Thursday, April 19, 2018

A & E (26)

A & E (26)

Kau tahu rasanya bagaimana mencintai orang seperti aku mencintai Ola? 
Kau pasti tak tahu rasanya. 
Kau juga pasti tak tahu mengapa aku tak ingin menikahinya cepat-cepat.
Kau juga pasti tak tahu mengapa aku biarkan dia memutuskanku.
Kau juga pasti tak tahu mengapa aku begitu membingungkan.
Karena kau bukan aku. 
Kau tak tahu rasanya menjadi posesif ke Ola. 
Kau tak tahu rasanya bagaimana aku ingin membahagiakan Ola dan menjaganya bagaikan putri yang tak perlu ia mengerjakan pekerjaan rumah apapun. 
Kau tak tahu bagaimana aku ingin mengajaknya keliling Eropa, tapi tak bisa kulakukan. 
Kau tak tahu bagaimana rasanya aku ingin menikahinya, tapi aku tahu aku masih tak berharta. 
Kau tak tahu bagaimana rasanya menyimpan pertanyaan mengapa dia memutuskanku, tapi tak kukatakan.
Dia memang mengatakan alasannya. Tapi intuisiku mengatakan ada yang disembunyikannya. 
Kau tak kenal Ola. 
Ola rumit. Jalan berpikirnya rumit. 
Sedangkan aku simpel. Mungkin sedikit pengecut. 
Mungkin aku memang tak layak untuk Ola. 
Dia terlalu baik untuk menjadi istriku. 
Tapi kau tak tahu rasanya memendam keinginanku untuk menikahinya. 
Hidupnya menempanya menjadi seperti dia. 
Dengan keinginannya, cara berpikirnya. 
Maka begitulah dia. 
Dan beginilah aku. 
Maka aku biarkan dia terbang tinggi. 
Jika aku beruntung, dia akan hinggap dan berteduh di ranting pohonku. 
Jika keberuntungan tak lagi memihakku, dia akan terus terbang, dan aku akan menatapnya dari bawah, tersenyum. 

Wednesday, April 18, 2018

A & E (25)

A & E (25)

"Apa yang kau suka dari Elang?" Maria menanyakan hal yang tak pernah sama sekali terlintas di pikiran Ola. Wangi adonan banana pancake memenuhi dapur bernuansa hitam putih milik Maria.

"Hmmm, good question. Aku tak pernah memikirkannya," Ola yang duduk di kursi meja makan segi empat warna coklat, menjawab santai sembari mengunyah kacang pedas yang dibelinya tadi siang.

"Ya, kau harus tahu triggernya. Sehingga kau bisa menghilangkan bayang-barangnya. Kau kan yang mengambil keputusan untuk break?"

"Iya, tapi apa perlu sampai aku memikirkannya? Aku kan sudah putus. Pe U Te U eS," katanya mengeja.

"Ya kan kalian sedang break. Sekedar berpikir entah untuk meneruskan atau memutuskan untuk berpisah. Ya kan?"

"Ya, kau benar,"

Aroma semerbak banana pancake makin menjadi-jadi. Maria mengangkat beberapa lembar pancake dan mengolesinya dengan Nutella, menyiapkan di piring putih bersih.

"Kukira aku menyukainya karena kami bisa berbincang-bincang tentang apapun. Literally apapun.  Mulai cuaca terkini hingga buku terbaru. Tak banyak orang yang bisa begitu,"

"Pria, maksudmu," ucap Maria.

"Iya. Kau tahu biasanya mereka tak ingin menjadi temanku. Mereka selalu punya modus. Elang tidak tampak seperti itu. Dia pintar. Dan harum. Haha," Ola memejamkan mata seolah ia bisa mencium aroma wangi parfum White Musk kesukaan Elang.

"Hahaha. Begitu ya?" Maria tertawa melihat tingkah sahabatnya. Ia tak melihat ketidaksukaan Ola pada Elang. Ola tampak jelas masih menyimpan rasa sayang ke Elang. Tapi mengapa Ola memutuskan hubungan mereka?

"Satu lagi, dia itu adiktif. Satu jam berbincang dengannya seolah hanya satu menit. Dan aku pecandunya," Ola membuka matanya perlahan lalu memejamkannya lagi seolah melihat Elang di pelupuk matanya.

"Kau sudah gila. Haha,"

"Haha. Mungkin"

"Lalu kenapa kau putuskan dia?" Maria melahap banana pancake yang berlumuran coklat.

"Hmmm, karena aku merasa aku tak lagi menjadi diriku sendiri. Dia menguasaiku. Dia mengendalikan pikiranku. Aku tak bisa hidup tanpanya. Dan itu sakit!" ujar Ola.

"Sakit atau menyakitkan?"

"Sakit. Aku seperti orang sakit. Sakaw bila tak ada dia. Sakaw bila jauh darinya. I am not the old me. And I hate it." Tatapan Ola menerawang jauh.

"Ooh....baiklah, ini minum dulu tehnya," Maria menyodorkan cangkir putih berisi teh tawar yang diseduh beberapa menit lalu. Dia terdiam. Sahabatnya di hadapannya ini sedang melawan dirinya sendiri.

Tuesday, April 17, 2018

A & E (24)

A & E (24)

"Kapan kau ingin menikah, La?" tanya Elang di kereta saat mereka duduk berdampingan pulang dari Amsterdam. Dari China town, membeli makanan kesukaan dari Indonesia. Salah satunya green tea ice cream, bakpao, dan beberapa bumbu masakan.

"Hmmm, mungkin secepatnya"

"Oh ya?" Elang terkejut. Tak menyangka mendapat jawaban itu dari perempuan di sampingnya.

"Iya. Kenapa? Kau tampak terkejut"

"Iya. Kukira kau akan bilang saat usia 30, atau 35, atau bahkan kau putuskan untuk tak menikah."

"Hmmm. Mungkin aku berubah."

"Dan itu karena?"

"Entahlah. Karena takdir? Haha. Entahlah. Ku rasa menikah akan menyenangkan"

"Dan ketakutanmu tentang pernikahan sudah hilang?"

"Masih ada. Aku masih takut jika menikah dengan orang yang salah"

"Kalau denganku?" tanya Elang.

"Denganmu? Kau melamarku?"

"Tidak. Belum. Hanya bertanya,"

"Tentu aku mau menikah denganmu. Tanpa ketakutan sedikitpun, Elangku sayang"

"Syukurlah"

"Itu saja pertanyaannya?"

"Iya. Cukup sekian sekarang, nona manis."

Ola menyandarkan kepalanya ke bahu Elang. Suara Tommy Page seolah terdengar.. everyone needs a shoulder to cry on, everyone needs a friend to rely on. When the whole world's gone, you'll always have my shoulder to cry on.....
A & E (23)

A & E (23)

"Yang membuat aku gelisah adalah kenyataan bahwa kau berpikir bahwa aku tak lagi membutuhkanmu, La," Elang berkata dari seberang benua.

"Bukankah memang seperti itu, Lang?"

"Tidak. Bukan seperti itu. Ada yang salah dengan anggapanmu," Elang mencoba menenangkan Ola.

"Oke, jelaskan di mana letak kesalahannya"

"Satu, aku sibuk karena load kerjaan ku sedang banyak. Kedua, aku tak sempat menulis panjang karena saat pulang aku sudah lelah dan langsung tidur."

"Itu karena aku bukanlah hal yang penting lagi bagimu, kan?"

"La, kau berlebihan"

"Kau dulu, pasti sempatkan bertemu aku di sela-sela sibukmu. Kau dulu, pasti sempatkan tuliskan untukku satu dua e-mail. Kau dulu, pasti sempatkan menghubungiku hanya untuk hal-hal yang tak penting. Karena bagimu dulu, menghabiskan waktu denganku adalah hal yang menyenangkan. Sekarang?"

Elang terdiam. Dia membisu. Skype menjadi saksi kebisuan mereka berdua. Senyap. Ola dengan pikirannya. Elang ingin berargumen, tapi kiranya argumen itu hanya memperkeruh suasana, apa gunanya.

"People changes, La"

"I know. So do you," suara Ola melemah.

"It's fine. Lebih mudah bagimu meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku jauh. Memang kita tak pandai menjalani LDR."

"La, maksudnya?"

"You hear me. Kita putus."

"Hanya karena ini?"

"Ini vital dalam hubungan. Komunikasi. Kita dekat karena komunikasi. Pun jauh karena komunikasi."

"But I still want to be with you," iba Elang.

"No, you don't. We better off jalan sendiri-sendiri. Jika takdir menemukan kita kembali, kita akan bersama lagi. Jika tidak, kau masih temanku, Lang"

"La, bukan seperti ini aku ingin hubungan kita berakhir"

"Kau kira aku ingin?"

"Kau tak bahagia denganku?"

"Bahagia"

"Lalu?"

"I want the old you"

Elang terdiam. Ola terlalu tahu apa yang diinginkannya. Mudah baginya untuk memutuskan sesuatu apakah akan sesuai dengan dirinya atau tidak.

"Baiklah. Let's take a break."

"OK. Dua bulan. Then we'll see what happens."

"OK," jawab Elang. Ia menghela nafas panjang. Ola, this is why everything is so complicated with you...


Wednesday, April 11, 2018

A & E (22)

A & E (22)

"Po, sebenarnya aku ingin bersamanya. Menikahinya. Tapi itu tanggung jawab yang besar. Kau tahu, aku mesti menafkahi dirinya. Sedangkan pekerjaanku belum tetap. Kau tahu kan?"

"Koen ngenteni opo?"

"Ya nunggu mapan"

"Umur piro? Koen kate njaluk Ola ngenteni?"

Popo, kawan bijak Elang. Asli Malang. Tampang urakan, tapi berhati setia kawan. Elang pernah menghabiskan masa sekolah di Surabaya, Jawa Timur. Perkenalannya dengan Popo saat bertemu di pesantren Ramadhan saat SMA. Setelah itu, mereka bersahabat karib. 

"Lanang iku enak. Gak perlu wedi kate rabi umur piro ae pasti onok wedok sing gelem. Lha nek arek wedok gak iso. Koen gak oleh egois, Lang." Nasehatnya sambil menyeruput kopi hitam pekat yang sudah hangat di cangkir putih. Asap rokok mengepul, sepertinya hanya dibakarnya, tanpa dihisap.

Elang hanya terdiam. Berpikir. Benarkah dia egois? Atau sebaiknya memang ia lepaskan Ola? Elang gundah.

"Koen jek suwe nang Indonesia?"

"Gak, Po. Minggu depan aku muleh Londo"

"Oh. Yo wes. Pikirno sek ae. Wes. Gak usah dipikir. Mangan ae."

Kabut dingin kota Malang tak mengecilkan pikiran tentang Ola yang berlarian di kepala Elang. Jagung bakar dan kopi hitam menemani kegundahan Elang. Sesekali Popo menghisap rokoknya, meniupkan asapnya ke udara malam.


Tuesday, April 10, 2018

A & E (21)

A & E (21)

Dear Ola,

Aku tak ingin miliki dirimu,
aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Aku tak ingin bertemu orang tuamu,
aku hanya ingin berjalan di sampingmu.
Aku tak ingin mengganggu hidupmu,
aku hanya ingin  mewarnainya.
Aku tak ingin mencuri hatimu,
aku hanya ingin beristirahat di dalamnya.
Aku tak ingin mendampingimu ke manapun kau pergi,
Aku hanya ingin bersamamu hingga kita menua.



Amsterdam - 2006

Monday, April 09, 2018

A & E (20)

A & E (20)

"La, apapun keputusanmu akan kuterima. Jika kita tak berjodoh di pelaminan, setidaknya kita pernah bersama membuat kenangan." Begitu isi pesan Elang yang dibaca Ola kala senja hari sambil ditemani secangkir kopi panas.

Elang tak salah apa-apa. Hubungan mereka seolah tampak baik-baik saja. Namun ada yang berubah di Oma. Sepertinya sejak Ola sering ke luar kota lebih sering. Katanya pengajian.

"Maaf ya Lang, aku tak bisa ketemu kau. Aku ada janji ke Delft."

"Maaf ya Lang, aku mesti ke Amsterdam."

"Maaf ya Lang, aku ada acara di Den Haag."

Begitu terus hampir tiap akhir pekan.

Elang merasa mungkin dia sudah diabaikan. Dia tak lagi diperlukan. Ola sudah mandiri, dewasa. Tak lagi butuh kawan berbagi. Ataukah ada hubungannya dengan pengajian itu?

"Pengajian apa itu, La? Bukan sekte, kan?" tanya Elang di telpon.

"Ya bukanlah. Pengajian biasa. Belajar ngaji dari huruf hijriyah. Cara bacanya. Ya gitu-gitu aja,"

"Kok sering banget?"

"Iya. Mungkin bulan depan akan mulai 2 minggu sekali."

"Ooooh," Elang hanya bisa bereaksi seperti itu.

"Hm, ya sudah kalau gitu. Kau jaga diri baik-baik ya. Jangan ada yang boleh mendekatimu,"

"Selain kau, maksudnya?"

"Hahaha. Iya. Tak ada yang boleh selainku,"

"Takkan ada yang berani, Lang. Aku judes gini," Ola menjawab santai.

"Judes dan cantik. Jadi makin menarik,"

"Emang delman pakai tarik menarik? Udah ya. Aku mau masak dulu. Giliran piket  di rumah. Dagh"

"Iya. Dagh Ola"

--
Obrolan telpon itu sudah 30 hari yang lalu. Hingga akhirnya mereka berdua sama-sama sibuk dengan agenda masing-masing. Pesan yang tadi ditulis Elang, adalah sebagai jawaban e-mail singkat Ola pagi tadi.

Dear Elang,

Assalamualaikum.
Kau tahu hidup kita bukanlah milik kita sepenuhnya. Kita hanya bisa berencana dan melakukan yang terbaik. Sedangkan hasilnya kita takkan pernah tahu secara pasti.

Aku belajar banyak akhir-akhir ini. Dan aku sampai pada kesimpulan bahwa hubungan ini kita sudahi saja. Tampak terlalu banyak mudhorotnya daripada manfaatnya.

Tapi aku kembalikan lagi padamu. Karena ini hubungan kita berdua. Bagaimana menurutmu? 



Ola.

Sunday, April 08, 2018

A & E (19)

A & E (19)

"Kalau jadi istri, tolong jangan berharap aku akan memasak untukmu tiap hari. Jangan berharap juga aku akan bersedia diam di rumah tak berkegiatan.  Jangan harap aku berhenti bekerja.  Jangan harap aku akan berubah demi kau," ucap Ola sambil meneguk air mineral di botol minum kuning yang selalu menemaninya ke mana-mana.

"Kenapa?" Elang heran.

"Ya karena aku ya aku. Aku tak ingin kau bandingkan dengan wanita yang lain. Yang selalu di rumah menunggu suaminya pulang."

"Wanita lain siapa?"

"Yang seperti Dea"

"Hah? Dea? Sama sekali tak terpikir olehku membandingkan dirimu dengan Dea atau siapapun, La"

"Terus nanti kalau aku tak sempat masak buatmu, bagaimana?"

"Ya kita tinggal beli makan," jawab Elang ringan.

"Kalau aku pulang lebih larut?"

"Hm, mungkin bisa lebih dikondisikan agar tak tiap hati, kan?"

"Kalau aku ternyata tak bisa punya anak?"

"Ya kita ikhtiar dan sabar"

"Kalau aku tak mau berhenti kerja?"

"Carilah pekerjaan yang kau senangi"

"Kalau aku jadi gendut dan jelek?"

"Akupun bisa gendut dan jelek, La. Kau ini kenapa? Tiba-tiba ada kuis begini"

"Aku ingin tahu jawabanmu"

"Karena?"

"Aku tak yakin ada orang yang sanggup dan mau hidup denganku selamanya," pandangan mata Ola menerawang jauh. Seolah ia ingin menceritakan banyak hal lagi, tapi tak mampu.

"Kau ragu?" Elang bertanya perlahan.

"Marriage is once in a life time. I need to make sure I spend it with the right man"

"And there is a chance that this man is not the one in front of you?"

"Indeed. Aku tak mau terbutakan perasaan. I need to think straight."

"Take your time," Elang menghela nafas panjang.

"I am taking my time," Ola memandang Elang lekat-lekat. Seakan ingin tahu isi hatinya terdalam.

Friday, April 06, 2018

A & E (18)

A & E (18)

"The greatest journey in our life is to find who we truly are," ucap Ola suatu sore.
"Kau sedang cari jati diri?"
"Iya. Bagus ya namanya, jati diri. Sejatinya diri. Pencarian tak henti dari tiap orang. Menemukan dari mana dia datang, untuk apa dia diciptakan"
"Filosofis"
"Aren't we all?"
"Iya. Kau terutama"
"Aku baru baca buku. Man's Search For Meaning. Victor E. Frankl. Aku pernah baca namanya di suatu hal, lalu ketika aku lihat nama itu di toko buku, segera kubeli tanpa pikir panjang. Untung bukunya tak terlalu tebal."
"Memangnya bagus tidaknya buku ditentukan oleh jumlah halaman?"
"Aku tak bilang begitu"
"Secara implisit itu yang kau katakan"
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kapasitas otakku belum mampu kalau mesti baca buku serius tebal-tebal. Sama sekali tak ada perasaan niatan untuk underestimate jumlah halaman."
"OK," Elang menjawab santai
"Iya, OK aku dulu memang pernah berpikir seperti itu. Tapi tak lagi. The Alchemist buktinya. Buku tak terlalu tebal, tapi terus saja diminati. Mungkin aku ingin menjadi seorang novelis."
"Apa yang akan kau tulis?"
"Banyak hal. Aku bisa menceritakan apa yang tidak mungkin aku ungkapkan melalui tulisan biasa. Bukankah manusia belajar dari cerita, dari kisah? Makanya beberapa pelajaran di Al-Qur'an disampaikan melalui kisah"
"Oh wow, kau mulai baca Qur'an?"
"Iya, terjemahnya"
"Alhamdulillah"
"Iya, aku juga bersyukur"
"Bahasanya indah, ya?"
"Iya"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Sebentar lagi kau akan berjilbab tentunya"
"Masih belum tahu. Mungkin. Doakan"
"Tentu aku doakan"
"Tapi nanti kita mesti putus"
"Karena?"
"Karena pacaran itu haram"
"Hahaha. Tentu saja. Langsung aku nikahi saja ketika kau memutuskanku"
"Yeah, you wish"
"Yes, I do wish"

Mereka tertawa, bahagia.

Monday, February 12, 2018

A & E (17)

A & E (17)

Hai, apa kabarmu? 
Semoga kau di sana baik-baik saja. 
Kau tahu, semakin lama ini semakin membosankan. 
Kau tidak jelas kabar beritanya. 
Aku rasa. Kita lebih baik berpisah saja. 
Kau dengan hidupmu. 
Aku dengan hidupku. 
Tidak ada lagi “kita”. 
Kurasa ini lebih baik, daripada aku terus menerus berharap kedatangan e-mailmu, telponmu. 
Aku memutuskan untuk menyudahi saja. 
Entah kapan kau akan baca ini. 
Aku akan belajar untuk tak peduli. 
Aku akan belajar berhenti memikirkanmu. 
Aku akan belajar berhenti mengangankanmu di belahan dunia yang berbeda. 
Aku akan belajar berhenti menangisi kita. 
Terima kasih. 
Tak perlu kau balas e-mail ini. Seperti yang lain-lainnya. 
Aku mengirimkannya agar kau paham. Silakan kau dengan yang lainnya. Dan aku dengan selainmu. 




Yang pernah sangat menantimu, 


Aurora.