E (85)

A & E (85)

"Kita hidup di dunia yang selalu berputar, berotasi, berevolusi. Karena ketidakmampuan kita menangkap gerakannya, kita terus menganggap dunia ini diam tak bergerak. Padahal sebenarnya ia terus berputar. 

Akan banyak hal yang tak kau pahami. Karena yang kau tahu hanyalah sebatas yang tertangkap panca indera dan akalmu. Sedangkan akalmu pun terbatas. Kapasitas otak yang berkembang perlahan, pikiran yang mendalam dan kebijaksanaan yang terasah, bukanlah hal-hal yang kau dapat dari lahir. Tiap kita memang punya bakat untuk itu, tapi kehidupanlah yang banyak mengajari kita, dan ketidakegoisan dan pengakuan atas kelemahan kitalah yang membuat kita mampu mengambil hikmah. 

Berapa kali kau temukan orang yang mengeluh atas suatu musibah, lalu beberapa waktu kemudian, justru mensyukurinya? Ada sebuah cerita tentang seorang raja dan penasihatnya. Ini kisah yang kudengar dari cerita seorang ustadz. Mungkin kita bisa mengambil pelajarannya. 

Kisah ini dimulai dengan sang raja yang mempunyai seorang penasihat yang sering kali berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia" sambil tersenyum. Apapun yang dilakukan sang raja, selalu ia tanggapi "ini yang terbaik, Yang Mulia". Suatu hari, raja dan penasihat ini pergi berburu. Tak sengaja, pisau yang dipegang penasihat ketika hendak diayunkan mengenai ibu jari sang raja dan terputus oleh pisaunya.

Sang raja murka! Penasihatpun langsung disuruh untuk ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Penasihat itu tersenyum dan berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia". Setelah beberapa lama berlalu, sang raja punya penasihat baru. Merekapun pergi berburu. Karena keasyikan berburu, ternyata sang raja masuk ke daerah terlarang yang dimiliki suku kanibal, ya pemakan manusia. 

Penduduk suku yang kanibal ini menangkap raja, penasihat, dan prajurit-prajuritnya. Satu per satu mereka disembelih dan dimakan. Termasuk penasihat baru sang raja. Kemudian tiba giliran sang raja untuk disembelih.

Uniknya, suku ini mempunyai kepercayaan untuk tidak makan manusia yang bertubuh cacat. Betapa kagetnya ketika mereka melihat ibu jari sang raja yang sudah tidak ada satu. Segera mereka lepaskan sang raja dan membiarkan dia melewati perbatasan dan selamat masuk ke negerinya. 

Sang raja amat bersyukur dan diapun menuju ke penjara, untuk berterima kasih kepada penasihatnya. "Terima kasih telah memutuskan ibu jariku. Jika tidak, mungkin aku sudah mati dimakan ramai-ramai suku tersebut." Sang penasihat tersenyum dan berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia. Apa jadinya kalau saya tidak dipenjara? Mungkin saya sudah ikut Yang Mulia dan mati dimakan ramai-ramai oleh suku kanibal itu, sama seperti penasihat Yang Mulia."

Merekapun tertawa dan mensyukuri musibah yang menimpanya. 

Moral dari cerita ini adalah.. Lang, apapun yang terjadi denganmu dan dengan Ola, apapun keputusannya, inilah yang terbaik. Kau mungkin takkan tahu apa hikmah dari putusnya hubungan kalian. Tapi jangan pernah berprasangka buruk atas musibah yang terjadi. Boleh jadi putusnya kalian telah menyelamatkan kalian masing-masing dari bencana yang lebih besar. Teruslah berbaik sangka pada Sang Pencipta Skenario," Wisnu melanjutkan. 

Elang hanya bisa menatap nanar sahabatnya ini. Ia ingin mengunyah pizza yang dibawa Wisnu, tapi rasanya lidahnya hambar tak berasa. MSG sekuat apapun tampaknya tak bisa menghilangkan rasa pahit di hatinya, di lidahnya.

Wisnu tersenyum, dan berkata "
take your time. You have all the time in the world,"


Sunday, September 23, 2018

A & E (84)

A & E (84)

Tangisnya pecah. Ia tak pernah berharap mendapat jawaban seperti ini dari Ola. Ia memang laki-laki, tapi laki-laki juga punya hati. Inilah hal terakhir yang terlintas di benaknya. Tidak akan mungkin Ola menolaknya. Setelah apa yang mereka jalani. Setelah apa yang mereka hadapi. Tak mungkin Ola mengambil keputusan ini. Ini pasti bukan Ola. Ini bukan Ola yang kukenal, pikirnya.

Laki-laki juga punya perasaan. Dan saat ini, apa yang dipikirkan Ola? Gila! Indonesia telah menghancurkan Olaku. Dengan siapa dia berteman di sana? Siapa yang telah mempengaruhinya seperti ini? Ini adalah rencana kami, dan tidak akan ada yang mengubahnya.

Memintanya untuk menikahiku bukanlah hal yang mudah untuk kukatakan. Susah karena aku belum punya cukup kekuatan finansial untuk menikahinya. Susah karena aku tak bisa menahannya untuk tidak pulang ke Indonesia. Susah karena aku sudah pernah mengatakan tidak untuk permintaannya. Apakah dia dendam padaku? Apa yang ia pikirkan? 

Elang tak habis pikir. Apa yang telah merasuki Ola. 

"Ola, marry me,"
"No,"
"Ola, will you marry me?" Elang bertanya untuk kedua kalinya. 
"No, Elang. I will not marry you,"
Dan gagang telepon yang dipegang Elang lepas perlahan...

Berulang-ulang adegan ini terputar di pikiran Elang. Badannya demam, ia mengigau meracau, memanggil nama Ola. Wisnu melihat sahabatnya dengan sedih. Betapa cinta bisa menghancurkan laki-laki. 

Wisnu mendengar cerita dari Elang beberapa jam lalu. Ola menolak permintaan Elang untuk menikahinya. Wisnu diam tak berkutik mendengar cerita ini. 

"Gak mungkin, Nu,"
"Tapi terjadi,"
"Tapi itu bukan Ola,"
"Itu Ola,"
"Bukan, Nu!" nada suara Elang meninggi. 
"Itu bukan Ola!" Elang kembali berteriak.
"Ya, terserah kau sajalah," Wisnu menjawab seadanya. Percuma berbeda pendapat dengan sahabatnya yang keras kepala ini. 

Di mimpi Elang, Ola dan dirinya berlarian, namun kemudian Ola berlari menjauh, lebih cepat, semakin cepat, menjauh darinya. Dan ia hanya bisa memanggil, "Olaaaaaa, Olaaaaaaa,", dan suhu badannya semakin naik. 


Patah hati begitu menyakitkan....


A & E (83)

A & E (83)

Jika bahagia ada saat bersama, apakah tak bahagia kala berpisah?
Apakah bahagia kita ditentukan ada tidaknya orang lain?
Atau bahagia itu kita sendiri yang ciptakan? Putuskan?
Atau bahagia itu dipengaruhi orang lain, tapi sebenarnya ada di dalam kendali diri?
Apa itu bahagia?
Apakah ia sifat yang melekat pada seseorang, lalu orang tersebut membawanya untuk kita rasakan? Tapi tak ada orang yang selalu bahagia.
Lalu bisakah Elang merasakan bahagia lagi saat tak bersama Ola?

--
Jemari Elang mengetikkan kata demi kata yang tak sanggup ia sampaikan ke Ola. Enam bulan telah berlalu, dan belum juga ia mendapatkan pekerjaan tetap di Belanda. Artinya, verblijfvergunningnya akan bermasalah. Dia bisa jadi dideportasi jika sampai ID nya habis, dan dia masih belum mendapatkan pekerjaan. 

Malu ia pada Ola. Yang telah lebih dulu pulang ke Indonesia. Setelah pergulatan panjangnya dengan skripsi, laporan internship, dan business plan yang mesti diselesaikan; akhirnya Ola bisa pulang ke Indonesia. Setelah bercangkir-cangkir kopi Ola habiskan untuk berbincang berdua untuk memutuskan apakah ia mesti pulang dan menjadi anak berbakti; ataukah tetap di Belanda, dan mencari pekerjaan sementara, selama menunggu Elang, mencapai keinginannya. Sebuah pekerjaan tetap di Belanda. Itu saja. 


La, katakan padaku, bagaimana mengatasi rindu?
Apakah rindu sebuah bencana?
Apakah rindu sebuah karunia? 
Merindu yang tiada, kemanakah mesti berlabuh?
Sedangkan rindu bagai seonggok kayu yang terombang ambing di luasnya air laut.
Hanya ingin mencicipi daratan.
Meski sebentar.
Tapi rindu bukan itu saja. 

Jika kau ada, kau akan tanya "apa yang dirindukan?"
Lalu akan kujawab: "Kebersamaan."

Lalu kau akan bertanya lagi,
"Ada apa dengan kebersamaan?"

Dan akan kujawab: "Ada orang yang memahami, menyayangi, someone to lean on."

Lalu kau akan menyanyi Bill Withers - Lean On Me
"Lean On Me"
Sometimes in our lives
We all have pain, we all have sorrow.
But if we are wise,
We know that there's always tomorrow.

Lean on me when you're not strong
I'll be your friend, I'll help you carry on
For it won't be long
'Til I'm gonna need somebody to lean on.

Please swallow your pride
If I have things you need to borrow
For no one can fill those of your needs
That you won't let show.

You just call on me, brother, when you need a hand
We all need somebody to lean on.
I just might have a problem that you'll understand,
We all need somebody to lean on.

Lean on me when you're not strong
And I'll be your friend I'll help you carry on
For it won't be long
'Til I'm gonna need somebody to lean on

You just call on me, brother, when you need a hand
We all need somebody to lean on.
I just might have a problem that you'll understand,
We all need somebody to lean on.

If there is a load
You have to bear
That you can't carry
I'm right up the road
I'll share your load
If you just call me.

Call me if you need a friend
Call me, call me, uh-huh
Call me when you need a friend
Call me if you ever need a friend
Call me, call me
Call me, call me
Call me, call me
Call me, call me
Call me if you need a friend
Call me, call me
Call me, call me
Call me, call me
Call me, call me
Call me

Dan akan kubiarkan kau menyanyi hingga selesai. Dan akan kupandangi dalamnya mata coklatmu. Dan aku akan bertanya, "adakah rasa yang sama dengan itu?"
Kau akan menjawab "Yang sama, takkan pernah ada. "
"Lalu bagaimana?"
"Kau cari rasa yang mirip dengan itu."
"Baiklah, akan kukejar orang-orang yang membuatku merasa begitu. Hingga habis rinduku untuk yang tak dapat bertemu. Kau."
Dan kau akan berkata "Gombal!"

La, aku rindu kehadiranmu. Aku rindu obrolan kita. Aku rindu jawaban-jawaban spontanmu, yang tiba-tiba tak terduga. Atau responmu yang tiba-tiba menyanyi dengan lirik apapun yang terpikir, seperti main kuis Tebak Lagu. 



Elang.