Sunday, May 27, 2018

A & E (68)

A & E (68)

Sakit akan sembuh
Luka akan mengering
Benjolan akan kempes
Memar akan menghilang
Seiring waktu
Jika aku melepaskan, mengizinkannya melewati diri, dan merelakan

Aku ingin mendapat kedamaian hati
Ketenangan jiwa
Bukan hanya rasa menggebu di dada, berkecamuk dan kadang teraduk luka
Bukan hanya rindu yang menyiksa, bergelora dan memintal duka
Bukan hanya jumpa yang kuinginkan tiap kali pagi menyapa
Aku tersiksa

Jika kau memang untuknya
Maka tak berhak aku menginginkanmu
Kan kuterima takdir ini
Kupasrahkan pada Gusti
Biarlah kini pedih tersayat hati ini
Biarlah sakit tercerabut rasa ini
Biarlah kuhapus segala kenangan tentang diri
Agar nanti saat rembulan bersinar
Tak lagi aku pikirkan dirimu dan dirinya yang bermanja
Agar nanti saat matahari terbit
Tak lagi aku bayangkan dirimu dan dirinya tertawa
Semoga...

Saturday, May 26, 2018

A & E (67)

A & E (67)

Suara Adele terdengar lirih, mendayu dan seolah menceritakan seluruh hati Ola di saat ini. Ini pertemuannya kelima dengan Elang.

Ia memilih tempat duduk yang sama. Rupa-rupanya kafe ini memiliki konsep baru, aroma vanilla semerbak memasuki rongga hidung Ola.

Mungkin mereka memakai aromaterapi sekarang, pikirnya. Makin membuat pertemuan ini semakin berjangkar di ingatan.

Ola memperhatikan sekeliling dan mencari pelayan yang berseragam hitam. Ia lambaikan tangannya, tanda siap memesan.

"Salmon steak satu," katanya tanpa menunggu ditanya mau pesan apa.

"Minumnya, kak?" tanya pelayan ramah

"Hot lemon tea,"

Pelayan tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

"Oh ya, dessertnya saya mau brownies ice cream vanilla ya,"

"Iya boleh,"

"Terima kasih"

Pelayan di sini tak mencatat pesanan pelanggannya. Mereka mengingatnya. Inilah kenapa Ola suka di tempat ini. Melihat pelayannya menyajikan pesanan sesuai dengan pemesannya tanpa pernah menuliskan pesanannya adalah salah satu kekuatan memory palace, seperti yang dilakukan Sherlock Holmes.

Sayup-sayup terdengar Adele mengakhiri lagunya...

You look like a movie, you sound a song, when we were young.....

Menyebalkan. Bahkan semesta berkonspirasi dengan Elang, pikirnya.


A & E (66)

A & E (66)

"The right thing sometimes is the hardest thing to do. You don't fight anyone else but yourself," kata Ola ke Maria.

"Iya, makanya surga itu mahal," jawabnya pendek.

"Di satu sisi, kau paham bagaimana aku sangat ingin selalu bersamanya. Menghabiskan waktu dengannya. Seperti kembali ke masa-masa di mana kami masih bersama," suara Ola berat.

"Tapi di sisi lain, aku tak ingin menghancurkan hidupnya. Keluarganya. I am not a home wrecker," lanjutnya.

"Jadi maumu?"

"I'll leave him. Walau itu sama saja membunuh separuh diriku. Dia akan survive seperti dulu. Akupun juga akan survive."

"Kau yakin?"

"The hardest day of my life is when I let go something I really want. I want to be good. Dan jika ini harganya mahal, I'll pay for it,"

"Yeah, you did it before. You do it now. Kau hanya perlu mengulang cara yang dulu telah berhasil kau lakukan. Walau jelas keadaannya beda. You hated him then," kata Maria.

Ayam goreng mentega masakan Maria sudah mengeluarkan aroma sedap. Segera ia matikan kompor. Tangannya cekatan menyiapkan garnish daun selada dan tomat yang dipotong berbentuk bunga. Piring saji oval diambilnya dan berpindahlah ayam goreng mentega itu ke sana.

Ola membantu menyiapkan meja, dan menuangkan air mineral dari dispenser ke gelas cantik bergambar bunga mawar.

"All set, Mar,"

"Selamat makan,"

"Smakelijk eten," jawab Ola.

"Kau yakin, La,"

"My heart says no. My head says I should do this."

"And which one do you follow?"

"Logikaku. Walau rasanya seperti akar tanaman yang sudah kuat dan tercabut paksa. Sakit,"

"Do you really love him this much?" Maria mengambil dua potong sayap ayam.

"I don't know. Kau tahu dia pernah bilang, aku berharap ada kehidupan kedua, dan saat itu akan kucari kau, aku takkan menyerah pada jawaban tidakmu, dan takkan aku melewatkanmu. Itu katanya,"

Maria menarik nafas panjang dan dalam. Tampak kesedihan begitu nyata terlihat di raut muka Ola.

"Aku mesti putus hubungan dengannya," kata Ola dengan mata berkaca-kaca.

"Untuk kebaikan bersama," lanjutnya.

Cinta tak bisa memilih. Cinta hadir begitu saja. Tanpa permisi. Entah apa yang membuat Elang istimewa di mata dan hati Ola. Ola hanya berharap ketenangan, untuknya, untuk Elang dan keluarganya.

Akan kutitipkan rinduku pada air yang menguap ke angkasa, agar ia menurunkannya padamu di saat hujan tiba. Dan saat kau mengingatku, panjatkan doa untukku, untuk kita. Agar dapat melewati ini semua dengan bahagia. I love you, Lang...

Friday, May 25, 2018

A & E (65)

A & E (65)

"What is a happy ending, Mar?" tanya Ola yang duduk menikmati teh manis panas dan kacang oleh-oleh Maria dari Bali.

"Maksudmu?" Maria memotong bawang bombai yang rencananya ia jadikan salah satu bumbu di ayam goreng menteganya.

"Ya, apa arti happy ending bagiku dan Elang?"

"Ya, akhir yang bahagia, toh?"

"Ya, jadi aku bukan happy ending karena ku tak bersamanya?" Ola memutar-mutar sendok di cangkir warna abu-abu.

Maria memindahkan satu per satu potongan ayam yang sudah direbusnya dengan bawang putih ke penggorengan.

"Jesss"....suara minyak panas beradu dengan ayam yang sudah direbus.

"Ya, mungkin. Tergantung bagaimana kau melihatnya. Bukankah katamu takdir tak pernah salah?" tanya Maria sambil tak memindahkan perhatiannya dari bakal masakannya.

"Iya. Aku mulai menyadari penyesalanku,"

"Ini karena kau bertemu lagi dengannya, kan? Sebelumnya kau baik-baik saja,"

"Iya. Pertemuan dengannya seolah membangunkan kenangan-kenangan yang sudah lama tertidur, yang kuanggap mati, ternyata hanya idle," diseruputnya teh manis yang sudah tak lagi mengepulkan asap.

"Jadi?"

"Ya aku teringat dan ingin menyelesaikan semuanya. Tapi justru saat inilah aku menyadari bahwa the reason kenapa aku belum bersama yang lain adalah karena bayangannya terlalu kuat. Bagiku yang cocok denganku ya dia, setidaknya orang seperti dia. Yang memahamiku ya dia. Kesadaran yang baru kutemukan setelah reuni ini," Ola menarik nafas panjang dan dalam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, mungkin karena emosi yang meluap ingin segera ditumpahkan.

Ayam-ayam yang sudah digoreng tadi ditiriskan Maria sebentar, lalu dimasukkan ke penggorengan kedua, tempat saus sudah tercampur rata. Berisi kecap inggris, saos tomat, kecap manis, gula, garam, merica. Aromanya semerbak memenuhi dapur bernuansa hitam putih merah.

"OK, I am listening," katanya.

"Jadi aku tak happy ending? He's taken. Dan ini membuatku feel bad about myself. If the good ones are taken, apa artinya I am a bad ones?"

"Hush! Mana boleh berpikiran seperti itu!" Maria mengingatkan sambil memasukkan irisan bawang bombay ke dalam saus.

"Memang apa pentingnya happy ending dengannya? Bukankah kau dulu yang menolaknya? Kau yang pernah sakit hati karenanya? Lalu sekarang karena dia sudah menikah, kau merasa inferior?"

"Look, dia menikah, tak bahagia, lalu dia mencariku. Do you think this is a sign? That I should be with him, once again? For good?"

"Wait," Maria mengecilkan api di kompornya.

"Are you losing your mind? You expect him to leave his family and start a new one with you? What would his wife feel?" Maria mulai jengah, intonasinya meninggi.

"Iya. Am I crazy?"

Maria mengaduk saus dan ayamnya lalu menambahkan dua sendok makan mentega. Exactly like the recipe taught her.

"Iya, sepertinya," jawab Maria datar. Berbincang dengan Ola di saat Ola sedang lemah begini benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi. Tugasnya hanya satu, mengembalikan Ola ke pikiran logisnya untuk melihat segalanya lebih jernih dan objektif.

"La, kita belum tahu akhir cerita hidup kita karena kita masih hidup. Happy ending itu ya khusnul khotimah. When you're smiling when death comes," Maria mulai filosofis.

Ola terdiam. Dikunyahnya kacang perlahan-lahan. Dinikmatinya pemandangan dapur Maria. Muncul bayangan Elang yang beberapa minggu lalu ditemuinya dan bertanya padanya

"Aku punya ide gila, bagaimana jika kita bertemu dengan Atika dan kita sampaikan ke dia bahwa kita akan menikah?"

"Elang, elang, kau memang gila."

"I am. Crazy about you. After all these years, damn it, you're irreplaceable,"








A & E (64)

A & E (64)

"Lang, mau tanya boleh?" nada suara Ola merajuk manja.

"Iya, boleh. Mau tanya apa?" dengan suara khasnya ia memandang Ola yang baginya seperti mata anak kucing yang kelaparan dan merajuk minta makan.

"Am I important to you?"

Elang terdiam, menarik nafas dalam, dan menghembuskanny perlahan. Pertanyaan apa pula Ola ini, pikirnya. Makhluk di depannya ini kadangkala mengajukan pertanyaan yang baginya ridiculous, tapi mesti dijawab. Karena kalau tidak, dia akan merajuk lebih lama.

"Iya, kau penting buatku, La" suaranya menenangkan.

"Beneran? Serius? Bukan karena itu yang ingin kudengar?" Ola bertanya ingin kepastian.

"Serius. Aku ingin meluangkan waktu lebih banyak denganmu. Entah sekadar ngobrol atau ngopi. I wish," jawab Elang dari seberang layar Skype.

"Rindu itu energi. Tak bisa hilang, hanya bisa berubah bentuk. Yang bisa aku lakukan adalah mengubahnya dengan menjadi orang yang seproduktif mungkin," lanjutnya lembut.

"Tapi jika kau banyak ngobrol denganku, kau jadi tak produktif," pungkas Ola.

Elang tak menjawab.

"Tapi kan obrolan kita ini bukan penting bukan genting. Is it waste of time?" Ola ragu.

"Ola, tema obrolan kita mungkin tak terlalu penting," Elang terjeda.

"Kau-nya yang penting," lanjutnya.

"Gombaaaaaal," Ola tertawa bahagia.

"Iya, sudah defaultku,"

"Ke yang lain juga?"

"Iya, kadang-kadang,"

"Tuh kaaaan," Ola manja

"Iya, ke yang lain kadang, ke Ola kan se-la-lu,"

"Gombaaaal," jawab Ola sambil tertawa.

"Hahaha." Elang tertawa santai.

Obrolan-obrolan jarak jauh memang kadang-kadang menyita waktuku, La. Apalagi dengan timezone berbeda. Tapi aku butuh kau. Kau penting, istimewa bagiku...

Elang mengingat momen-momen long distance relationshipnya yang tak bertahan lama dengan Ola. Apa salahku? pikir Elang.

Kenapa hidup dengan Ola kadang mudah, simpel; tapi kadang begitu rumit dan susah. Mungkin begini tabiatnya wanita, mood naik turun; pikirnya.



Wednesday, May 23, 2018

A & E (63)

A & E (63)

"Elang sakit, La," jawab Wisnu ketika ia mengangkat telpon Elang.

"Dia tak bisa bicara denganku?"

"Dia demam, menggigil. Kau mau kemari?"

"Mungkin nanti setelah kerjaanku selesai. Kau bisa jaga dia sampai jam berapa?"

"Aku bisa sampai jam lima sore. Aku kerja jam 6,"

"Baiklah. Cukup kayaknya aku ke sana setelah ini," Ola melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Masih jam 3 sore, masih bisa kekejar kereta 16.01. Kerjanya selesai beberapa menit lagi, lalu naik sepedanya.

"OK. Kau jaga dia dulu ya, many thanks, Nu,"

"You're welcome, Ola," Wisnu menutup telponnya.

Wisnu tinggal satu gedung, hanya beda lantai dengan Elang. Apartemen di bilangan Amstelveen ini memang banyak dihuni mahasiswa yang kuliah di Amsterdam.

Bertemu dengan Elang bagaikan jendela-jendela yang diciptakannya di antara benteng-benteng jadwal mereka. Sebagai mahasiswa yang dituntut selesai tepat waktu, tugas-tugas banyak menyita waktu dan perhatian. Apalagi dengan tambahan kerja part time yang dipakainya menyambung hidup dari bulan ke bulan, maka waktu bertemu dengan Elang amatlah berharga.

No one is too busy, they just don't want to make time.

Masalahnya bukan terletak pada sempat atau tidak. Masalahnya ada di maukah menyempatkan atau tidak. Bertemu dengan Elang jelas bukanlah genting dan penting. Ia hanya penting, maka ia perlu dijadwalkan. Namun untuk saat-saat seperti ini, pertemuan dengan Elang masuk ke ranah penting sekaligus genting.

Ola tak sampai hati membiarkan Elang sendirian. Minimal ia sempatkan ke sana untuk menyiapkan beberapa hal, membantu membereskan laundry, atau sekedar menemani Elang dan memandang wajah lunglainya yang terlelap.

Segera setelah pekerjaannya selesai, dikayuhnya sepeda putih khas onthel zaman Belanda-nya menuju stasiun Haarlem. Ia beli karcis dan segera duduk di bangku manapun yang kosong di sneltrein jurusan Amsterdam.

"Alhamdulillah masih terkejar," ujarnya dalam hati.

Ola berencana mampir sebentar ke toko Asia untuk membeli ice cream matcha kesukaannya dan Elang, tapi diurungkan niatnya karena ia ingat Wisnu akan segera berangkat kerja.

"Wisnu, halo" Ola menelepon Wisnu.

"Ya, La?" jawab suara di seberang.

"Elang bangun? Tolong tanyakan ia mau aku bawakan apa,"

"Bangun, La. Katanya cukup bawa senyummu aja itu sudah cukup," balasnya.

"Oh okay." Ola menutup telpon dan menyunggingkan senyum. Elang selalu tahu cara merayu, bahkan dalam sakitnya sekalipun. Kereta berjalan, mendekatkan jarak antara dua insan yang saling merindu.

Monday, May 21, 2018

A & E (62)

A & E (62)

Namaku Arya, tepatnya Muhammad Arya Subagya. Ya, namaku campuran dari berbagai bahasa. Aku kawan Ola dan Elang. Akupun tahu Wisnu diam-diam menyukai Ola, walaupun itu tak mungkin baginya. Karena ia mesti menikah dengan sesama suku, begitu pesan mendiang ayahnya. Sehingga tak mungkin baginya menikung Elang dan mendapatkan Ola, walaupun kesempatan itu ada. 


Aku memilih tak terlampau dekat dengan mereka berdua. Ya, jelas aku tak mau disamakan jadi teman untuk mereka. Tempat curhat masalah percintaan yang sebenarnya akupun sama sekali tak ingin tahu. Jadi aku lebih diam. Tak seperti Wisnu yang memang menjadi pelabuhan mereka. Haha. Aku bukannya kejam, tapi aku ini masih manusia. Aku tak bisa berpura-pura tak menginginkan apa yang dipunyai Elang, ya kan? Daripada aku tersiksa, mending aku belajar dan menyelesaikan kuliahku dengan baik. Aku berencana meneruskan S2 di Universiteit Vrije Amsterdam, tapi tak mungkin. Ayah ibuku ingin aku pulang dan meneruskan saja di Indonesia. Aku masih belum tahu, mungkin nanti akan kuputuskan. 

Ya sebagai anak yang berbakti, tak mungkin aku tak pulang demi ambisi. Kan, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tak mengapa, aku rasa dengan restunya, aku bisa mencapai dan mendapatkan apa yang memang menjadi takdirku nantinya. Termasuk Ola. Jika tidak, ya yang lebih baik darinya. Wanita tak hanya dia. 

Hobiku fotografi. Aku tak terlalu pandai merangkai kata. Kurasa, alam sudah indah berkata-kata, maka aku belajar untuk menangkap kecantikannya. Aku suka traveling, dan memotret objek di sana. Bukan, bukan untuk selfie dan membuktikan pada dunia bahwa aku telah sampai sana; justru sebaliknya. Aku ingin dunia tahu bahwa ada dunia lain di luar apa yang biasa dilihatnya. 

Tiada yang lebih indah dibanding keberhasilanku menangkap keindahan alam dan mengabadikannya dalam sebuah potret. Dengan berbekal kamera seadanya, ya, aku sempat mempunyai ber-rol-rol pita film yang belum sempat ku developed. Berada di kamar gelap adalah tempatku berkreasi, tanpa batas. Mencium aroma cairan pencetak foto, menggoyang-goyangkan kertas untuk mendeveloped negative, benar-benar sebuah sanctuary. Tempatku bermeditasi. 

Aku tak pandai dengan manusia. Kurasa manusia mempunyai begitu banyak misteri di dalamnya. Alam, lebih mudah diterka. Ia jujur apa adanya. Maka untuk melupakan keinginan memiliki Ola, aku menghabiskan waktu dengan memotret. Entah itu daun oranye yang jatuh ke tanah, tetes embun, atau mata indah kucing milik Sari yang kujadikan objek foto. 

Sari? Dia kawanku. Dia lucu dan baik hati. Polos sekali dia. Aku suka padanya? Ah, tidak. Sari hanya a good friend. Dulu pernah aku baca kalau wanita dan pria tak mungkin berkawan, tapi aku dan Sari bisa. Alasannya? Kami beda agama. Hahaha. Simpel, kan? 

Sebenarnya, Ola tak pernah melirikku. Pandangannya hanya tertuju pada Elang. Aku tak keberatan, karena aku juga lebih sibuk memperhatikan perubahan bunga dan daun, dibandingkan perubahan moodnya. 

Tinggiku 178cm. Lumayan tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Tapi di mata Ola, Elang yang tingginya hanya 170cm itu sudah cukup menarik rupanya. Jadi, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk menggambar. Oh ya, aku belum cerita ya? Aku suka menggambar. Dari kecil aku tak terlalu suka menulis, oh aku sudah sampaikan itu, kan? Kata orang, aku orang visual. Aku tak bisa bermain gitar seperti Elang. Katanya memang wanita lebih suka pria yang romantis, artis, makanya Elang begitu memikat. Ya, dengan suaranya yang lumayan, Elang membuat puisi atau menuliskan lagu, lalu menyanyikannya di depan Ola. Siapa yang tak suka? Kurasa Ningsih juga diam-diam menaruh hati untuk Elang. Hanya saja, ia tak berani atau tak mungkin mengutarakannya. 

Jadi ya, begitulah aku. Kau bisa memanggilku Bagya. Atau Arya. Sesukamulah. Namaku yang ada "Muhammad"nya ini beberapa kali kena cekal pihak imigrasi, dikira teroris lah, dikira ekstrimis lah. Mereka belum tahu kalau Muhammad artinya adalah "Yang Terpuji". Mahmed, Ahmad, sama. Turunan dari kata Muhammad. 

Maka, aku ingin katakan padamu, aku tak peduli apakah sekarang Ola dan Elang, ataukah Ola dan Wisnu, atau Wisnu dan Ningsih atau bagaimana sajalah. Karena aku percaya, Tuhan yang menciptakan alam dengan sempurna ini, pasti membuat skenario terbaik untuk diriku. Yang terindah, kadang misterius. Aku hanya perlu mencari sudut yang tepat untuk membidiknya. 

Sunday, May 20, 2018

A & E (61)

A & E (61)

Elang, day 1: 
Misplaced “if”

Kata “kalau” jika tak ditempatkan semestinya, maka ia bisa menjadi pembuka pintu bagi masuknya syetan dalam pikiran. Seolah mengutuk apa yang ditakdirkan Allah, menyalahkan qodarullah, dan tentunya tidak ridho akan keputusanNya.

Waktu tak bisa diputar kembali. Yang terjadi adalah yang terbaik. Justru di sinilah manusia diuji akan keimanannya. Apakah ia mensyukuri segala nikmat dan menyabari segala kesedihan? Ataukah merundung nasib dan menyalahkan sial yang menghampiri? 

Tiadanya iman bagaikan tiadanya nyawa. Tiada nyawa adalah hampa, tanpa makna. Maka jangan tanya kenapa Tuhan mentakdirkan ini dan itu, karena inilah yang terbaik yang beberapanya tak bisa lagi kupilih. 

Adapun hal-hal yang dalam kendaliku, itulah yang bisa kuubah. Yang bisa kuubah adalah cara pandangku terhadap pertemuanku kembali. Mengapa aku mencarinya lagi? Apakah aku tidak bahagia dengan keadaanku? Menyelesaikan unfisinished business? Unfinished business apa? Ingin bersamanya? Mengapa baru sekarang aku punya nyali untuk menemuinya? Aku takut ditolak? Aku trauma ditolaknya? Aku merasa tak berarti? Ada apa? Hanya aku yang tahu apa yang terjadi di diriku, maka hanya aku yang bisa menemukan jawabannya.
Kurasa semua berawal dari kata “kalau” yang salah kuletakkan. Aku mengandaikan dia bersamaku, tapi mengapa aku memilih menikahi Atika? Hanya untuk mencari teman agar aku tak kesepian? Bukankah nanti tiap manusia akan sendirian?

Pertanyaannya ada dua, mengapa aku menikahi Atika dan aku tak mencari Ola? 

Ola, apa yang sedang dilakukannya sekarang? Semoga dia mendapatkan Ramadhan terindah.

— 

Elang menuliskan kalimat-kalimat itu di diary virtualnya. Sebuah blog yang tidak ada yang tahu karena dia setting privat. Ramadhan hari pertama, dan dia merasa sudah perlu mencari dua jawaban. Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan terpanjang baginya. Ia hanya tak tahu, Olapun merasakannya…

Saturday, May 19, 2018

A & E (60)

A & E (60)

"Eh, lanjutkan lagi tentang distractor tadi, lang. Aku kurang paham arah pembicaraanmu," lanjut Wisnu.

"Ya, bahwa dia, Ola (sambil menekan nada bicaranya), mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk mendistraksi aku dari hal yang mestinya aku kerjakan."

"Bukannya kalian memang selalu, ehm, hampir selalu Skype-an? Ya jelas terdistraksilah kau."

"Iya. Dan kau mesti tahu kenapa." Elang membela diri.

"Kenapa?"

"Dia semangat pagiku. Kami punya ritual kecil untuk menyapa lebih dulu dialah pemenangnya. Dan aku terbiasa dibuatnya bangun dengan harapan aku mengucap selamat pagi padanya. Dan tiap malam, aku ingin yang terakhir mendengarkan suaranya."

"Kalian seperti terobsesi satu sama lain,"

"Benarkah? Aku tak pernah berpikir demikian. Kurasa kami hanya saling menginginkan."

"Tipis bedanya antara obsesi dan keinginan,"

"Dan kau sekarang menjadi psikolog tentunya," ujar Elang setengah mengejek sahabatnya.

"Ya untuk mendeteksi keanehan kalian tak perlu seorang belajar psikologi. Jelas tampak di depan mata bagai gajah dan semut di pelupuk mata,"

"Hmmm, begitu ya rupanya,"

"Ya. Jadi, kau sekarang menganggap Ola sebagai pengganggu?"

"Aku tak pernah berkata demikian,"

"Distraksi sama dengan gangguan, kan?"

"Ya. Maka saat-saat aku butuh konsentrasi, butuh keheningan, sulit sekali aku menolak rajukan manja Ola yang tetap ingin Skype-an,"

"Hm, lalu kau shut her down?"

"Ya kadang aku perlu melakukannya,"

"Dan kau pernah berpikir apa efeknya untuk dia?"

"Sering,"

"Lalu?"

"Man's gotta do what man's gotta do," jawab Elang kalem.

"Even when it means you shut her out from your life,"

"When you need to go, you go. Sesederhana ini,"

"Yah, terserah kau saja,"

"Ada apa memangnya? Ola cerita apa?"

"Cerita cukup untuk mengambil kesimpulan bahwa kau sedang ada di emosi labil tapi kau akan segera make the most of it somehow,"

"How?"

"She trusts you, you know. Dia membiarkanmu mengabaikannya. Mengeluarkanmu dalam hidupnya adalah seperti membunuh separuh dirinya, itu yang dia katakan padaku. Dia sangat bergantung padamu, dan saat kau putuskan tali itu, dia ... ah, untung dia tak sepertimu yang bisa loncat dari jendela,"

"No, she won't. She is a strong girl."

"Ya, dia akan memberimu waktu, persis seperti kau memberinya waktu,"

"Ya. Itu yang kubutuhkan,"

"Good. Jadi kau masih kangen dia?"

"Every second of my life, I am missing her,"

Kereta melaju dengan kecepatan stabil. Mengantarkan dua anak muda ini ke kota yang terkenal dengan kerajinan Delft Blauw-nya. Di Delft mereka akan bertemu seseorang yang akan mengubah cara pandang mereka tentang pemuda dan politik beberapa tahun lagi. 
A & E (59)

A & E (59)

Aku tahu bahwa buku adalah kawan terbaik. Dia tak pernah menasihati dengan kasar, dia lemah lembut dan membuat diri bercermin dalam keadaan ikhlas dan pasrah. Ia menasihati tanpa menampar, tanpa membentak. Ia memberikan jendela kebijaksanaan dalam untaian kata-kata yang telah dihasilkan dari sari pati pemikiran. Ia bagai inti dari segala inti yang dengannya semua bisa terhubung padanya.

Maka kata, tajamnya lebih tajam dari pedang. Yang lukanya bisa terus menganga jika tak diizinkan untuk disembuhkan. Kata, akan memberikan memori-memori indah, atau kesedihan. Maka kata mesti dimaknai. Seperti masakan yang perlu diberi bumbu yang berbeda untuk menghasilkan cita rasa berbeda. Kata, bagai bahan mentah yang dengannya ia bisa menjadi apa saja.

Seperti wortel dan buncis, ketika dikukus, dia bisa jadi kawan bagi steak apapun yang disediakan di atas loyang panas berbentuk sapi, berharga ratusan ribu rupiah. Namun wortel dan buncispun bisa menjadi kawan di rumah sederhana ketika ia ditumis dengan berkawan bawang merah dan bawang putih, sedikit garam, merica, dan gula.

Wortel dan buncis tak pernah mengeluh dengan apa mereka dimaknai, bagaimana mereka diolah, dengan siapa mereka disajikan. Persis seperti kata. Ia hanyalah kata. Ia menyerah pasrah pada pelontarnya. Ia membungkam seribu bahasa pada penerimanya. Ia membiarkan penerimanya mengartikan sendiri, dengan pemahamannya sendiri, untuk dicerna sendiri.

Maka manusia sejatinya adalah peramu rasa, pemberi makna, dan pengolah kata.

Membaca tulisan Romo Mangun, menyadarkanku bahwa aku tak sendiri dalam pertempuran ini. Pertempuran melawan diri sendiri ini juga dialami oleh Atik dan Teto. Akulah Atik. Dan Elanglah Teto. Hanya saja, di cerita itu, Atik sudah berkeluarga, sedangkan Teto masih menduda saja. Terbalik denganku. Elang sudah memutuskan berkeluarga dengan Atika, dan aku masih sendiri. Aneh bagaimana buku itu mendekat padaku saat aku ingin mencari jalan keluar akan masalah yang sedang kuhadapi.

Sebentar lagi Ramadhan, mungkin aku perlu berkaca pada Teto, bagaimana ia menahan dirinya, walau ia tahu perasaan Atik dan perasaannya masih sama, seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hidup telah menjalankan perannya. Perpisahan mereka, disebabkan kepengecutan Teto terjawab sudah. Pun pertemuan mereka kembali yang diatur manis oleh takdir, seolah membuat mau tidak mau Teto menghadapi ketakutan terbesarnya. Melawan dirinya sendiri. Menemukan makna akan misteri hidup yang telah digariskan untuknya.

Tak perlu kematian Atik dan Jana yang memisahkan antara aku dan Elang nanti. Biarkan aku mundur dengan teratur. Dengan menerima kekalahan ini. Kekalahan pada takdir, pada kepongahanku dulu. Biarkan aku menjelma menjadi seekor kupu yang telah siap mewarnai indahnya taman-taman dunia, namun kini mesti kunikmati perihnya menjadi seekor kepompong.

Romo Mangun, tulisan-tulisannya sarat makna, berbobot, dan entah kenapa, kata-kata yang beliau gunakan begitu tajam mengiris cepat membuat yang terluka tak sadar telah mengucurkan darah. Begitu indah beliau menuliskan rollercoaster perasaan dan perilaku manusia.

Ramadhan, tolong aku. Ingin aku diterapi olehmu....